Potensi Pasar Alutsista Asia Tenggara

Oleh Aria W. Yudhistira, 2/11/2016, 10.31 WIB

Dalam lima tahun terakhir, belanja pertahanan Indonesia tumbuh paling tinggi sebesar 58 persen, dan disusul Vietnam sebesar 45 persen.

Unduh Infografik
Share

Meningkatkan ketegangan di Laut Cina Selatan diprediksi bakal mendorong belanja pertahanan di kawasan Asia Pasifik dalam lima tahun ke depan. Menurut IHS Jane, total belanja pertahanan di Asia Pasifik akan mencapai US$ 533 miliar (sekitar Rp 6.968 triliun) pada 2020 atau naik sebesar 23 persen dari total anggaran pada 2015. 

IHS Jane menilai ada pergeseran lanskap belanja militer dunia dari negara-negara maju di Eropa dan Amerika Utara ke negara-negara dengan pasar yang sedang berkembang, terutama di kawasan Asia. Sejumlah negara, termasuk di Asia Tenggara, berupaya memodernisasikan peralatan militernya. Ini mengingat, negara-negara di kawasan bersentuhan langsung dengan Laut Cina Selatan yang situasi panasnya belum terlihat akan berakhir. 

Pada 2015, berdasarkan laporan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), belanja militer negara-negara Asia Tenggara mencapai US$ 42,2 miliar (sekitar Rp 551 triliun) dengan pertumbuhan rata-rata per tahun (CAGR) 5 persen dalam kurun 15 tahun terakhir. Indonesia dan Vietnam adalah dua negara dengan pertumbuhan belanja pertahanan paling besar di Asia Tenggara. 

Dalam lima tahun terakhir, belanja pertahanan Indonesia tumbuh paling tinggi sebesar 58 persen, dan disusul Vietnam sebesar 45 persen. Pada 2015, belanja militer Indonesia mencapai US$ 8,07 miliar (Rp 105 triliun). Jumlah itu di bawah Singapura sebesar US$ 10,2 miliar (Rp 133 triliun).