Rasulullah dan Abu Bakar, Sahabat dalam Menjaga Arah Iman
Ramadan akan datang kurang dari sebulan lagi. Bulan suci ini kerap dipahami sebagai perjalanan personal di antara manusia dan Tuhan. Dan di dalam praktik, iman butuh dijaga bersama, oleh sahabat, keluarga, atau orang-orang terdekat yang hadir saat keyakinan diuji.
Dalam sejarah Islam, persahabatan Rasulullah SAW dan Abu Bakar menjadi contoh awal tentang arti menjadi partner di dalam menjaga arah iman. Hubungan ini terbangun jauh sebelum kerasulan, dan terus menguat saat Islam mulai disampaikan secara terbuka.
Hubungan Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar menunjukkan bahwa iman tidak hanya tumbuh melalui keyakinan pribadi. Tapi juga melalui dukungan dari sosok yang hadir tanpa menggeser peran utama kenabian.
Abu Bakar adalah salah satu sahabat terdekat, yang sekaligus mertua Rasulullah. Nabi Muhammad SAW pun mengatakan, Abu Bakar adalah satu-satunya yang tak pernah ragu menerima Islam.
Orang yang mengikuti Nabi Muhammad pada awal-awal kerasulan akan berpikir dan mempertimbangkan sampai beberapa waktu sebelum akhirnya masuk. Tapi sebaliknya dengan Abu Bakar.
Guna memahami posisi Abu Bakar dalam perjalanan iman Rasulullah, penting melihat latar belakang pribadi dan relasi keduanya sejak awal.
Sosok Abu Bakar lahir di Kota Mekah pada 573 sebelum masehi. Ia berasal dari keluarga terpandang suku Quraisy. Ayah Abu Bakar, Abu Quhafa, juga dikenal sebagai sosok dengan karakter mulia. Abu bakar tumbuh dalam lingkungan keluarga yang bermartabat dan dihormati.
Sebelum memeluk Islam, Abu Bakar dikenal sebagai orang yang jujur dan berintegritas. Dia adalah pedagang yang sukses dan dihormati karena kejujurannya dalam berbisnis.
Abu bakar juga orang dengan moral baik dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan, bahkan sebelum Islam masuk, yang acap ditandai dengan ketidakjujuran dan korupsi. Akhlaknya yang mulia tersebut, membuat Abu Bakar menjadi sosok yang dipercaya masyarakat Mekah.
Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar bersahabat baik sejak sebelum datangnya wahyu di Gua Hira, Mekah. Kala itu turun wahyu pertama, yakni surat Al-Alaq ayat 1-5 dan menandai dimulainya masa kerasulan.
Setelah menerima wahyu tersebut, Nabi Muhammad SAW mulai menyerukan kepada semua orang agar memeluk Islam.
Abu Bakar sendiri sedang berada di Yaman untuk melakukan aktivitas bisnis ketika pertama kali mendengar kabar Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi rasul. Saat kembali dari Yaman, orang-orang Mekah mengabarkan hal ini kepadanya. Abu Bakar mengkonfirmasi kepada Rasulullah, lantas ia memeluk Islam tanpa keraguan.
Penerimaan Abu Bakar ini membuatnya ditasbihkan sebagai laki-laki dewasa pertama yang memeluk Islam. Adapun, perempuan pertama yang memeluk Islam adalah Khadijah istri Nabi Muhammad SAW.
Salah satu praktik yang dijalankan sebelum Islam hadir adalah mengubur bayi perempuan hidup-hidup. Masa-masa sebelum masuknya Islam ini, disebut dengan masa kebodohan. Praktik ini dihentikan ketika Nabi Muhammad SAW mulai menyebarkan tauhid.
Umat Islam meyakini setiap manusia yang dilahirkan membawa fitrah, mampu membedakan mana yang baik dan buruk serta adanya keingintahuan untuk mengenal penciptanya. Sifat ini, akan menguat pada sebagian orang atau melemah seiring berjalannya waktu.
Di dalam praktiknya, penyebaran Islam di Mekah kerap mendapat penolakan, bahkan tak jarang berujung dengan penyiksaan. Oleh karena itu, Abu Bakar maupun umat Islam lainnya mengikuti pergerakan Nabi Muhammad SAW yang hijrah ke Madinah.
Sosok Abu Bakar begitu spesial, bukan hanya terkait keyakinannya kepada Islam melalui Nabi Muhammad SAW. Tapi juga melihat keteguhan diri dalam memberikan dukungan kepada Rasulullah pada awal menyebarkan Islam.
Tak seperti orang-orang pada umumnya yang memeluk Islam diam-diam karena takut disiksa, Abu Bakar terang-terangan menggunakan kekayaan dan status sosialnya untuk mendukung perjuangan Nabi Muhammad SAW maupun pergerakan umat.
Abu Bakar menebus banyak budak yang telah menerima Islam namun teraniaya karena keimanan mereka. Kemurahan hati ini membuatnya mendapat gelar Siddiq yang artinya orang jujur.
Pada kesempatan lain, Abu Bakar kembali membuktikan dukungannya terutama terkait Isra Mi’raj Rasulullah untuk menerima perintah shalat. Peristiwa ini menjadi ujian bagi sebagian umat, karena dari sudut pandang manusia maka Isra Mi’raj termasuk kejadian yang sulit diterima akal. Mereka yang lemah iman meragukan peristiwa ini.
Abu Bakar pun menanyakan perihal Isra Mi’raj kepada Rasulullah. Setelah mendapat jawaban, ia seketika membenarkan dan meyakini penuh peristiwa ini. Sikap yang selalu mengkonfirmasi suatu kabar seperti ini semakin memperkuat gelar As-Siddiq.
Abu bakar adalah bagian penting dari perjalanan penyebaran Islam. Sosoknya tak sebatas mendampingi perjalanan kerasulan, tetapi juga menjadi sahabat bagi Nabi Muhammad SAW.
