Perbankan Perlu Mempertimbangkan Manfaat Layanan Biro Kredit
CEO PT. CRIF Lembaga Informasi Keuangan (CLIK), Leonardo Lapalorcia mengatakan, layanan credit scoring yang disediakan biro kredit menawarkan banyak manfaat. “Database OJK untuk riwayat kredit sangat bagus, tetapi itu dirancang untuk pengawasan, bukan untuk menjalankan bisnis”.
Kehadiran layanan keuangan digital seperti peer-to-peer (P2P) lending dan dompet digital menjadi berkah tersendiri bagi penyedia layanan credit scoring. Dengan munculnya layanan keuangan digital, CRIF Lembaga Informasi Keuangan (CLIK), salah satu perusahaan biro kredit di Indonesia, juga mengalami pertumbuhan yang signifikan.
Sejak 2010, CRIF (sebagai afiliasi perusahaan PT. CLIK) telah beroperasi di Indonesia. Awalnya, mereka adalah perusahaan yang menyediakan menyediakan sistem pemeringkat kartu kredit dan analisis risikonya.
Pada 2019, PT. CLIK mulai beroperasi sebagai biro kredit setelah mendapatkan izin dari OJK. Saat ini, mereka memiliki lebih dari 96 juta data subjek unik individu dan bisnis di database mereka.
Meskipun demikian, masih banyak kendala yang harus diatasi dan kesempatan untuk pengembangan. Berikut wawancara lengkap dari Katadata Insight Center dengan Chief Executive Officer CLIK, Leonardo Lapalorcia.
Apa alasan utama mendirikan biro kredit? Bagaimana perkembangannya sejauh ini?
Menurut Saya, pertumbuhannya masih sangat sedikit, dan itu merupakan masalah besar.
OJK memiliki sistem yang sangat baik sebagai alat pengawasan, yaitu database riwayat kredit yang disebut Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK). SLIK OJK tersedia dan gratis untuk bank. Ada banyak orang yang dipekerjakan untuk memastikan kelengkapan datanya. Oleh karena itu, bank jarang menggunakan jasa biro kredit yang menawarkan credit scoring.
Kendalanya, database SLIK dirancang sebagai alat pengawasan, bukan sebagai alat penunjang bisnis. SLIK tidak memiliki fitur yang diperlukan jika bank ingin mendapatkan tingkat efisiensi yang membantu mereka dalam menjalankan bisnis pinjaman konsumen secara berkelanjutan.
Di SLIK OJK tidak ada Service Level Agreement (SLA). Waktu response bisa 10 menit. Bahkan bisa 40 menit atau tiga jam, dan layanannya bisa down, walaupun bisa dimaklumi karena ini layanan publik. Tidak ada prosedur eskalasi. Hasil pengecekan bisa berupa multiple identities jika ada salah ketik atau banyak hasil nama yang mirip, sehingga prosesnya harus dihentikan dahulu, dianalisis, dan akhirnya beralih ke proses underwriting manual.
Di sisi lain, Biro Kredit menawarkan layanan yang mudah diakses yang tersedia melalui API yang sudah canggih dengan analitik prediktif yang dibangun di atasnya. Database Biro Kredit mencakup 95 persen populasi Indonesia yang memenuhi syarat untuk mengajukan pinjaman.
Saat ini, perusahaan Fintech tidak memiliki akses ke SLIK. Oleh karena itu, mereka banyak menggunakan jasa biro kredit dibandingkan bank.
Tetapi, jika melihat melihat industri kredit, total kredit yang disalurkan oleh perbankan turun, hal ini berbanding terbalik dengan tren fintech, khususnya P2P. Saat ini, tren yang dilakukan bank telah bergeser (Shifting) seperti channeling melalui lembaga atau partner kerjasama lain seperti fintech P2P lending. Namun, pertumbuhannya cenderung lebih lambat dibandingkan layanan utama bank lainnya. Sementara P2P lending dan bentuk pembiayaan lainnya semakin meningkat.
Kami sangat senang dan mendapatkan manfaat dengan perkembangan saat ini. Kami beroperasi sebagai biro kredit secara efektif sejak September 2019. Kami memiliki pertumbuhan yang sangat signifikan pada basis pelanggan kami dan kami masih memiliki banyak ruang untuk pertumbuhan dan ekspansi di masa mendatang.
Meskipun credit scoring menawarkan banyak manfaat, bank cenderung ragu untuk menggunakan layanan credit scoring dari pihak ketiga. Bagaimana tanggapan Anda? Sejauh ini, industri keuangan mana yang paling tertarik menggunakan layanan credit scoring?
Klien terkuat kami saat ini adalah fintech P2P lending. Selain itu, bank digital yang memiliki potensi tinggi, karena mereka benar-benar memprioritaskan customer experience dan mengandalkan teknologi pada proses bisnisnya.
Mereka tahu jika mereka tidak memberikan customer experience yang sempurna, mereka akan kehilangan pasarnya. Tetapi mereka sebagai bank sangat berhati-hati dalam menjalankan bisnisnya. Mereka melakukan banyak pengujian, banyak pengembangan dan mereka melakukan aktivitas pengadaan besar dalam proyek transformasi besar. Namun di sisi lain, mereka sangat menginginkan layanan credit scoring.
Multifinance juga menarik. Perusahaan multifinance memberikan pinjaman konsumen sebagai bisnis utama mereka, berbeda dari bank tradisional yang terutama menghasilkan uang dari bisnis berbasis biaya atau pinjaman korporasi.
Bank tradisional jauh lebih menantang; ketergantungan mereka pada bisnis kredit konsumer tidak begitu dominan seperti pada perusahaan multifinance. Mereka juga memiliki keunggulan kompetitif yang sulit dikalahkan. Misalnya, ketika saya pergi ke tempat terpencil di Maluku Timur, satu-satunya bangunan besar yang bisa saya temukan disana adalah kantor pos dan kantor cabang Bank BRI.
Bagi bank, kehadiran fisik dan hubungan tatap muka dengan nasabahnya itu penting.
Apa cakupan data Anda saat ini untuk data riwayat kredit?
Database kami memiliki lebih dari 96 juta subjek unik individu dan bisnis. Angka ini mendekati jumlah total populasi yang memenuhi syarat untuk mendapat pinjaman. Berdasarkan data pada 2020, jumlah penduduk Indonesia adalah 278 juta orang. Kemudian, kami memfilter orang yang hanya berusia antara 16 tahun dan 65 tahun, yang sudah dianggap dewasa secara hukum (cakap hukum), sehingga total populasi yang memenuhi syarat untuk fasilitas pinjaman hanya sebanyak 134 juta jiwa.
Lalu kami filter dari kemampuan finansialnya. Saat ini, terdapat 7 juta orang yang menganggur dan ada sekitar 30 juta orang yang hidup di bawah garis kemiskinan dengan kurang dari Rp1,5 juta per bulan.
Jika kami mengecualikan semua yang tidak memenuhi syarat (Bukan Usia Produktif & Populasi yang tidak memiliki Pekerjaan) atau tidak memiliki kemampuan finansial, total populasi yang memenuhi syarat untuk mendapat pinjaman adalah sekitar 98 juta orang pada 2020.
Cakupan kami saat ini adalah lebih dari 96 juta subjek unik individu, sekitar 95 persen dari total jumlah tersebut. Selain itu, terdapat data 29 juta subjek bisnis.
Berdasarkan berbagai sumber data, mana yang Anda anggap paling akurat dalam memprediksi credit default (gagal bayar)?
Sekitar 50 persen dari bobotnya adalah pada kinerja kredit, tingkat kedisiplinan debitur dalam membayar pinjamannya. Variabel lainnya adalah jenis fasilitas kredit yang digunakan, lama riwayat kredit, dan atribut demografi sosial. Variabel-variabel ini juga berperan penting dalam credit scoring dan memprediksi gagal bayar.
Apa pendapat Anda tentang alternative credit scoring yang menggunakan data alternatif untuk credit scoring?
Saya pikir terdapat banyak kesalahpahaman pada pelaku di industri pemberi pinjaman dalam memprediksi credit default atau gagal bayar. Mereka mulai mencari data alternatif, namun mereka belum mencapai tingkat pemahaman yang optimal tentang ketersediaan data kredit dan bagaimana memanfaatkan data kredit mereka untuk mendorong proses pinjaman. Mereka langsung masuk ke tahap penggunaan data alternatif.
Sistem biro kredit sangat ketat dan memiliki cakupan yang sangat luas. Kami memiliki kualitas data yang kuat untuk hampir semua klien di berbagai lini bisnis . Jenis data yang kami miliki sangat relevan dengan risiko kredit karena merupakan riwayat pembayaran pinjaman debitur anda. Lebih masuk akal untuk menganalisa dan memprediksi risiko kredit menggunakan data kredit dibandingkan dengan riwayat penggunaan telepon, jumlah kontak, atau jenis aplikasi yang diunduh di ponsel.


