Merah Putih Tak Berkibar di Thomas Cup 2020, Ini Komentar Mantan Atlet

Indonesia tidak bisa mengibarkan bendera Merah Putih pada Thomas Cup 2020 karena terkena sanksi WADA (Badan Antidoping Dunia).
Image title
Oleh Lavinda
18 Oktober 2021, 01:49
Thomas Cup, Bendera Merah Putih
bwfmedia/twitter
Tunggal putera Indonesia Jonatan Christie mengalahkan andalan Cina Li Shi Feng sekaligus memastikan Indonesia memenangi Thomas Cup untuk ke-14 kalinya.

Mantan pebulu tangkis nasional menyayangkan bendera Merah Putih tidak dikibarkan ketika tim bulu tangkis Indonesia menjuarai Piala Thomas atau Thomas Cup 2020, di Aarhus, Denmark, Minggu (17/10).

Tim Indonesia merebut Piala Thomas dengan mengalahkan Tiongkok 3-0 pada final yang berlangsung di Ceres Arena, Aarhus, Denmark. Namun, bendera Merah Putih tidak dapat dikibarkan bersamaan dengan berkumandangnya lagu Indonesia Raya karena terkena sanksi WADA (Badan Antidoping Dunia). Sebagai gantinya, bendera PBSI yang dikibarkan.

"Ironis, pada saat merayakan kemenangan Thomas Cup, Merah Putih tidak bisa berkibar, memalukan," ujar mantan pemain ganda putra nasional Candra Wijaya dikutip dari Antara, Minggu (17/10).

Candra Wijaya berpasangan dengan  Tony Gunawan merupakan pemain yang ikut menjuarai Piala Thomas pada 2002, terakhir kali Indonesia memenangi kejuaraan dunia beregu putra tersebut. Keduanya juga menjadi juara Olimpiade Sydney 2000.

Hal senada juga disampaikan juara Olimpiade Athena 2004, Taufik Hidayat. Ia menyayangkan Bendera Merah Putih tidak bisa dikibarkannya di Ceres Arena, Denmark, tadi malam. Dia mengatakan bendera kebangsaan biasanya dikibarkan di luar negeri hanya saat kedatangan presiden atau ada atlet yang juara. 

"Sangat disayangkan, rasanya seperti makan kurang garam. Biasanya kan Merah Putih dikibarkan bersamaan dengan lagu Indonesia Raya," kata Taufik.

Kendati demikian, Taufik memuji para atlet dan ofisial tidak terpengaruh oleh kondisi tersebut dan tetap fokus bertanding.

"Saya yakin mereka sudah tahu kondisi ini, tetapi bagus mereka tidak terpengaruh. Biar masalah ini negara yang mikirin," ujar Taufik.

Maka itu, Taufik yang juga menjadi anggota tim saat Indonesia juara Piala Thomas 19 tahun lalu itu berharap pemerintah segera menyelesaikan masalah sanksi WADA tersebut.

"Saya berharap ini bisa cepat selesai. Pemerintah harusnya malu, dulu gembar-gembor ingin jadi tuan rumah Piala Dunia, tuan rumah Olimpiade, tapi mengurus seperti ini saja enggak bisa. Jangan sampai kita kayak Rusia," ujarnya pula.

Sebelumnya diberitakan bahwa Indonesia, Korea Utara, dan Thailand dinyatakan tidak patuh oleh Badan Antidoping Dunia (WADA), sehingga dijatuhi sanksi.

Salah satu sanksinya adalah atlet dari tiga negara tersebut masih diizinkan turun di kejuaraan regional, kontinental, dan dunia, namun tidak bisa mengibarkan bendera nasional selain di olimpiade.

Indonesia menjuarai turnamen bulu tangkis Thomas Cup 2020 usai mengalahkan juara bertahan Tiongkok. Gelar tersebut diperoleh Indonesia setelah 19 tahun lamanya. Skuad Garuda terakhir kali menjuarai Thomas Cup pada 2002 lalu setelah mengalahkan Malaysia 3-2 di Guangzhou, Tiongkok.

Thomas Cup telah digelar sebanyak 31 kali sejak 1949. Selama itu, baru ada lima negara yang menjuarai kompetisi olahraga bulu tangkis bergengsi tersebut.

Indonesia menjadi negara dengan raihan trofi juara terbanyak di Thomas Cup, yakni 14 gelar. Setelahnya, ada Tiongkok dengan 10 gelar, Malaysia 5 gelar, serta Jepang dan Denmark masing-masing 1 gelar.

Sebelumnya, Indonesia meraih Thomas Cup pada tahun 1958, 1961, 1964, 1970, 1973, 1979, 1984, 1994,1996, 1998, 2000, dan 2002.

Indonesia sempat merajai Thomas Cup pada periode 1990an hingga awal 2000an. Namun, Indonesia kering gelar sejak itu dan terus mengalami kegagalan untuk mengembalikan Thomas Cup ke tanah air. Terakhir kali Indonesia menjuarai Thomas Cup adalah pada 2002, di mana tim Merah Putih diperkuat Taufik Hidayat, Candra Wijaya, dan Sigit Budiarto. 

Reporter: Antara
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait