Apa Itu Fenomena Bediding yang Memicu Suhu Dingin Belakangan Ini?
Sejumlah wilayah di Indonesia mulai mengalami penurunan suhu, terutama pada malam hingga pagi hari. Di kawasan dataran tinggi, suhu bahkan bisa turun hingga belasan derajat Celsius.
Menariknya, perbedaan suhu ini terasa begitu tajam karena meskipun malam dan pagi hari begitu dingin, siang harinya justru tetap diselimuti panas matahari yang menyengat. Fenomena cuaca yang unik ini dikenal dengan sebutan bediding.
Lantas, apa itu fenomena bediding yang membuat suhu terasa dingin di malam hingga pagi hari? Berikut ulasan lengkapnya.
Apa Itu Fenomena Bediding
Fenomena bediding atau bedhidhing berasal dari istilah serapan Bahasa Jawa yang merujuk pada hal terkait fenomena alam. Bediding juga sering dikenal sebagai udara dingin di tengah musim kemarau.
Berdasarkan pada KBBI Daring, bediding merupakan suatu musim peralihan dari musim hujan ke musim kemarau. Fenomena ini umum terjadi di wilayah seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menurut BMKG, bediding berkaitan erat dengan kondisi atmosfer khas musim kemarau. Pada periode ini, curah hujan berkurang drastis dan langit biasanya cerah tanpa banyak awan.
Akibatnya, panas dari permukaan bumi dengan mudah terlepas ke atmosfer saat malam hari. Hal ini menyebabkan suhu udara menurun drastis hingga menjelang pagi.
Selain itu, bediding juga dipengaruhi oleh angin muson timur yang berasal dari Benua Australia. Karena Australia sedang musim dingin, maka anginnya membawa udara dingin dan kering ke wilayah Indonesia.
Adapun perubahan suhu yang terjadi akibat bediding terbilang cukup drastis. Jika biasanya suhu malam hari berada di kisaran 21-23°C, saat fenomena ini muncul, suhu bisa merosot hingga 17-19°C atau bahkan lebih rendah di beberapa daerah.
Dampak Fenomena Bediding
Pulau Jawa terletak di sebelah selatan garis khatulistiwa, sehingga berbagai wilayah di dalamnya menjadi lebih dingin dibandingkan dengan biasanya karena fenomena bediding. Muson Dingin Australia yang tadi telah dijelaskan di atas juga menjadi penyebab terjadinya udara terasa dingin di Pulau Jawa, Bali, hingga NTT.
Selain itu, pihak BMKG juga menyatakan jika fenomena bediding ditandai dengan suhu udara yang terasa lebih dingin ketika malam sampai pagi hari di Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara. Bahkan, di beberapa wilayah dataran tinggi (seperti Dieng) terdapat potensi munculnya embun es yang dianggap sebagai salju oleh beberapa orang.
Diketahui dari informasi BMKG, fenomena ini merupakan kondisi yang normal terjadi di musim kemarau. Jadi, bagi yang merasa udara di wilayah tempat tinggalnya terasa lebih dingin dari biasanya tidak perlu khawatir.
Sampai Kapan Fenomena Bediding?
Fenomena bediding diperkirakan akan terus berlangsung hingga akhir musim kemarau tahun ini. BMKG memprediksi bahwa puncaknya terjadi antara Agustus hingga awal September 2025, saat suhu udara berada pada titik terendahnya.
Setelah periode tersebut, suhu mulai berangsur hangat seiring datangnya masa transisi menuju musim hujan. Meski begitu, ada fenomena lain yang membuat musim kemarau kali ini terasa berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Mengutip laman BMKG, sebagian wilayah Indonesia mengalami apa yang disebut sebagai kemarau basah. Artinya, meskipun secara kalender berada pada musim kemarau, namun hujan masih sering turun di banyak daerah.
Hal ini disebabkan oleh suhu permukaan laut yang tetap hangat serta kehadiran gelombang atmosfer aktif. Kedua faktor ini memicu terbentuknya awan hujan dan meningkatkan potensi cuaca ekstrem.
Demikian ulasan lengkap mengenai apa itu fenomena bediding yang membuat suhu terasa dingin di malam hingga pagi hari.

