Diplomat Prancis Fabrice Aidan Akan Diselidiki Terkait Relasinya dengan Epstein
Otoritas Prancis secara resmi akan melakukan penyelidikan terhadap seorang Diplomat Prancis yang namanya berkali-kali disebut dalam dokumen Jeffrey Epstein. Kasus ini kembali menggemparkan dunia karena menyeret sejumlah figur penting lintas negara, termasuk pejabat diplomatik.
Nama Diplomat Prancis tersebut adalah Fabrice Aidan. Ia muncul dalam sejumlah email yang dikirimkan kepada Jeffrey Epstein, pelaku kejahatan seks anak asal Amerika Serikat. Kemunculan nama ini tercatat dalam arsip Epstein Files yang dirilis Departemen Kehakiman AS dan menjadi perhatian media internasional.
Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, meminta agar penyelidikan segera dilakukan terhadap Diplomat Prancis tersebut. Pernyataan itu dikonfirmasi kantor berita Agence France-Presse pada Rabu (11/2/2026). Barrot menyatakan bahwa tuduhan yang menjerat Aidan telah diteruskan kepada jaksa penuntut umum Prancis, sekaligus meluncurkan penyelidikan internal di lingkungan Kementerian Luar Negeri.
“Saya sangat terkejut,” ujar Barrot dalam keterangannya. Ia menyebut Aidan sebagai sekretaris utama urusan luar negeri yang sedang cuti karena alasan pribadi dan diketahui memegang beberapa posisi di sektor swasta.
Kemunculan Nama Aidan dalam Epstein Files

Media-media Prancis melaporkan bahwa Fabrice Aidan melakukan korespondensi email dengan Epstein dalam rentang waktu 2010 hingga 2017. Penyebutan nama yang berulang dalam Epstein Files memicu pertanyaan mengenai intensitas dan sifat hubungan komunikasi tersebut.
Namun, penting dicatat bahwa kemunculan seseorang dalam Epstein Files tidak otomatis menunjukkan adanya kesalahan atau pelanggaran hukum. Banyak nama lain yang tercantum dalam dokumen tersebut tanpa adanya tuduhan pidana yang menyertainya.
Aidan Pernah Menghubungi Admin Situs Web Pelecehan Seksual Anak
Kasus ini berkembang lebih jauh setelah situs investigatif Mediapart merilis laporan pada Selasa (10/2). Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa Biro Investigasi Federal AS atau Federal Bureau of Investigation pernah menandai Aidan dalam penyelidikan terpisah.
Menurut laporan itu, Aidan diduga berkonsultasi dengan situs web pelecehan seksual anak saat masih bekerja di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York pada periode 2006 hingga 2013. Dugaan tersebut memicu penyelidikan internal di lingkungan PBB dan berujung pada pengunduran dirinya.
Pada periode tersebut, Diplomat Prancis itu bertugas sebagai penasihat untuk Terje Rod-Larsen, mantan diplomat senior Norwegia. Kepolisian Norwegia pada awal pekan juga menyatakan sedang menyelidiki Rod-Larsen terkait hubungannya dengan Epstein.
Selain dugaan konsultasi dengan situs ilegal, laporan Mediapart juga menyebut bahwa Aidan pernah mengirimkan beberapa dokumen dan laporan PBB kepada Epstein. Hingga kini, belum ada konfirmasi langsung dari Aidan mengenai tudingan tersebut.
Konsekuensi Karier Aidan Atas Dugaan Relasi dengan Epstein
Perkembangan kasus ini berdampak langsung pada karier Diplomat Prancis tersebut. Hingga saat ini, Aidan belum dapat dihubungi oleh AFP untuk memberikan komentar. Pada Rabu pagi, profil profesionalnya di LinkedIn diketahui telah dihapus.
Setelah bekerja di markas besar PBB di New York, Aidan kemudian melanjutkan kariernya di badan kebudayaan PBB, UNESCO. Dalam perkembangan terbaru, grup perusahaan energi Engie, tempat ia bekerja belakangan ini, menyatakan telah memecatnya.
Dalam pernyataan resminya, Engie menyebut keputusan pemberhentian diambil mengingat informasi yang beredar di media terkait periode sebelum Aidan bergabung dengan perusahaan tersebut. Langkah itu disebut sebagai tindakan korporasi untuk menjaga integritas dan reputasi perusahaan.
Pemerintah Prancis menekankan bahwa penyelidikan terhadap Diplomat Prancis Fabrice Aidan dilakukan sebagai langkah klarifikasi administratif dan hukum. Proses tersebut bertujuan memastikan transparansi serta menjaga integritas institusi diplomatik.
Dengan semakin banyaknya nama yang muncul dalam Epstein Files, otoritas Prancis berupaya menunjukkan komitmen terhadap asas praduga tak bersalah sekaligus akuntabilitas publik. Hasil penyelidikan internal dan proses hukum akan menjadi penentu langkah lanjutan dalam kasus ini.

