Menanti RI Merdeka dari Pemadaman Listrik, Warga Butuh Perlindungan Riil
Jakarta — Satrio, salah satu peternak ayam di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, secara bertahap menurunkan gundukan besar ayam mati dari atas mobil pikap menggunakan garpu tanah ke halaman depan kantor PLN UP3 Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (29/7/2026). Puluhan petugas polisi bermasker hanya menatap waspada dari dalam halaman kantor.
Sebagian peternak lainnya menjinjing dua hingga tiga ayam di masing-masing tangan untuk menyebarkannya di sepanjang halaman depan kantor tersebut. Tulisan menghias bagian atas gerombolan 'ayam tiren' itu: "Kado untuk PLN." "PLN Peternak Lagi Nangis."
Saat itu, kelompok yang menamakan diri sebagai Aliansi Gerakan Palangka Raya Gelap tersebut sedang berdemo akibat matinya ribuan ayam ternak akibat pemadaman bergilir. Sekitar 1.500 ayam mati dibawa sebagai bentuk protes sekaligus bukti.
Insiden serupa terjadi di Kalimantan Selatan. Pemadaman listrik bergilir mengakibatkan lebih dari 5.000 dari total 8.000-an ekor ayam di sebuah peternakan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) mati kepanasan, Jumat (24/7/2026).
Pambakal (semacam kepala kampung) Aluan Sumur, Kabupaten HST, Nurul Adha, dikutip dari Antara, mengatakan peternakan itu sebenarnya memiliki generator cadangan. Namun, generator rusak dan tidak mampu menghidupkan seluruh kipas blower yang menjadi sistem ventilasi utama kandang.
Iwan Soelistijono, General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (UID Kalselteng), pada Selasa (28/7/2026), beralasan pemadaman bergilir itu akibat gangguan kerusakan pada generator di PLTU Asam-Asam. Di samping itu, dua unit pembangkit milik Independent Power Producer (IPP) mengalami kebocoran pada pipa boiler dan turbin, sehingga kemampuan pasok daya ke sistem menurun.
Kerentanan jaringan listrik
Selain kasus-kasus di Kalimantan itu, pemadaman bergilir juga sempat terjadi di Sumatra pada akhir Mei 2026 dan di sistem Jawa-Bali pada Juni 2026.
Menurut data PT PLN (Persero), angka SAIFI (System Average Interruption Frequency Index/rata-rata frekuensi pemadaman listrik yang dialami pelanggan dalam 1 tahun) 2025 mencapai 3,23. Artinya, setiap pelanggan listrik di Indonesia rata-rata mengalami pemadaman 3,23 kali sepanjang 2025.
Sementara, angka SAIDI (System Average Interruption Duration Index/rata-rata durasi pemadaman listrik dalam satu tahun) 2025 mencapai 8,48 jam/pelanggan.
Direktur Riset dan Inovasi Institute for Essential Services Reform (IESR) Raditya Yudha Wiranegara, dikutip dari situs IESR, Kamis (25/6/2026), mengungkap sejumlah alasan sistem ketenagalistrikan Indonesia masih rentan gangguan. Dan menurutnya, itu bukan cuma soal menambah pembangkit.
Pertama, pertumbuhan jaringan infrastruktur kelistrikan yang belum mampu mengimbangi pertumbuhan konsumsi listrik. Kondisi ini menjadi semakin kompleks ketika risiko cuaca ikut diperhitungkan, seperti kasus di Sumatra.
Kedua, kelistrikan Indonesia masih sangat bergantung pada energi fosil dengan rantai pasok yang panjang dan kompleks. Batu bara, misalnya, bersumber dari Kalimantan dan Sumatera. Sementara, banyak PLTU berada di Jawa. Hal ini turut diperburuk oleh dinamika geopolitik dan fluktuasi harga energi global. Ketiga, lokasi potensi energi terbarukan kerap jauh dari pusat konsumsi listrik, terutama Jawa.
Untuk mengatasi kerentanan sistem listrik nasional itu, Raditya menyarankan sejumlah kebijakan riil yang serempak, mulai dari mengurangi ketergantungan pada energi fosil, memodernisasi jaringan dan aturan teknis ketenagalistrikan, memperkuat perencanaan dan pendanaan jaringan listrik, hingga menambahkan indikator ketahanan sistem dalam KPI ketenagalistrikan nasional.
Kerusakan alat elektronik
Saat pemadaman listrik itu masih terjadi, tak cuma ayam yang jadi korban. Warga Banjarmasin, Kalsel, Hendra, mengaku sejumlah barang elektronik di rumahnya, seperti kulkas dan beberapa bola lampu, mengalami kerusakan total akibat gangguan tegangan yang terjadi secara berulang saat pemadaman bergilir. Sekali pemadaman bisa berlangsung 3 hingga 6 jam.
"Di tempat saya hampir setiap hari padam. Akhirnya ada yang rusak beberapa barang," ujarnya, dikutip dari RRI.
Guru Besar Teknik Elektro di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Machmud Effendy mewanti-wanti efeknya berupa kerusakan perangkat elektronik.
Ia menjelaskan kerusakan tersebut terjadi bukan akibat listrik padam, melainkan ketika aliran listrik kembali menyala akibat adanya lonjakan tegangan yang drastis (power surge).
Saat pasokan listrik pulih, kata Machmud, energi listrik masuk ke dalam komponen dalam jumlah sangat besar di waktu yang amat singkat. Proses ini merusak komponen yang dirancang pada rentang tegangan tertentu.
“Secara umum, yang lebih berpotensi merusak alat elektronik adalah saat listrik kembali menyala. Pada saat jaringan listrik dipulihkan, sering terjadi lonjakan tegangan sesaat yang dapat jauh melebihi tegangan normal 220 volt. Kondisi ini berisiko merusak televisi, komputer, charger, router Wi-Fi, mesin cuci, hingga AC,” terangnya, pada Rabu (24/6/2026), dikutip dari situs UMM.
Menurut dia, pemadaman mendadak juga turut berdampak pada hilangnya data secara masif dan kegagalan sistem saat melakukan proses booting pada perangkat digital seperti komputer dan server.
“Pada perangkat yang sedang menulis data, dampaknya bisa sangat serius. Tidak hanya kehilangan data, tetapi file dapat menjadi rusak, sistem operasi gagal berjalan, hingga terjadi kerusakan fisik pada media penyimpanan seperti hard disk jika kejadian berlangsung berulang,” jelasnya.
Khusus perangkat pendingin seperti AC dan kulkas, Machmud mewanti-wanti tingginya risiko kerusakan tersembunyi. Pemadaman listrik mempercepat penuaan mikroskopis komponen karena perangkat langsung dipaksa bekerja ekstra saat tekanan belum stabil. Kegagalan fungsi pun sering kali baru muncul berminggu-minggu setelah pemadaman terjadi.
“Banyak perangkat tampak normal setelah listrik kembali menyala. Namun, bisa saja komponen di dalamnya telah mengalami kerusakan mikroskopis yang baru menimbulkan masalah di kemudian hari. Karena itu, setiap gangguan listrik sebaiknya dianggap sebagai peristiwa yang serius,” papar dia.
SMC RS Telogorejo, salah satu RS yang menerapkan Building Management System cerdas dalam kelistrikannya. (SMC RS Telogorejo)
Langkah antisipasi
Sebagai langkah antisipasi kerusakan perangkat elektronik dan kerugian akibat pemadaman, para pakar menyarankan sejumlah langkah perlindungan.
Pertama, kata Machmud, cabut steker perangkat elektronik yang sensitif terhadap perubahan tegangan. Kedua, beri jeda 2 - 5 menit sebelum menyalakan alat-alat rumah tangga saat listrik kembali menyala.
Ketiga, pakai perangkat surge protector berkualitas. Alat ini berguna untuk menyerap lonjakan tegangan, menjaga keamanan aset digital, dan memastikan perangkat elektronik berumur panjang.
Keempat, bagi dunia usaha, apalagi sektor vital, gunakan dua level sistem cadangan kelistrikan. Dosen Departemen Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dedet Candra Riawan mencontohkannya dengan pemakaian genset yang menyala setelah listrik PLN mati sebagai backup standby, dan Online UPS (uninterruptible power supply) sebagai backup running yang menjamin suplai daya instan tanpa jeda (zero downtime).
Penggunaan dua level pengamanan itu dilakukan demi menyiasati genset berkapasitas kecil, yang lazim digunakan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), yang punya keterbatasan dalam mengontrol bahan bakar dan regulasi tegangan.
“Lonjakan daya pada genset akan mengalami ketidakstabilan tegangan dan frekuensi yang juga memengaruhi performa barang elektronik yang dialiri daya tersebut,” papar Dedet.
Pemilihan UPS
Untuk mencegah efek buruk pemadaman terhadap alat elektronik itu, teknologi UPS terkini sudah mencakup perlindungan dari lonjakan arus tiba-tiba seperti surge protector.
Mengutip Schneider Electric, perlindungan UPS pada bangunan "memastikan pasokan listrik tanpa gangguan bagi sistem gedung yang vital, serta meminimalkan waktu henti (downtime) dan risiko operasional."
Pembahasan kemudian berkembang hingga pemilihan UPS terpusat atau terdistribusi. Schneider menyebut ini amat bergantung pada skala bangunan dan kompleksitas kebutuhannya. Tujuannya adalah efisiensi biaya listrik dan peralatan elektronik.
Rumah Sakit, contohnya. Bangunan ini bisa menggunakan UPS terpusat untuk melindungi penerangan darurat. Namun, sudah menjadi praktik umum bagi setiap ruang operasi atau ruang MRI untuk memiliki UPS khusus yang terpisah, mengingat betapa krusialnya area-area tersebut.
Situasi serupa juga ditemukan di lingkungan ritel. Penerapan sistem UPS terdistribusi sering dilakukan untuk melindungi sistem kasir. Sementara, unit terpusat digunakan untuk melindungi sistem pencahayaan dan fasilitas pendingin (HVAC) di area tersebut. Hal yang sama dapat diterapkan di peternakan ayam dan UMKM sejenis.
“Efisiensi energi bukan sekadar mengurangi konsumsi listrik, tetapi memastikan energi digunakan secara tepat tanpa mengorbankan keandalan, keselamatan, dan kenyamanan pengguna," kata Reza Syarif, Business Vice President for Buildings, Schneider Electric Indonesia.
"Hal ini membutuhkan pendekatan yang terintegrasi dan berbasis data, mulai dari memahami kondisi bangunan hingga mengoptimalkan sistem kelistrikan, otomasi, dan pengelolaan operasionalnya," tutupnya.


