INFOGRAFIK: Teknologi AI Warnai Serangan AS ke Iran
Pemerintah Amerika Serikat (AS) diduga menggunakan akal imitasi (AI) generatif Claude dari Anthropic dalam serangan militer ke Venezuela dan Iran. Penggunaan AI itu disebut dilakukan via perangkat lunak intelijen Palantir Technologies yang dikontrak oleh AS.
Narasumber anonim Wall Street Journal, sebagai media pertama yang memberitakan ini, menyebutkan penggunaan AI oleh Palantir meliputi analisis data intelijen, pemilihan target prioritas, hingga simulasi medan perang.
Setelah kabar tersebut beredar, CEO Anthropic Dario Amodei mengumumkan penolakannya terhadap penggunaan Claude untuk keperluan militer meliputi keperluan pengawasan domestik hingga pemrograman senjata nirawak.
“Anthropic memahami bahwa Departemen Perang, bukan perusahaan swasta, yang membuat keputusan militer. Kami tidak pernah mengajukan keberatan terhadap operasi militer tertentu atau mencoba membatasi penggunaan teknologi kami secara ad hoc,” katanya, 26 Februari lalu
Kontrak pemerintah AS dengan Palantir yang paling baru tertanggal Agustus 2025. Kontrak bernilai US$10 miliar untuk 10 tahun ini dilakukan untuk pengembangan sistem pelacakan, analisis dan prediksi militer.
Selain AS, Inggris mengontrak Palantir sebesar 240 juta Euro pada Desember 2025 untuk pengembangan sistem analisis dan strategi militer. Sejak 2014, Israel membangun kemitraan dengan Palantir untuk pengembangan AI penunjang perang dengan nilai kontrak yang tidak dipublikasikan.
