Jejak Perjalanan Cheng Ho di Indonesia, Tinggalkan Sejarah dan Budaya

Ratu Monita
Oleh Ratu Monita - Tim Publikasi Katadata
14 Agustus 2026, 10:08
Sejumlah peserta kirab menampilkan pertunjukkan tarian naga setibanya di Klenteng Sam Poo Kong pada Festival Arak-arakan Cheng Ho 2025, Semarang, Jawa Tengah, Minggu (27/7/2025). Festival tradisi kirab yang diselenggarakan setahun sekali sebagai agenda ta
ANTARA FOTO/Makna Zaezar/nz
Sejumlah peserta kirab menampilkan pertunjukkan tarian naga setibanya di Klenteng Sam Poo Kong pada Festival Arak-arakan Cheng Ho 2025, Semarang, Jawa Tengah, Minggu (27/7/2025). Festival tradisi kirab yang diselenggarakan setahun sekali sebagai agenda tahunan Kota Semarang tersebut diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah yang dimulai berjalan dari Klenteng Tay Kak Sie menuju Klenteng Sam Poo Kong untuk perayaan menyambut kedatangan Sam Poo Tay Djien atau Laksamana Cheng Ho ke-620.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Cheng Ho merupakan seorang laksamana dari Dinasti Ming yang disebut menjadi pemimpin pelayaran terbesar sepanjang sejarah manusia. Ia membawa lebih dari 200 kapal dengan misi perdamaian, tidak ada penjajahan, kekerasan, atau tindak kejahatan. 

Sosok Cheng Ho dikenal sebagai diplomat ulung yang mampu membangun hubungan multilateral dengan beberapa kerajaan dunia. Selain itu, ia juga dikenal sebagai penyebar agama Islam. 

Perjalanannya dibagi menjadi tujuh periode ekspedisi, yang dimulai sejak tahun 1405 sampai dengan 1433. Dalam tujuh periode tersebut, Cheng Ho berhasil mengunjungi lebih dari 30 negara. Negara tersebut rata-rata berkawasan di Asia Tenggara, Samudra Hindia, Laut Merah, Afrika Timur, dan lainnya.

Selama ekspedisi, Indonesia menjadi salah satu tempat yang ia singgahi. Jawa menjadi tempat yang paling sering dikunjungi olehnya. Dalam persinggahannya ke Indonesia,  Cheng Ho membawa misi diplomasi, memperkuat perdagangan, dan menjaga keamanan jalur pelayaran.

Mengutip dari Lembaga Bahasa Internasional FIB UI, kunjungan Cheng Ho di Nusantara berakhir pada tahun 1430 saat ia menginjak usia 60 tahun. Kemudian, di tahun 1433 ia meninggal dan menutup kisah perjalanannya. Merangkum dari berbagai sumber, berikut sejumlah wilayah yang dikunjungi Cheng Ho. 

Palembang

Mengutip dari laman Indonesia Kaya, dalam Catatan Zheng He, yang diterjemahkan W.P Groeneveldt dengan judul Nusantara dalam Catatan Tiongkok, Cheng Ho datang ke Palembang pada ekspedisi pertamanya. 

Dalam kunjungan tersebut, ia memburu Chen Zuyi, orang Guangdong, yang menguasai Palembang sebagai perompak. Misi itu berhasil. Cheng Ho kembali ke Tiongkok untuk menyerahkan perompak itu kepada kaisar. Chen Zuyi kemudian dipenggal di pasar di ibukota.

Menurut arkeolog Uka Tjandrasasmita dalam Arkeologi Islam Nusantara, tindakan Cheng Ho menumpas bajak laut itu dengan sendirinya merupakan jasa pengamanan bagi kegiatan pelayaran dan perdagangan keluar-masuk kota pelabuhan dan kota Palembang.

Cirebon

Laksamana Cheng Ho mengunjungi Cirebon bersama rombongannya dengan membawa armada besar ke Pelabuhan Muara Jati untuk menjalin hubungan perdagangan dan menyebarkan Islam. 

Ekspedisi ini berperan penting dalam akulturasi budaya setempat dan meninggalkan pengaruh signifikan di kawasan pesisir Cirebon.

Salah satu peninggalan Cheng Ho yang bisa dilihat adalah reruntuhan mercusuar yang berada di puncak bukit Amparanjati atau orang keraton biasa menyebut lemah puser atau Puser Bumi yang sekarang dikeramatkan. 

Semarang

Semarang juga menjadi salah satu kota yang dikunjungi Cheng Ho selama di Nusantara. Dalam persinggahannya, Cheng Ho membangun klenteng yang bernama Sam Poo Kong atau juga dikenal sebagai Klenteng Gedung Batu, dikutip dari laman Visit Jawa Tengah.

Setelah beberapa waktu, Cheng Ho meninggalkan Jawa, tetapi banyak krunya memutuskan untuk tetap tinggal dan menetap di daerah itu. Mereka menikah dengan penduduk setempat, dan sampai sekarang, Simongan dihuni oleh keturunan Cina. 

Diketahui di tahun 1704, kuil yang asli runtuh karena tanah longsor. Masyarakat setempat membangunnya kembali 20 tahun kemudian di lokasi yang berbeda, lebih dekat ke pusat kota dan lebih jauh dari daerah yang cenderung mengalami pembusukan oleh unsur-unsur alami.

Bangunan tersebut pun berfungsi baik sebagai tempat ibadah, dan tempat suci menghormati Cheng Ho untuk jasanya kepada masyarakat.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan