AFJ Dorong Kolaborasi Guna Perkuat Rantai Pasok Telur Bebas Sangkar
Transisi menuju penggunaan telur bebas sangkar (cage-free) membutuhkan kesiapan rantai pasok agar komitmen perusahaan dapat diterapkan secara konsisten dalam operasional bisnis.
Hal tersebut menjadi fokus Corporate Roundtable Discussion 2026 yang diselenggarakan Animal Friends Jogja (AFJ) di Novotel Suites Malioboro, Yogyakarta, Kamis (22/10/2026).
Forum yang mengusung tema Beyond Commitment: Corporate Insights and Collaboration for Responsible Sourcing menjadi wadah yang mempertemukan perusahaan, produsen telur bebas sangkar, pemerintah, dan organisasi kesejahteraan hewan.
Diselenggarakan secara hybrid, forum tersebut diikuti 40 peserta, terdiri dari 30 peserta luring dan 10 peserta daring.
Ketua Kelompok Substansi Penerapan, Pengawasan, dan Sertifikasi Mutu Hasil Peternakan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Boethdy Angkasa menyampaikan bahwa pemerintah mendukung transisi menuju sistem cage-free. Menurutnya, sistem ini dapat menjadi bentuk diferensiasi produk yang berpotensi dipromosikan melalui tren gaya hidup sehat.
Adapun dari sisi penyediaan bahan baku, Syamim Shihab dari PT Mega Berlian Utama, menjelaskan bahwa pemenuhan kebutuhan industri memerlukan perhatian terhadap sejumlah aspek. Hal tersebut mencakup kapasitas produksi, harga, kualitas, kontinuitas pasokan, distribusi, serta ketertelusuran dan verifikasi produk.
Selain membahas kesiapan pemasok, forum ini turut menghadirkan pengalaman perusahaan yang telah menerapkan atau menjalani proses transisi menuju penggunaan telur bebas sangkar.
Marketing Communication Manager Garrya Bianti Yogyakarta Fredeswinda Sukma memaparkan praktik pengadaan telur bebas sangkar melalui kemitraan dengan kelompok peternak lokal dan komunitas perempuan.
Sementara itu, Dinda Paramitha selaku Vice President Operation Dough Lab, menjelaskan strategi transisi yang diterapkan dalam jaringan operasional perusahaannya. Strategi tersebut mencakup pemilihan dan verifikasi pemasok, standardisasi kualitas, serta upaya menjaga konsistensi pasokan dan distribusi.
Dari perspektif pengadaan bahan baku, Tri Widiantoro dari Chocolate Monggo menekankan pentingnya menjadikan praktik pengadaan yang bertanggung jawab sebagai bagian dari strategi bisnis. Upaya tersebut juga perlu diiringi dengan edukasi kepada konsumen.
“Pengadaan bahan baku yang bertanggung jawab perlu menjadi bagian dari strategi bisnis, bukan sekadar beban tambahan bagi perusahaan,” ujar Tri.
Tantangan Utama Implementasi Cage-Free
Tiga tantangan utama dalam penerapan telur cage-free meliputi, keterbatasan pasokan dan informasi mengenai peternakan cage-free, rendahnya kesadaran masyarakat, serta harga telur bebas sangkar yang relatif lebih tinggi dibandingkan telur dari sistem kandang baterai.
Untuk mengatasi kendala pasokan, perusahaan yang telah berkomitmen membagikan pengalaman menjalin kerja sama dengan lebih dari satu peternak. Langkah ini dapat menjadi salah satu upaya menjaga ketersediaan telur untuk memenuhi kebutuhan operasional.
Di sisi lain, peningkatan kesadaran konsumen dinilai perlu didorong melalui penyebarluasan informasi yang relevan dan mengikuti perkembangan zaman. Sementara itu, penerapan komitmen penggunaan 100 persen telur bebas sangkar dapat dilakukan secara bertahap untuk membantu perusahaan menghadapi tantangan harga dan kesiapan pasokan.
AFJ menilai penguatan komunikasi dan kolaborasi antara perusahaan, pemasok, pemerintah, serta pemangku kepentingan lainnya diperlukan agar komitmen penggunaan telur bebas sangkar dapat diterjemahkan menjadi langkah konkret yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.
Transisi ini juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan ayam petelur. Sistem bebas sangkar memungkinkan ayam bergerak lebih leluasa dan mengekspresikan perilaku alaminya dibandingkan sistem kandang baterai.
Direktur Program Advokasi Kesejahteraan Hewan yang Diternakkan Animal Friends Jogja, Elly Mangunsong, menegaskan bahwa komitmen perusahaan perlu disertai target yang jelas dan perkembangan implementasi yang dapat dipantau.
“Komitmen terhadap telur bebas sangkar merupakan langkah awal. Tantangan berikutnya adalah memastikan komitmen tersebut benar-benar diterapkan dalam praktik, dengan target yang jelas dan perkembangan yang dapat dipantau. Karena itu, diperlukan keterbukaan, kolaborasi, dan langkah yang konkret dari berbagai pihak agar perubahan dalam rantai pasok juga membawa dampak nyata bagi kesejahteraan ayam petelur,” ujar Elly.
Melalui forum ini, AFJ mendorong perusahaan dan para pemangku kepentingan untuk memperkuat kerja sama dalam membangun rantai pasok telur bebas sangkar yang andal.
Dengan kesiapan pasokan, transparansi, dan strategi transisi yang terencana, komitmen perusahaan diharapkan dapat diwujudkan secara konsisten sekaligus mendukung peningkatan kesejahteraan ayam petelur di Indonesia.
