Adhi Commuter Properti Targetkan Pendapatan dan Laba 2021 Tumbuh 15%

Berdasarkan laporan keuangan Adhi Commuter, pendapatan tercatat susut 3,98% selama paruh pertama 2021 menjadi Rp 201,02 miliar dari realisasi periode yang sama tahun lalu senilai Rp 209,36 miliar.
Image title
12 November 2021, 18:23
Adhi Commuter, Adhi Karya, IPO
ANTARA FOTO/ Reno Esnir/foc.
Suasana proyek pembangunan LRT di Jakarta, Rabu (10/9/2021).

PT Adhi Commuter Properti menargetkan pertumbuhan pendapatan dan laba tumbuh pada kisaran 10% - 15%pada akhir 2021 dibandingkan capaian tahun lalu. Pergeseran beban usaha akibat perubahan strategi bisnis perseroan dinilai akan menjadi pendorong utamanya. 

Selain itu, perseroan akan mendapatkan pemasukan dari penyelesaian dua proyek, yakni Cisauk Point dan Adhi City Sentul. Seperti diketahui, Cisauk Point merupakan proyek residensial bertingkat, sedangkan Adhi City Sentul adalah proyek residensial rumah tapak. 

"Masih optimis pendapatan dan laba tumbuh 10%-15% dibandingkan tahun lalu karena ada dua proyek kami yang (akan) serah terima di akhir tahun," kata Direktur Keuangan Adhi Commuter Properti Mochamad Yusuf di Jakarta, Jumat (12/11/2021). 

Perseroan akan melakukan serah terima Tower Sapphire pada Desember 2021, setelah melakukan penutupan atap (topping off) per Juli 2021. Tower itu merupakan bagian dari enam tower yang tergabung dalam CIsauk Point. 

Secara rinci, Cisauk Point akan berjumlah enam tower yang terdiri dari empat tower non subsidi, yakni Sapphire, Amethyst, Ruby, dan Diamond dengan tinggi 24 lantai sebanyak 2.001 unit, dan dua tower bersubsidi, yakni Jasper dan Agate dengan tinggi 19 lantai sebanyak 640 unit.

Sementara itu, proses pembangunan Adhi City Sentul telah mencapai level 85%. Adhi City Sentul memiliki total luas sekitar 120 hektar. 

"15% lagi dikerjakan secara bertahap," kata Yusuf. 

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, pendapatan tercatat susut 3,98% selama paruh pertama 2021 menjadi Rp 201,02 miliar dari realisasi periode yang sama tahun lalu senilai Rp 209,36 miliar. Alhasil, penurunan beban di hampir seluruh kolom membuat laba tahun berjalan meroket hampir 90 kali dari capaian Januari-Juni 2020 sekitar Rp 375 juta menjadi Rp 33,93 miliar. 

Penyusutan beban terbesar terjadi pada kolom beban pokok pendapatan atau sebesar 23,82% menjadi Rp 150,21 miliar. Yusuf menjelaskan penurunan beban itu karena perubahan produk yang dijual perseroan. 

Pada paruh pertama 2020, sebanyak 80% pendapatan datang dari properti komersial yang notabenenya memiliki beban yang tinggi. Sebaliknya, 80% pendapatan pada paruh pertama tahun ini datang dari properti residensial dengan beban yang berjenjang. Dengan kata lain, beban pokok pada tahun ini bergeser ke produk residensial. 

Yusuf mencatat serah terima proyek pada 2020 hanya mencapai dua unit dan seluruhnya merupakan area komersial. Sementara itu, jumlah proyek yang melalui proses serah terma mencapai 3 unit dan mayoritas merupakan daerah residensial.

Reporter: Andi M. Arief
Editor: Lavinda
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait