Anak Usaha Grup Bakrie Pasok 100 Bus Listrik Transjakarta Tahun ini

Bakrie and Brothers, melalui anak usaha Bakrie Autoparts akan menyediakan bus listrik yang memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 30%.
Image title
25 Juni 2021, 19:30
Bakrie, Grup Bakrie, Bakrie Autoparts, bus listrik
Instagram/Anies Baswedan
Ujicoba bus listrik karya Bakrie Autoparts untuk Transjakarta di Balaikota DKI Jakarta, April 2019.

PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), melalui anak usahanya PT Bakrie Autoparts bakal memasok 100 unit bus listrik untuk digunakan oleh Transjakarta pada 2021. Sebanyak 20 unit di antaranya, sudah siap digunakan pada Juni 2021.

Presiden Direktur Bakrie & Brothers Anindya Novyan Bakrie mengatakan, unit yang akan diproduksi ini akan berupa Completely Knocked Down (CKD) yang akan dirakit oleh perusahaan perakitan (karoseri) lokal.

Spesifikasi dan kapasitas bus yang digunakan tersebut memiliki lantai rendah (low deck). Rencananya, bus listrik tersebut digunakan untuk penggunaan di rute-rute Transjakarta yang sudah ada.

Bus listrik ini memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 30%. "Ke depannya, kami berharap dengan industrialisasi, local content bisa menjadi mayoritas pada bus listrik yang kami sediakan," kata Anindya dalam konferensi pers, Jumat (25/6).

Advertisement

Anindya mengatakan, salah satu cara untuk meningkatkan komponen lokal tersebut, emiten bidang usaha perdagangan dan penyertaan tersebut berencana melakukan groundbreaking fasilitas kendaraan listrik di atas lahan seluas 5 hektare di Bakauheni, Lampung pada akhir tahun ini. Pembangunan fasilitas perakitan (assembly line) ini diperkirakan memakan waktu 6 bulan dengan nilai investasi sekitar US$ 50 juta.

Sementara itu, untuk besaran modal kerja yang disiapkan untuk mengembangkan proyek bus listrik ini memakan biaya sekitar US$ 30 juta. "Kami membuat pabrik untuk bisa melakukan import substitution dari segi komponen-komponennya," kata Anindya.

Selain itu, untuk meningkat TKDN, Bakrie juga menjalin kerja sama dengan produsen dan penyedia pengisi daya (charger) dari perusahaan dalam negeri. Produsen stasiun pengisian daya yang digandeng, sudah siap untuk produksi massal dan sudah memenuhi aturan kelistrikan yang berlaku.

Bisnis bus listrik Bakrie ini dimulai sejak 2018 dengan menjalin kerja sama dengan perusahaan asal Tiongkok, BYD Auto untuk mengembangkan industri bus listrik di Indonesia. "Ini proyek B2B, dimulai dari kerja sama kami dengan BYD, yang adalah saingan Tesla di Tiongkok," kata Anindya.

Bakrie dan BYD menyepakati 4 tahap pengembangan serta produksi bus listrik ke depan. Tahap pertama, melakukan impor bus dan unjuk produk. Tahap kedua, penetrasi pasar.

Tahap ketiga, melakukan komersialisasi awal dan manufaktur. Tahap keempat, komersialisasi penuh. “Kami menyebut inisiatif kami di bus listrik ini sebagai project VEKTR," kata Anindya.

Bus listrik Bakrie Autoparts-BYD adalah bus listrik yang telah lulus seluruh ketentuan proses homologasi dan pemenuhan seluruh ketentuan legalitas, dan teknis. Sehingga, bus listrik tersebut sudah diuji coba secara komersial oleh Transjakarta.

Anindya mengatakan, Bakrie memang mulai fokus untuk mengembangkan sektor sustainable energy sebagai bagian dari upaya memasuki bisnis masa depan yang berkelanjutan. Padahal, selama ini lebih banyak mengandalkan industrialisasi sebagai sumber pertumbuhannya.

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Lavinda
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait