Struktur Puisi Rakyat dan Contoh Lengkapnya

Tifani
Oleh Tifani
21 Februari 2023, 13:30
Ilustrasi Struktur Puisi Rakyat
Katadata
Ilustrasi Struktur Puisi Rakyat

Puisi rakyat atau lama merupakan suatu karya sastra rakyat yang bentuknya telah diatur berdasarkan kaidah-kaidah tertentu. Puisi jenis ini umumnya terdiri dari beberapa deret kalimat yang mengacu pada prinsip-prinsip tertentu, misalnya seperti jumlah suku kata, intonasi suara, dan lain-lain.

Puisi rakyat berbentuk karya berupa puisi, syair, pantun, dan gurindam dengan nilai pesan moral, agama, dan budi pekerti. Ciri khas puisi rakyat biasanya disampaikan dari mulut ke mulut dan biasanya tidak diketahui penulis atau pengarangnya.

Struktur Puisi Rakyat

Puisi Rakyat
Puisi Rakyat (ditsmp.kemdikbud.go.id)

Mengutip buku Super Complete SMP/MTs 7,8,9 (2019) oleh Khoerunnisa, dkk, puisi rakyat sangat identik dengan kandungan nilai dan amanat yang tersurat maupun tersirat, serta mengandung banyak makna. Secara keseluruhan enam jenis puisi rakyat, namun hanya tiga jenis puisi rakyat yang populer, yakni syair, gurindam dan pantun.

Berikut struktur dari masing-masing puisi rakyat:

1. Pantun

Pantun adalah puisi rakyat yang terdiri dari empat baris, yaitu 2 baris sampiran dan 2 baris isi. Setiap baris pantun terdiri dari 8-12 suku kata. Rima pantun dapat bersajak ab-ab, a-a-a-a, ataupun aa-bb.

Struktur puisi rakyat jenis pantun dapat dilihat sebagai beirkut:

  • Terdiri atas empat larik sebait
  • Setiap larik terdiri atas 8-12 suku kata
  • Setiap akhir larik per bait bersajak a-b-a-b
  • Larik ke-1 dan ke-2 sebagai sampiran
  • Larik ke-3 dan ke-4 sebagai isi
  • Berisi nasihat, budi pekerti, ajaran agama, teka-teki

2. Syair

Syair merupakan jenis puisi rakyat yang berasal dari Arab. Syair dibentuk oleh empat larik per baitnya. Berbeda dengan pantun, seluruh larik dalam bait syair merupakan isi.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), syair diartikan sebagai puisi lama yang tiap-tiap bait terdiri atas empat baris dan mempunyai akhir bunyi yang sama.

Struktur puisi rakyat jenis syair adalah:

  • Terdiri atas empat larik sebait
  • Setiap larik terdiri atas 8-12 suku kata
  • Setiap bait bersajak akhir a-a-a-a
  • Semua larik merupakan isi
  • Mengisahkan cerita tentang suatu peristiwa

3. Gurindam

Gurindam adalah puisi rakyat yang berasal dari India. Istilah gurindam berasal dari bahasa India, yaitu kirindam berarti "mulamula" atau "perumpamaan".

Gurindam kaya akan nilai agama dan moral. Bahkan, orang-orang di zaman dahulu menjadikan gurindam sebagai norma dalam kehidupan. Gurindam memiliki sajak berakhiran a-a, b-b, atau c-c.

Struktur puisi rakyat jenis gurindam yaitu:

  • Terdiri atas dua larik sebait
  • Setiap larik terdiri atas 8-12 suku kata
  • Setiap akhir larik dalam satu bait bersajak a-a
  • Semua larik merupakan isi (larik ke-1 sebab, larik ke-2 akibat)
  • Pada umumnya berisi nasihat

Ciri Puisi Rakyat

Ilustrasu Ciri-ciri Puisi Rakyat
Ilustrasu Ciri-ciri Puisi Rakyat (Freepik)

Setiap karya sastra memiliki kaidah kebahasaan yang menjadi ciri khas dan pembeda dari yang lain. Berikur ciri kebahasaan dalam puisi rakyat:

1. Mengandung Kalimat Perintah, Saran, Ajakan, Larangan dan Kalimat Pernyataan

Salah satu ciri-ciri puisi rakyat pada umumnya menggunakan kalimat perintah, kalimat saran, kalimat ajakan, kalimat larangan dan kalimat pernyataan

Contoh:

  • Kalimat perintah, seperti: "Wahai Ananda, dengarlah pesan"
  • Kalimat ajakan, seperti: "Mari berbaiklah pada orang tua"
  • Kalimat larangan, seperti: " Mohon adik, jangan lupakan daku"
  • Kalimat pernyataan, seperti: " Tak ada orang menyesal dahulu"

2. Menggunakan Kalimat Tunggal dan Majemuk

Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya terdiri atas satu pola kalimat, misalnya: Banyak orang menyesal kemudian.

Sementara itu, kalimat majemuk memiliki bentuk yang lebih luas dari kalimat tinggal, biasanya memiliki dua pola kalimat atau lebih yang terdiri atas induk dan anak kalimat. Contoh puisi rakyat dengan kalimat majemuk biasanya banyak ditemukan dalam gurindam.

3. Penggunaan Kongjungsi

Konjungsi atau kata hubung. Adapun kata hubung yang biasanya ada pada puisi rakyat adalah konjungsi tujuan, konjungsi sebab, konjungsi akibat, dan konjungsi syarat.

Unsur Kebahasaan Puisi Rakyat

Struktur Batin Puisi
Struktur Batin Puisi (Unsplash)

Beberapa unsur kebahasaan puisi rakyat adalah:

1. Menggunakan Kata-kata Arkais

Kata-kata arkais yaitu kata-kata kuno zaman dahulu, yang sudah tidak lazim lagi digunakan pada masa kini.

Contoh:

Tubuh dijirat paduka tuan
Dijirat artinya diikat
Jagalah diri janganlan silap
Silap artinya lupa

2. Menggunakan Bahasa Kiasan

Contoh: besar kepala, ringan tangan, semata wayang.

3. Kata-kata yang Menimbulkan Imaji

Kata-kata yang digunakan dalam pantun menimbulkan imaji-imaji atau gambaran angan. Imaji tersebut dapat berupa imaji visual (imaji indra penglihatan), imaji auditori (imaji indra pendengaran), dan imaji taktil (imaji indra perasa).

Contoh: Surat ditulis dalam gelap ( menggunakan imaji visual)

4. Menggunakan Rima

Ada beberapa macam rima, yaitu rima sempurna, yaitu rima yang bunyi akhirnya sama, misalnya ta-pi, se-pi. Rima tidak sempurna, yakni rima yang bunyi suku akhirnya hanya Sebagian yang sama, misalnya ma-lang, ter-bang.

Contoh Puisi Rakyat

Illustrasi Puisi W.S Rendra
Illustrasi Puisi Rakyat (Katadata)

1. Pantun

Apa guna orang bertenun
untuk membuat pakaian adat
Apa guna orang berpantun
untuk beri petuah amanat

Asam kadis asam gelugur
kedua asam siang riang
Menangis mayat di dalam kubur
mengingat diri tidak sembahyang.

Beli kacang kupas kulitnya
kacang dikupas dicampur kurma
Kalau boleh abang bertanya
nona manis hendak ke mana.

2. Syair

Dengarlah kisah suatu riwayat
Raja di desa negeri Kembayat
Dikarang fakir dijadikan hikayat
Dibuatkan syair serta berniat

Ada raja sebuah negeri
Sutan Agus bijak besyari
Asalnya baginda raja yang bahari
Melimpahkan pada dagang biaperi

Kabar orang empunya termasa
Baginda itulah raja perkasa
Tiada ia merasai sengsara
Entah kepada esok dan lusa

(Syair Bidasari)

3. Gurindam

Kalau mulut tajam dan kasar,
boleh ditimpa bahaya besar.

Pikir dahulu sebelum berkata,
supaya terelak silang sengketa.

Kalau diri kena perkara,
turut susah sanak saudara.

Barang siapa berbuat khianat,
Tuhan kelak memberi laknat.

Barang siapa tidak memegang agama,
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.

Editor: Intan

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...