Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan surplus perdagangan masih bertahan selama 72 bulan berturut-turut, namun kualitas surplusnya melemah sehingga tidak cukup kuat menopang rupiah.
Ekspor Indonesia cetak rekor, namun fondasinya rapuh karena lebih dari separuhnya masih bergantung pada siklus harga komoditas primer, belum bertumpu pada manufaktur bernilai tambah tinggi.
Surplus neraca perdagangan anjlok dibandingkan Februari 2025 yang mencapai US$ 3,12 miliar seiring kinerja impor yang melesat 10,85% secara tahunan saat ekspor hanya naik 1,01%.
Data BPS 2025 menunjukkan surplus dagang Indonesia melonjak, dengan pertumbuhan impor yang moderat didorong investasi, menandai pergeseran struktur ekonomi.
Pada September 2025, Indonesia mencetak surplus neraca perdagangan US$ 4,34 miliar, menandai 65 bulan surplus beruntun, didorong oleh ekspor komoditas nonmigas.