Faktor Laten Penyebab Defisit Transaksi Berjalan

Oleh Aria W. Yudhistira, 12/2/2019, 10.50 WIB

Tingginya impor minyak telah menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kinerja perdagangan tertekan.

Neraca Transaksi Berjalan
Unduh Infografik
Share

Neraca transaksi berjalan melanjutkan defisit yang sudah terjadi sejak 2012. Pada 2018, defisit mencapai US$ 31,1 miliar atau 2,98 persen terhadap PDB. Secara nominal, defisit 2018 merupakan terbesar sepanjang masa. Tapi berdasarkan rasionya masih lebih rendah dari 2014. Ada sejumlah faktor laten penyebab neraca mengalami defisit setiap tahun.

Pertama adalah defisit neraca minyak. Tingginya impor minyak telah menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kinerja perdagangan tertekan. Apalagi Indonesia telah menjadi net-importer minyak sejak 2004.

Di neraca jasa, Indonesia pun mengalami defisit tahunan. Beberapa sektor jasa yang menyebabkan defisit antara lain transportasi, pemeliharaan dan perbaikan, keuangan, penggunaan hak cipta, dan jasa TIK. Adapun sektor pariwisata merupakan yang paling diandalkan untuk menambal defisit dari sektor-sektor jasa lain. Pada 2018, neraca pariwisata surplus US$ 5,3 miliar.

Terakhir, penyebab defisit transaksi berjalan adalah neraca pendapatan primer yang terdiri dari dua komponen, yakni kontribusi tenaga kerja dan investasi. Di sektor tenaga kerja, devisa yang dihasilkan tenaga kerja di luar negeri tidak mampu menambal aliran dana keluar yang dihasilkan tenaga kerja asing. Pada 2018, sektor tenaga kerja defisit US$ 1,5 miliar. Begitupula dari pendapatan investasi yang masih minus US$ 2,9 miliar.