Beranda Davao del Sur

Oleh , 22/7/2013, 00.00 WIB

Pengaruh Filipina sangat kuat di kawasan pulaupulau perbatasan di Kabupaten Sangihe Para kader penggerak PNPM kerap kerepotanPERAHU kecil itu menjadi moda transportasi andalan warga Matutuang Marore dan pulaupulau lain di Kabupat

Share

KATADATA ? Pengaruh Filipina sangat kuat di kawasan pulau-pulau perbatasan di Kabupaten Sangihe. Para kader penggerak PNPM kerap kerepotan.

PERAHU kecil itu menjadi moda transportasi andalan warga Matutuang, Marore, dan pulau-pulau lain di Kabupaten Sangihe, Sulawesi Utara. Dua cadiknya menjadi senjata andalan melawan ganasnya ombak di kawasan itu. Perahu itu melaju ditenagai mesin kecil berbahan bakar bensin atau solar.
 
Di banyak wilayah Indonesia, moda semacam ini biasa disebut perahu tempel atau kadang kapal klotok karena suara berisik mesin yang berbunyi klotok-klotok itu. Tapi, Kabupaten Sangihe, yang memiliki 105 pulau di wilayahnya, memiliki sebutan sendiri untuk alat transportasi ini. Mereka menyebutnya sebagai pumpboat, mengikuti lidah orang Filipina untuk menyebut perahu bercadik yang ditempeli mesin.

Kabupaten Sangihe terletak di antara ujung Provinsi Sulawesi Utara dan Provinsi Davao del Sur, Filipina. Akibatnya, pengaruh negara tetangga itu tidak bisa dilepaskan. Kabupaten ini hanya berpenduduk kurang dari 150 ribu jiwa. Mereka tersebar di 26 dari 105 pulau di wilayah di ujung utara ini.

Selama ratusan tahun, mungkin ribuan tahun, mereka terbiasa hidup bersama. Dulunya Matutuang hanya pulau kosong untuk singgah. Pulau itu baru menjadi dusun sekitar 1989-an, dan baru menjadi desa pada 2008.

Sebagian penduduk memiliki rumah di Matutuang sekaligus di wilayah Filipina. Bahkan, menurut Recksan Salur, Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD) Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) desa Matutuang, ?Rata-rata WNI (di sini) dilahirkan di Filipina.?

Karena itu, soal bahasa pun mereka masih terbawa. "Kalau sehari-hari, kebanyakan bahasa Filipina," kata Recksan, warga Sangihe yang memiliki ibu berdarah campuran Indonesia-Filipina.

Di wilayah itu, banyak warga yang tidak memahami Bahasa Indonesia. Hal ini kadang membuat para kader penggerak PNPM sedikit kerepotan.

Pulau-pulau di Sangihe dan wilayah perbatasan itu pun berpenduduk sangat sedikit. Di Kecamatan Kepulauan Marore, misalnya, ada 13 pulau dan delapan diantaranya tidak berpenghuni. Penghuni tiga pulau, yaitu Kawio, Marore, dan Matutuang pun total hanya 1.400-an jiwa. Untuk sampai ke Tahuna, ibu kota Kabupaten Sangihe, warga mesti menggunakan perahu selama enam jam.

Di ujung wilayah Indonesia itu, pulau-pulau perbatasan juga mendapat kesulitan infrastruktur lain seperti listrik. Tiga tahun lalu, atas usulan warga, Pulau Matutuang dan Kawio mendapat generator listrik sebagai bagian program PNPM. Generator berkapasitas 22.500 Volt Ampere (Watt) itu digunakan menerangi sekitar 100 rumah selama lima jam mulai pukul 18.00 WITA.

Persoalan kemudian muncul. Kapasitas generator yang hanya 22.500 Watt itu terlalu kecil untuk 100 rumah. Jika satu rumah mendapat jatah 450 Watt saja, dibutuhkan kapasitas generator 45 kilo Volt Ampere. Tidak mengherankan, belakangan mesin rusak. Saat ini warga sedang mengusulkan program agar membeli mesin lebih besar, berkapasitas 40 ribu Volt Ampere.

Di luar itu, listrik juga dihambat oleh cuaca buruk. Jika air laut sedang bergolak, warga terpaksa bergelap-gelapan kembali karena mereka tidak bisa membeli solar untuk bahan bakar.
                                                                                                                                                                                 
Wilayah yang terpencil itu membuat kehidupan warga sangat tergantung pada cuaca dan ekonomi menjadi tidak efisien, sangat mahal. Untuk menyewa pumpboat dari ibu kota kecamatan di Pulau Marore ke Pulau Matutuang, biayanya Rp 800 ribu-1 juta. Sebagai perbandingan, dengan uang sebanyak ini, orang Manado bisa membeli tiket promo pesawat ke Jakarta.

Ada alternatif transportasi yang lebih murah: kapal perintis. Dari ibu kota Kabupaten Sangihe, Tahuna, ke Marore hanya Rp 45 ribu. Sedangkan dari Marore ke Matutuang cukup Rp 7.500. Tapi transportasi murah ini hanya ada dua minggu sekali.

Kapal perintis ini juga membawa bahan makanan ke pulau-pulau kecil itu. ?Dulu ketika belum ada kapal perintis, ketika nelayan tak bisa melaut, kami hanya bisa makan kelapa muda,? katanya. ?Di sana tak ada buah-buahan, hanya kelapa saja karena kontur tanah tak subur.?

Meski kehidupan cukup berat di pulau-pulau perbatasan itu, Recksan mengatakan bekerja di wilayah ini lebih mudah dibanding tinggal di Filipina. ?Penduduk sedikit, masih bisa menjadi nelayan,? kata Recksan, yang sampai lulus sekolah dasar tinggal di kampung ibunya yang masuk wilayah Filipina. ?Jika di Filipina, harus bekerja sekuat tenaga, tak ada subsidi (pemerintah).?
 
Di Kecamatan Kepulauan Marore, karakter cuaca Filipina yang terletak di bibir Samudera Pasifik juga mempengaruhi mereka. Seperti Filipina, mereka kadang ikut tersentuh badai tropis. Saat wilayah selatan Filipina dihantam Topan Bopha pada Februari silam, misalnya, tiga rumah di Pulau Kawio ikut rusak.  
 
Untuk menghadapi ganasnya topan di perbatasan itu, PNPM Mandiri Perdesaan, pada 2009, membangun talud, tembok penahan ombak, sepanjang ratusan meter di sejumlah pulau di Kepulauan Marore. Di Pulau Matutuang saja dibangun talud pantai sepanjang 420 meter.

Infografik Lainnya