Polusi Tak Kasat Mata: Nafas & DBS Foundation Beberkan Risiko Ruang Merokok

Ardhia Annisa Putri
Oleh Ardhia Annisa Putri - Tim Publikasi Katadata
2 Oktober 2025, 11:11
Nafas Indonesia bersama DBS Foundation dan IYCTC meluncurkan white paper “Ruang Tertutup, Risiko Terbuka: Paparan Tinggi Polusi Udara dari Aktivitas Merokok.
DBS Foundation
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Penelitian terbaru menunjukkan ruang merokok yang ada di dalam ruangan tidak efektif membatasi polusi, tetapi justru meningkatkan risiko kesehatan bagi banyak orang.

Temuan ini dipaparkan dalam white paper “Ruang Tertutup, Risiko Terbuka: Paparan Tinggi Polusi Udara dari Aktivitas Merokok” yang diluncurkan oleh Nafas Indonesia bersama DBS Foundation dan Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC).

Kajian tersebut mengungkap sisi lain polusi udara yang kerap terabaikan, yakni asap rokok di ruang tertutup.

Hasil pengukuran di Jakarta, Bogor, dan Palembang menemukan konsentrasi partikel debu halus PM2.5 di ruang publik jauh melebihi ambang aman. Rata-rata tercatat 96 µg/m³ di tempat hiburan, 78 µg/m³ di restoran, dan 57 µg/m³ di gedung instansi.

Angka ini menggambarkan bahwa polusi tidak berhenti di ruang merokok saja, melainkan tetap menyebar ke area sekitar melalui aliran udara.

Selama ini, diskusi publik tentang polusi udara lebih banyak berfokus pada asap kendaraan dan emisi industri. Padahal, asap rokok juga mengandung partikel halus berukuran 2,5 mikron (PM2.5) yang mampu masuk jauh ke paru-paru hingga aliran darah.

Dampaknya pun tidak bisa disepelekan. Menurut data Air Quality Life Index (AQLI) 2025, paparan PM2.5 dan konsumsi tembakau menjadi dua dari tiga faktor eksternal terbesar yang berkontribusi pada penurunan harapan hidup masyarakat Indonesia hingga dua tahun.

“Ketika bicara polusi udara, banyak orang yang langsung membayangkan asap kendaraan atau industri. Padahal, ada sumber lain yang sering luput, yaitu asap rokok dalam ruangan, yang juga berkontribusi pada kualitas udara dan kesehatan,” ujar CEO Nafas Indonesia, Nathaniel Roestandy dalam keterangan tertulis, Selasa (30/9).

Nathaniel melanjutkan, paparan ini seringkali tidak disadari, tapi dampaknya nyata. Ini bisa menjadi titik awal untuk memperluas diskusi lintas sektor soal bagaimana mengelola ruang untuk lingkungan sehat dan aman bagi semua.

White paper ini juga merangkum sejumlah temuan penting yang memperdalam pemahaman mengenai kualitas udara dalam ruang.

Salah satunya menunjukkan bahwa konsentrasi partikel halus PM2.5 meningkat signifikan di dalam ruangan khusus merokok, terutama jika ventilasi yang tersedia tidak memadai.

Lebih jauh lagi, partikel halus dari aktivitas merokok ternyata dapat menyebar hingga ke ruangan bebas rokok di sekitarnya, sehingga menimbulkan paparan tidak langsung bagi penghuni.

Kondisi ini membuat kualitas udara dalam ruangan justru bisa lebih berisiko dibandingkan udara luar, terutama apabila aktivitas merokok dilakukan di dalam ruangan.

Pemisahan area merokok di dalam gedung tidak menjamin perlindungan bagi orang lain. Partikel halus tetap mampu bergerak dan bercampur dengan udara di area non-merokok.

Dengan kata lain, masyarakat yang tidak merokok tetap berisiko terpapar. Bahkan, dalam kondisi ventilasi buruk, konsentrasi PM2.5 bisa meningkat lebih cepat dan bertahan lebih lama.

Selain itu, IYCTC menilai tata letak ruang merokok menjadi faktor penentu paparan. Menempatkan ruang merokok di dalam gedung terbukti meningkatkan risiko polusi bagi seluruh penghuni.

Sebaliknya, hasil pengukuran di Bali menunjukkan kadar PM2.5 lebih rendah ketika area merokok ditempatkan di luar gedung.

“Hal ini menegaskan bahwa ruang merokok sebaiknya ditempatkan di luar gedung, jauh dari lalu lintas orang dan keramaian, sehingga risiko paparan polusi udara bagi penghuni dan masyarakat sekitar dapat diminimalkan,” tegas Executive Director IYCTC, Manik Marganamahendra.

White paper ini tidak berhenti pada temuan, tetapi juga menawarkan rekomendasi praktis untuk meminimalisir potensi risiko kesehatan akibat paparan polusi udara dari aktivitas merokok di ruang tertutup.

Pertama, mewujudkan ruang yang lebih nyaman dan aman bagi semua orang, terutama anak-anak dengan membatasi paparan asap rokok.

Langkah ini bisa dilakukan dengan menyediakan area merokok di luar ruangan, memasang penanda kawasan bebas rokok yang jelas, serta memastikan adanya pengawasan yang konsisten.

Selain itu, kemudahan akses terhadap informasi publik yang sederhana dan mudah dipahami juga penting untuk meningkatkan kesadaran serta menciptakan rasa nyaman bersama.

Upaya lain yang tak kalah penting adalah memastikan ventilasi ruangan tetap baik, rutin memantau kondisi udara, dan menerapkan gaya hidup sehat. Tindakan sederhana ini dapat membantu mengurangi risiko kesehatan akibat polusi.

Dengan keterlibatan aktif dari semua pihak, rasa tanggung jawab akan tumbuh, membuka jalan menuju ruang hidup yang lebih sehat sekaligus berkelanjutan.

DBS Mitra Terpercaya untuk Memperluas Dampak Sosial
DBS Mitra Terpercaya untuk Memperluas Dampak Sosial (DBS Foundation)

Bagi DBS Foundation, keterlibatan dalam kajian ini mencerminkan komitmen terhadap misi keberlanjutan. Sebagai lembaga yang mendukung wirausaha sosial, DBS Foundation menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menghadirkan dampak nyata.

“Sejalan dengan aspirasi Bank DBS Indonesia sebagai ‘Best Bank for a Better World’, kami percaya bahwa menghadirkan dampak positif tidak hanya melalui layanan finansial, tetapi juga lewat dukungan terhadap inisiatif untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” kata Head of Group Strategic Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika.

Sebagai penerima DBS Foundation Grant Program 2023, Nafas membuktikan bahwa wirausaha sosial mampu menghadirkan solusi berkelanjutan melalui perpaduan inovasi teknologi dan kepedulian sosial.

Peluncuran kajian terbaru ini menjadi tonggak kerja sama kedua antara Nafas dan DBS Foundation, setelah sebelumnya bersama Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) merilis white paper mengenai polusi udara dan pneumonia pada anak.

Dukungan dana hibah dari DBS Foundation turut memperkuat kolaborasi tersebut dengan pendekatan berbasis teknologi dan data, sehingga melahirkan solusi kesehatan yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat.

White paper “Ruang Tertutup, Risiko Terbuka: Paparan Tinggi Polusi Udara dari Aktivitas Merokok”, dapat diakses melalui laman ini.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan