Produsen Cat Avian Melantai di Bursa, Harga Saham Berada di Zona Merah

Berdasarkan prospektus Avian, sebanyak senilai Rp 4,3 triliun atau 76,64% dana hasil penerbitan saham perdana akan digunakan untuk modal kerja dan belanja modal.
Image title
8 Desember 2021, 11:00
Avian
ANTARA FOTO/Galih Pradipta/wsj.
Karyawan melintas di dekat layar monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (11/5/2021).

Produsen cat PT Avia Avian Tbk resmi melantai di bursa pada Rabu (8/12) hari ini. Dengan harga penawaran umum perdana saham di level Rp 930, perseroan berhasil menghimpun dana mencapai Rp 5,7 triliun.

Berdasarkan data RTI Infokom, harga saham Avian sempat menyentuh level Rp 970 beberapa saat setelah pembukaan perdagangan. Namun, kemudian bergerak ke zona merah hingga ke level terendah Rp 880. 73 menit perdagangan berjalan, harga saham AVIA melemah 4,84% atau 45 poin ke level Rp 885. 

Investor asing tercatat menyerbu emiten ini dan melakukan pembelian hingga Rp 5 triliun. Sementara itu, pembelian oleh investor domestik hanya sebesar Rp 3,8 triliun. 

Pembelian bersih oleh investor asing mencapai Rp 3,1 triliun yang didorong pembelian di pasar negosiasi dan tunai mencapai Rp 3,2 triliun. Adapun, investor asing melakukan penjualan bersih di pasar regular senilai Rp 62 miliar. 

Advertisement

Perseroan menyatakan proses initial public offering (IPO) sempat mengalami kelebihan permintaan atau oversubscribe. Alhasil, jumlah penawaran perseroan mencapai Rp 10,9 triliun atau US$ 771 juta. 

Artinya, pendaftaran perseroan menjadi yang terbesar di Asia untuk sektor cat dan kedua secara global. Di dalam negeri, pencatatan ini menduduki peringkat ketiga  IPO terbesar sejak 2008. 

"Dengan IO ini, kami memiliki fleksibilitas keuangan dan operasional yang lebih tinggi untuk dapat senantiasa berinovasi dan meningkatkan praktik ESG kami," kata Wakil Presiden Direktur AVIA Ruslan Tanoko dala keterangan resmi, Rabu (8/12). 

Berdasarkan prospektus AVIA, sebanyak senilai Rp 4,3 triliun  atau 76,64% dana hasil penerbitan saham perdana akan digunakan untuk modal kerja dan belanja modal.  

Sisanya, sebanyak, 13,3% dari dana hasil IPO atau Rp 758 miliar akan digunakan untuk pelunasan utang perseroan dan satu anak usaha, yakni PT Tirtakencana Tatawarna (TKTW). Perseroan akan membayar kredit senilai Rp 550 miliar.

Secara rinci, perseroan akan membayar kredit modal kerja dari PT Bank Mandiri senilai Rp 50 miliar dan melunasi fasilitas kredit berulang tanpa komitmen atau uncommited revolving credit dari PT ank DBS Indonesia senilai 500 miliar.

TKTW akan membayar kredit modal kerja dari Bank Mandiri sebanyak Rp 393 miliar. Adapun, TKTW masih harus melunasi kredit yang tersisa senilai Rp 13 miliar.

Selain itu, TKTW juga akan mendapat suntikan modal kerja sebanyak Rp 1 triliun atau 18,2% dari dana hasil IPO. Anak usaha juga akan mendapatkan dana senilai Rp 85 miliar untuk infrastruktur digital, peralatan kantor, dan kendaraan operasional.

Secara akumulasi, TKTW akan mendapatkan dana senilai Rp 1,5 triliun atau 26,59% dari dana hasil IPO melalui skema penambahan modal.

TKTW berkontribusi sekitar 59,3% dari total liabilitas perseroan. Adapun, aset yang dimiliki TKTW menyumbang 42,9% dari total aset AVIA. Selain itu, 18% pada penjualan bersih perseroan pada Januari-Mei 2021. Sementara itu, kontribusi TKTW ke laba sebelum pajak mencapai 20,2%.

Reporter: Andi M. Arief
Editor: Lavinda
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait