3 Contoh Khutbah Jum'at Tentang Larangan Iri dengan Rezeki Orang Lain

Izzul Millati
23 Januari 2026, 11:07
contoh khutbah jum'at
ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/YU
contoh khutbah jum'at
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Iri hati terhadap rezeki orang lain merupakan salah satu penyakit hati yang kerap muncul dalam kehidupan bermasyarakat. Perasaan ini sering timbul ketika seseorang membandingkan kondisi dirinya dengan keberhasilan atau kelapangan rezeki yang dimiliki orang lain. Dalam Islam, sikap iri atau hasad termasuk perbuatan tercela karena tidak hanya merusak ketenangan batin, tetapi juga mencerminkan ketidakridhaan terhadap ketentuan Allah SWT.

Khutbah Jum’at menjadi sarana penting untuk mengingatkan umat agar senantiasa menjaga kebersihan hati dan memperkuat rasa syukur. Melalui khutbah, nilai-nilai keimanan dapat menyentuh kesadaran jamaah. Oleh karena itu, contoh khutbah jum'at dengan tema larangan iri hati cocok untuk dijadikan salah satu cara membina moral dan spiritual umat.

3 Contoh Khutbah Jum'at Tentang Larangan Iri Hati

contoh khutbah jum'at
contoh khutbah jum'at (unsplash.com)

 

Tema iri hati erat kaitannya dengan realitas sosial saat ini. Persaingan ekonomi, perbedaan kondisi hidup, serta kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain dapat memicu rasa tidak puas terhadap rezeki yang dimiliki. 

Islam menegaskan bahwa setiap rezeki telah diatur sesuai kehendak Allah SWT dan tidak akan tertukar. Berikut tiga contoh khutbah jum'at yang dapat digunakan sebagai bahan khutbah.

Contoh Khutbah Jum’at 1: Larangan Iri terhadap Ketetapan Rezeki

Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, dan kesehatan kepada seluruh hamba-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, serta seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah, marilah bersama-sama meningkatkan taqwa kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Salah satu larangan yang sering kali tidak disadari adalah sifat iri hati terhadap rezeki orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, sikap iri sering muncul dalam bentuk yang sederhana. Misalnya, ketika melihat tetangga baru saja membeli rumah, kendaraan, atau memiliki usaha yang berkembang pesat. Di saat yang sama, rezeki yang dimiliki terasa belum bertambah. Hati pun mulai membandingkan dan mempertanyakan keadilan dalam pembagian rezeki.

Padahal, Allah SWT telah menetapkan rezeki setiap hamba sesuai dengan hikmah-Nya. Rezeki tidak hanya berupa harta, tetapi juga kesehatan, keluarga yang harmonis, keselamatan, dan ketenangan jiwa. Iri terhadap rezeki orang lain berarti tidak ridha terhadap ketetapan Allah SWT dan lupa akan nikmat yang telah diberikan.

Rasulullah SAW mengingatkan bahwa hasad dapat menghapus pahala amal kebaikan sebagaimana api menghanguskan kayu bakar. Oleh karena itu, marilah menjaga hati dengan memperbanyak rasa syukur, memperbaiki ibadah, dan mendoakan kebaikan bagi sesama.

Jamaah yang dirahmati Allah, marilah senantiasa mensyukuri nikmat yang telah diberikan, baik yang tampak besar maupun yang terlihat kecil. Dengan bersyukur, hati menjadi lapang dan hidup terasa cukup. Semoga Allah SWT menjauhkan dari sifat iri dan menghiasi hati dengan keikhlasan serta keridhaan. Aamiin.

Contoh Khutbah Jum’at 2: Iri Hati dan Kerusakan Sosial

Segala puji hanya milik Allah SWT yang telah mengatur kehidupan dan membagi rezeki kepada setiap hamba-Nya sesuai kehendak-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW.

Jamaah Jum’at yang berbahagia, salah satu penyakit hati yang memiliki dampak besar dalam kehidupan bermasyarakat adalah iri hati. Sifat ini tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga merusak persaudaraan dan keharmonisan sosial.

Iri hati membuat seseorang sulit menerima kebahagiaan orang lain. Dari perasaan tersebut, muncul prasangka, kebencian, hingga keinginan melihat nikmat orang lain berkurang. Jika dibiarkan, iri hati dapat memicu konflik dan perpecahan dalam masyarakat.

Islam mengajarkan persaudaraan, saling mendoakan, dan saling membantu dalam kebaikan. Rasulullah SAW memberikan teladan dengan akhlak yang mulia, tidak pernah iri terhadap kelebihan orang lain. Beliau justru mengajarkan umatnya untuk memperkuat ukhuwah dan menumbuhkan empati.

Dengan menjaga hati dari iri, kehidupan sosial akan terjaga dengan baik. Ketenteraman dan rasa saling percaya dapat tumbuh, sehingga masyarakat menjadi lebih harmonis.

Jamaah yang dirahmati Allah, marilah menjaga hati dari sifat iri dan menggantinya dengan sikap empati serta doa kebaikan bagi sesama. Semoga Allah SWT menjaga persaudaraan dan memberikan keberkahan dalam kehidupan bermasyarakat. Aamiin.

Contoh Khutbah Jum’at 3: Mengubah Iri Menjadi Semangat Perbaikan Diri

Segala puji bagi Allah SWT yang Maha Adil dalam menetapkan rezeki bagi seluruh hamba-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah, Islam tidak melarang umatnya untuk bercita-cita dan berusaha meraih kehidupan yang lebih baik. Namun, Islam melarang keinginan tersebut disertai dengan rasa iri terhadap rezeki orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, perasaan iri sering muncul dari kebiasaan membandingkan diri. Misalnya, ketika melihat rekan kerja naik jabatan, tetangga membeli kendaraan baru, atau saudara mendapatkan usaha yang lebih maju. Jika tidak dikendalikan, perasaan tersebut dapat berkembang menjadi kedengkian yang merusak ketenangan hati.

Islam mengajarkan agar keberhasilan orang lain dijadikan motivasi untuk berikhtiar dan memperbaiki diri. Rezeki tidak akan tertukar. Apa yang telah Allah SWT tetapkan untuk seseorang tidak akan menjadi milik orang lain.

Dengan memperbanyak doa, usaha yang halal, serta tawakal, setiap hamba memiliki jalan rezekinya masing-masing. Sikap inilah yang akan melahirkan ketenangan, optimisme, dan keberkahan dalam hidup.

Jamaah yang dirahmati Allah, marilah mengubah rasa iri menjadi semangat untuk meningkatkan kualitas diri dan memperbaiki ibadah. Semoga Allah SWT membersihkan hati dari sifat tercela dan menjadikan sebagai hamba yang pandai bersyukur serta ridha terhadap ketetapan-Nya. Aamiin.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Editor: Safrezi

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan