Praktisi Ungkap Rasa Aman di Dunia Kerja Tingkatkan Performa Pekerjaan Tim
Rasa aman psikologis di dalam lingkungan kerja merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan efektivitas pekerjaan. Berdasarkan hasil penelitian Project Aristotle yang dilakukan oleh Google, faktor paling berpengaruh terhadap performa tim bukanlah kecerdasan, pengalaman, atau keahlian teknis.
Sebaliknya, performa tim ditentukan seberapa besar anggota tim merasa aman untuk berbicara, mengemukakan ide, serta mengakui kesalahan tanpa takut dihakimi. “Faktor pertama dalam tim agar mereka bisa bekerja efektif itu adalah psychological safety. Bahkan, faktor ini jauh lebih berperan dibanding kemampuan teknis atau tingkat kecerdasan,” ujar Putra Wiramuda, praktisi kesehatan mental dari komunitas Menjadi Manusia, dalam diskusi Katadata Mental Mantul: Bersama Kita Rawat Sesama, di Jakarta Selatan, Jumat (10/10).
Project Aristotle merupakan riset internal Google yang dipimpin oleh Julia Rozovsky untuk memahami apa yang membuat tim bekerja dengan efektif. Hasil penelitian tersebut mengungkap psychological safety menjadi elemen paling krusial bagi kesuksesan tim, di atas struktur, tujuan, maupun peran individu.
Proyek ini dinamai dari kutipan filsuf Yunani Aristoteles, “the whole is greater than the sum of its parts”, yang berarti kerja sama tim dapat menghasilkan hasil yang lebih besar daripada kemampuan individu.
Putra menjelaskan penerapan psychological safety yang baik dapat menghasilkan banyak dampak positif, seperti meningkatnya inovasi, semangat belajar, serta kesejahteraan mental karyawan. Tim yang memiliki rasa aman juga cenderung lebih terbuka, cepat beradaptasi, dan mampu mengelola konflik secara konstruktif.
Lebih lanjut, empat tahapan yang membantu tim merasa aman untuk berinteraksi, belajar, dan berinovasi tanpa rasa takut akan penolakan atau hukuman, sebagai berikut:
Inclusion Safety
Tahap pertama adalah inclusion safety, di mana anggota tim merasa aman untuk menjadi bagian dari kelompok. Pada tahap ini, setiap orang merasa diterima, tidak tersisih, dan dihargai atas keberadaannya.
Learner Safety
Tahap kedua, learner safety, terjadi ketika anggota tim merasa aman untuk belajar dan bertanya. Mereka tidak takut melakukan kesalahan kecil, mengakuinya, serta meminta bantuan ketika dibutuhkan.
Contributor Safety
Selanjutnya, contributor safety membuat anggota tim merasa bebas menyampaikan ide dan pendapat tanpa takut diejek atau dipermalukan. Tahap ini menandai lingkungan kerja yang mulai mendorong partisipasi aktif dan kreativitas.
Challenger Safety
Tahap terakhir adalah challenger safety, yaitu ketika anggota tim berani mengkritisi ide, termasuk yang datang dari atasan, dan mengusulkan perubahan terhadap rencana atau cara kerja yang sudah ada.
Namun, Putra mengingatkan bahwa rasa aman yang berlebihan tanpa keseimbangan dapat menurunkan inisiatif dan tanggung jawab.
“Rasa aman yang sehat justru mendorong pertumbuhan dan keberanian untuk bereksperimen, bukan membuat orang pasif,” kata dia.
Ia memberikan beberapa langkah praktis bagi pemimpin untuk membangun lingkungan kerja yang aman secara psikologis, di antaranya:
- Berani mengakui kesalahan dan menunjukkan kerendahan hati.
- Aktif mendengarkan dan memvalidasi ide anggota tim, meski belum sempurna.
- Memberikan ruang untuk feedback dua arah.
- Menghargai perbedaan pendapat dan menjadikannya sumber inovasi.
- Memberikan apresiasi sederhana, seperti ucapan terima kasih atau senyuman, sebagai bentuk dukungan.
Menurut Putra, penerapan psychological safety bukan sekadar menciptakan kenyamanan, melainkan membangun budaya kerja yang terbuka dan kolaboratif. Lingkungan yang aman secara psikologis akan membuat karyawan lebih produktif, kreatif, serta memiliki kesehatan mental yang lebih baik.
“Kalau orang merasa aman untuk bicara, ide-ide besar akan lahir. Di situlah efektivitas kerja tumbuh,” kata dia.
