Memandang Persahabatan sebagai Ruang Pembentuk Nilai dan Kebiasaan

Tim Publikasi Katadata
12 Februari 2026, 09:14
persahabatan Ramadan
ANTARA FOTO/Andri Saputra/rwa.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Refleksi diri bisa menjadi bagian persiapan batin sebagai seorang muslim menjelang Ramadan. Salah satu sisi diri yang perlu disoroti adalah relasi persahabatan. Islam memandang, sahabat dapat berpengaruh terhadap pembentukan nilai, kebiasaan, dan keimanan seseorang.

Di dalam Islam, persahabatan tidak sekadar relasi sosial, melainkan hubungan yang dibangun atas dasar kepercayaan, kesetiaan, dan kesamaan nilai. Alquran dan sunah menempatkan lingkungan pertemanan sebagai salah satu faktor yang memengaruhi arah hidup seseorang, baik secara spiritual maupun sosial.

Nabi Muhammad SAW dikenal tidak hanya sebagai pemimpin umat, tetapi juga sebagai sahabat bagi orang-orang di sekitarnya. Riwayat mencatat bahwa beliau menjalin hubungan yang dilandasi ketulusan, empati, dan perhatian. 

Dan di dalam banyak peristiwa, Nabi Muhammad SAW disebut mampu menguatkan para sahabat pada masa sulit, membela mereka, serta menjaga hubungan bahkan setelah wafatnya para sahabat tersebut.

Pandangan ini sejalan dengan Alquran surah Azzukhruf ayat 67, berunyi “al-akhillâ'u yauma'idzim ba‘dluhum liba‘dlin ‘aduwwun illal-muttaqîn”. Artinya, teman-teman akrab pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.

Mengutip Quran.nu.or.id ayat tersebut dapat dimaknai bahwa teman-teman karib pada hari kiamat itu sebagian mereka menjadi musuh bagi yang lainnya karena hubungan pertemanan mereka terjalin atas dasar kezaliman, tidak atas dasar kebaikan dan kemaslahatan. Kecuali orang-orang yang bertakwa yang tidak saling bermusuhan karena pertemanan dan persahabatan mereka terjalin atas dasar ketaatan kepada Allah.

Pesan ini sering dipahami sebagai penegasan bahwa kualitas relasi sosial turut menentukan nilai dan dampaknya bagi kehidupan jangka panjang.

Ulama seperti Imam al-Nawawi juga menyoroti pengaruh lingkungan pertemanan. Di dalam penjelasannya, sahabat yang baik diibaratkan seperti penjual minyak wangi. Artinya, kehadirannya memberi manfaat meskipun kita tak selalu benar-benar menyadarinya. Pengaruh tersebut dapat hadir melalui nasihat, teladan perilaku, maupun kebiasaan sehari-hari.

Contoh persahabatan yang kerap dirujuk dalam sejarah Islam adalah hubungan Nabi Muhammad SAW dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Persahabatan keduanya dibangun atas dasar iman, kesetiaan, dan kesamaan misi, bukan sekadar kepentingan duniawi. Hubungan ini menjadi salah satu rujukan tentang bagaimana relasi personal dapat berjalan seiring dengan perjuangan kolektif.

Alquran surah Alkahfi ayat 28, berbunyi “washbir nafsaka ma‘alladzîna yad‘ûna rabbahum bil-ghadâti wal-‘asyiyyi yurîdûna waj-hahû wa lâ ta‘du ‘ainâka ‘an-hum, turîdu zînatal-ḫayâtid-dun-yâ, wa lâ tuthi‘ man aghfalnâ qalbahû ‘an dzikrinâ wattaba‘a hawâhu wa kâna amruhû furuthâ”.

Artinya, bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia. Janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya melewati batas.

Ayat ini juga menekankan pentingnya berada di lingkungan orang-orang yang berzikir dan bersikap rendah hati. Dan dalam praktik, Rasulullah SAW menjalin kedekatan dengan Ashab al-Suffah yaitu kelompok sahabat dari kalangan sederhana yang dikenal konsisten dalam ibadah. Relasi ini menunjukkan bahwa persahabatan dapat menjadi ruang penguatan iman, terlepas dari latar belakang sosial.

Di sisi lain, sejumlah ulama, termasuk Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menafsirkan bahwa persahabatan berperan dalam membentuk pandangan keagamaan dan cara berpikir seseorang. Sementara Ibnu Hajar al-‘Asqalani menyoroti pendekatan Nabi Muhammad SAW yang penuh kelembutan dan humor sebagai faktor yang menguatkan ikatan dengan para sahabat.

Di dalam konteks kehidupan modern, persahabatan sering kali terbentuk karena kesamaan minat, kenyamanan, atau kebutuhan praktis. Namun, menjelang Ramadan, relasi ini perlu kita dipandang sebagai ruang evaluasi, yakni sejauh mana pertemanan berkontribusi kepada pertumbuhan nilai dan kebiasaan yang lebih baik pada diri kita.

Sejumlah riwayat juga mencatat bahwa Nabi Muhammad SAW menganjurkan agar ikatan persahabatan tetap dijaga, bahkan setelah wafat, melalui silaturahmi dan doa antarkeluarga. Praktik ini menunjukkan bahwa persahabatan dipandang sebagai relasi jangka panjang yang melampaui kepentingan sesaat.

Menjelang Ramadan, refleksi atas lingkungan pertemanan menjadi salah satu cara untuk mempersiapkan diri, tidak hanya secara individual, tetapi juga dalam relasi sosial yang lebih sehat dan bermakna.

Guna menyimak beragam refleksi, kisah, dan liputan seputar Ramadan dari berbagai sudut pandang, Anda dapat mengakses rangkaian konten di laman Ramadan Baik Bersama Katadata.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan