Hindari Konsumsi Impulsif Saat Mengunjungi Festival Ramadan
Festival Ramadan menjadi bagian dari kemeriahan bulan puasa. Bazar sembako murah, diskon busana modest, festival kuliner UMKM, konser religi, hingga kegiatan santunan menjadi daya tarik utama.
Selain sebagai ruang ekonomi, festival juga menjadi ajang silaturahmi dan hiburan menjelang berbuka. Tapi di balik semaraknya acara, festival Ramadan juga berpotensi mendorong konsumsi impulsif.
Diskon besar, promosi terbatas, dan suasana ramai sering kali membuat pengunjung membeli barang di luar kebutuhan. Tanpa perencanaan, pengeluaran kecil yang berulang bisa membengkak di akhir bulan.
Agar tetap selaras dengan semangat pengendalian diri selama bulan puasa maka terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menghadiri festival.
1. Cek Susunan Acara dan Tujuan Datang
Sebelum datang, pastikan mengetahui agenda acara dan tentukan tujuan utama, yakni ingin menghadiri kajian, mendukung UMKM, atau sekadar berbuka bersama teman.
Datang tanpa tujuan yang jelas cenderung membuat pengunjung lebih mudah terdorong belanja spontan. Sebaliknya, datang dengan rencana membantu menjaga pengeluaran tetap terkontrol.
2. Tetapkan Batas Anggaran
Festival Ramadan identik dengan diskon dan promo. Agar tidak boros, tentukan batas pengeluaran sebelum berangkat. Pisahkan dana hiburan, konsumsi, dan belanja kebutuhan.
Langkah sederhana ini membantu kita menghindari perasaan “mumpung murah maka sekalian beli banyak saja”. Hal ini sering muncul terutama saat melihat harga promo.
3. Ramai Tak Selalu Relevan
Acara yang ramai belum tentu sesuai kebutuhan pribadi. Sering kali, keputusan hadir dipicu oleh FOMO, yakni rasa takut ketinggalan tren atau unggahan media sosial.
Padahal, Ramadan sejatinya adalah momen menyaring prioritas. Memilih acara yang memberi nilai tambah, seperti kajian, kegiatan sosial, atau dukungan pada UMKM produktif lebih sejalan dengan semangat bulan suci dibandingkan sekadar mengikuti keramaian.
4. Perhatikan Komunitas dan Dampak Sosialnya
Banyak festival Ramadan digerakkan oleh komunitas. Ini bisa menjadi kesempatan memperluas jejaring, belajar hal baru, atau terlibat dalam kegiatan sosial.
Jika festival melibatkan kegiatan amal atau pemberdayaan UMKM, dampaknya menjadi lebih luas dari sekadar transaksi ekonomi. Di sinilah festival dapat menjadi ruang produktif, bukan hanya konsumtif.
