GoTo Catat Rugi EBITDA Rp 3,7 Triliun, Susut 11% pada Kuartal III 2022

GoTo membukukan margin kontribusi positif, didorong oleh kedisiplinan perusahaan dalam mengelola beban usaha secara efisien.
Patricia Yashinta Desy Abigail
21 November 2022, 17:07
GoTo
TIME
GoTo Group

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) membukukan rugi EBITDA yang disesuaikan sebesar Rp 3,7 triliun pada kuartal III 2022. Nilai itu menyusut 11% dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 4,2 triliun.

Direktur Utama Grup GoTo, Andre Soelistyo mengatakan, kerugian EBITDA perusahaan juga tercatat 10% lebih rendah dibanding kuartal sebelumnya yang sebesar Rp 4,1 triliun.

"Dengan demikian, perseroan membukukan perbaikan pada rugi EBITDA yang disesuaikan sebanyak tiga kuartal berturut-turut," ujar Andre, dalam keterangan tertulis, Senin (21/11).

Berdasarkan informasi perusahaan, pendapatan bruto GoTo pada kuartal ketiga tahun ini Rp 5,9 triliun, atau tumbuh 30% secara tahunan (Year on Year/YoY), dengan total nilai transaksi (GTV) Rp 161 triliun atau tumbuh 33% dibandingkan tahun sebelumnya. 

Advertisement

Margin kontribusi Grup GoTo pada kuartal ketiga 2022 lebih baik 43% dibanding tahun sebelumnya, dan 41% lebih baik dari kuartal sebelumnya.

Menurut Andre, perusahaan membukukan margin kontribusi positif, didorong oleh fokus GOTO untuk memberi produk berkualitas kepada pelanggan loyal, serta kedisiplinan perusahaan dalam mengelola beban usaha secara efisien.

Seperti diketahui, pekan lalu, Manajemen GoTo mengumumkan aksi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap 1.300 karyawan atau 12% dari total karyawan perusahaan dengan alasan efisiensi keuangan.

"Perbaikan margin usaha sejalan dengan pertumbuhan pendapatan perseroan yang menunjukkan resiliensi bisnis kami dan kekuatan perekonomian Indonesia,” kata Andre.

Direktur Keuangan Grup GoTo, Jacky Lo menjelaskan, kinerja keuangan GoTo kuartal ketiga tahun ini membuktikan momentum pertumbuhan dan kekuatan model bisnis GoTo.

"Perseroan telah mengambil berbagai langkah untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mempercepat pencapaian target-target pertumbuhan dan profitabilitas. Hasilnya, perseroan mencatatkan pertumbuhan secara konsisten," ujar Jacky.

Dia menambahkan, ketidakpastian kondisi makroekonomi global yang dipicu peningkatan inflasi, suku bunga, harga bahan bakar minyak, dan energi, mendorong perseroan untuk tetap menerapkan prinsip kehati-hatian, dengan fokus pada optimalisasi beban usaha.

"Sepanjang kuartal ketiga kami telah mengurangi belanja insentif, menghapus belanja promosi untuk kelompok konsumen nonaktif, dan terus menurunkan belanja pemasaran serta terus mengoptimalkan pengurangan beban biaya, untuk mendukung fundamental perseroan,” paparnya.

 

Editor: Lavinda
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait