KOMIK: Bocor Diburu, yang Mengkritik Diblokir
Kebocoran dokumen rencana perjalanan dinas Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo ke Amerika Serikat (AS) berujung panjang. Awalnya, kebocoran menjadi perdebatan karena munculnya nama istri dan anak Dody dalam perjalanan pada 13-19 Juli 2029 tersebut.
Kritik berdatangan dari masyarakat yang menilai hal tersebut salah satu bentuk kesewenang-wenangan jabatan. Akibat keributan ini, Dody pun memastikan batal berangkat ke AS.
Masalahnya tidak berhenti di situ. Usai kebocoran dokumen, informasi mutasi sejumlah pejabat Kementerian PU juga bocor ke khalayak. Dody membantah mutasi tersebut berkaitan dengan kebocoran dokumen, tetapi masyarakat sudah telanjur menganggap mutasi adalah akibat dari kebocoran dokumen.
Pakar kebijakan publik Universitas Gadjah Mada, Agustinus Subarsono, menilai mutasi pejabat publik harus sesuai dengan regulasi yang ada dan harus jauh dari perasaan dendam apalagi sebagai bentuk hukuman.
"Jika mutasi dilakukan dengan prosedur tak wajar maka publik akan membaca mutasi yang waktunya tak jauh dari kebocoran surat itu sebagai hal yang berhubungan," kata Agustinus.
Kasus Lain di Komdigi
Di kasus lain, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) juga memblokir akun @cabinetcouture_idn yang menyoroti fesyen dan aksesoris mewah yang digunakan pejabat pemerintahan. Tidak lama, akun lain dengan username @cabinetcouture_season2 muncul dan membuat unggahan serupa.
Fenomena ini disorot oleh Pengamat Psikologi Sosial dan Perilaku Politik Universitas Padjadjaran, Prof. Zainal Abidin. Menurutnya, komunikasi politik tak lagi menuntut kecakapan berbicara, tapi juga kebijaksanaan memilih simbol-simbol–termasuk busana dan aksesoris–yang mewakili negara di hadapan rakyatnya.
“Sebelum masyarakat menilai program, kebijakan, atau pidato seorang pemimpin, mereka terlebih dahulu membaca simbol-simbol yang ditampilkannya. Busana kemudian menjadi bahasa politik—bahasa yang dapat memperpendek jarak antara pemimpin dan rakyat, tetapi juga dapat memperlebarnya,” kata dia 20 Juli dalam artikelnya di The Conversation Indonesia.
