Wawancara COP27: Pemilik Hutan Dunia Harus Memimpin Perundingan Global

Rezza Aji Pratama
10 November 2022, 18:51
Nani Hendiarti
Katadata

Pemerintah Indonesia memperkenalkan kemitraan dengan Brasil dan Republik Demokratik Kongo (RDK), para pemilik hutan hujan tropis terbesar di dunia di ajang COP27. Ide membentuk aliansi strategis ini sudah diinisiasi sejak setahun lalu di COP26 di Glasgow. Program yang disebut ‘Tropical Forest for Climate and People’ itu diinisiasi oleh Kemenko Maritim dan Investasi serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

“Jadi sebetulnya belum resmi launching, baru road to istilahnya,” kata Nani Hendriari, Deputi Menteri Bidang Lingan dan Kehutanan Kemenko Maritim dan Investasi, kepada Katadata.

Di sela-sela pertemuan bilateral yang padat di COP27, Nani bercerita kepada Katadata mengenai ide di balik kemitraan tersebut. Ia menyebut salah satu tujuan utama aliansi ini ingin memperkuat posisi negara-negara pemilik hutan di kancah internasional. Apalagi saat ini Brasil, Indonesia, dan RDK menguasai hampir setengah dari hutan dunia. 

“Jadi tujuan utamanya untuk pendanaan pengelolaan hutan,” kata Nani.

Selain berbincang soal aliansi strategis tiga negara, Nani juga menceritakan soal misi Indonesia memperkenalkan mekanisme blue carbon. Menurut Nani, blue carbon saat ini memang belum masuk dalam perundingan resmi di COP27. Kendati demikian, isu ini sudah mulai dibicarakan di berbagai side event di luar perundingan resmi.

“Potensi blue carbon kita besar sekali. Ini yang mau kita upayakan,” ujarnya.

Pemerintah mengumumkan kesepakatan dengan Brasil dan Republik Demokratik Kongo dalam pengelolaan hutan di ajang COP27, bagaimana statusnya saat ini?

Jadi sebetulnya kemitraan itu belum resmi diluncurkan. Istilahnya baru road to. Kalau berjalan lancar akan diresmi diumumkan dalam waktu dekat, tetapi kita belum tahu kapan. Mungkin masih dalam lingkup COP tetapi setelah COP27 selesai. 

Inisiasi ini mulai dibahas sejak COP26, bagaimana prosesnya?

Ini isunya memang terkait perubahan iklim. Memang saat COP26 di Glasgow tahun lalu, ibu Menteri LHK [Siti Nurbaya Bakar] sudah berbicara dengan perwakilan dari Brasil dan RDK. Kemudian dibahas lebih lanjut tetapi masih di level deputi menteri. Mudah-mudahan akan launching dalam waktu dekat. Jadi ini ini memang inisiatif dari Indonesia. 

Apakah akan diluncurkan saat event G20 di Bali?

Mungkin dekat-dekat itu ya karena ini sangat stategis. Nanti akan ada join statement tetapi kalau sekarang baru sepakat dulu. 

Bagaimana mekanisme kesepakatan itu? 

Prinsipnya adalah partnership dalam kerangka forest for climate, begitu. Konteksnya untuk mitigasi, adaptasi, termasuk aspek investasi. 

Tujuannya untuk perdagangan karbon juga ya?

Nah itu yang masih dibahas, karena di sini juga masih pembahasan awal, belum selesai. Jadi masih menunggu itu. Tapi memang kita maunya adalah pendanaan untuk hutan kita, jangan langsung masuk ke karbonnya. Jadi istilahnya pembiayaan untuk pengelolaan hutan, karena hutan memberikan banyak sekali manfaat.

Saat ini tiga negara sudah bersepakat bergabung di kemitraan, apakah akan melibatkan negara lain?

Pertama tiga negara itu dulu, kemudian kita akan mengundang negara lain yang punya hutan tropis. Jadi termasuk mangrove dan lahan gambut juga. 


Ada negara tertentu yang sedang didekati di COP27 ini?

Kita mulai dari tiga ini dulu, nanti kita bikin kesepakatan bagaimana selanjutnya. Tapi kira-kira kemarin kalau arahannya Pak Menko Marves [Luhut Binssar Pandjaitan] itu ada Peru dan Kongo. Jadi kan ada dua nih, RDK dan Republik Kongo. 

Pemerintah Uni Emirat Arab baru saja mengumumkan kesepakatan Mangrove Alliance dengan Indonesia di COP27, apakah juga terkait kemitraan tropical forrest?

Iya kalau itu memang sudah resmi diluncurkan dan spesifik untuk mangrove. Jadi Indonesia kan memang punya banyak mangrove, sedangkan UAE punya teknologinya. Jadi mereka ingin kolaborasinya lebih dioptimalkan untuk climate fund

Soal apakah UAE akan masuk ke kemitraan IBC [Indonesia, Brazil, Congo] ini memang seharusnya masuk, tetapi harus dilihat juga ke depan. Inisiasi IBC ini memang awalnya antara tiga negara itu sejak COP26 kemudian diperluas jadi ada komponen investasinya. 

Komponen investasi seperti apa yang dimaksud?

Nah itu yang sedang kita jajaki tetapi belum detil di sini. Tapi kira-kita begini, kalau kita bicara mangrove, ada yang namanya ecotourism. Di situ misalnya kita bisa mengembangkan kawasan mangrove menjadi area konservasi dengan pendekatan blue carbon. Nah, blue carbon itu nanti akan dihubungkan ke investasi untuk mengembangkan ecotourism itu sendiri sekaligus menjaga area konservasi.

UAE sudah punya contohnya dan kita sedang membuat pilot project-nya di Kaltara dengan dukungan Bank Dunia. Nanti akan kita umumkan tanggal 14 November di side event G20.

Halaman:
Reporter: Rezza Aji Pratama

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...