Profil Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP yang Viral "Cukup Saya WNI, Anak Jangan"
Nama Dwi Sasetyaningtyas ramai dibicarakan di media sosial belakangan ini setelah unggahannya yang menampilkan paspor Inggris milik anaknya viral. Kalimat yang menyertai unggahan tersebut dinilai sensitif dan menimbulkan pro dan kontra, terutama karena ia merupakan alumni Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Sejak 23 Februari 2026, Profil Dwi Sasetyaningtyas semakin ramai dicari oleh netizen seiring semakin ramainya perdebatan soal kontribusi alumni LPDP terhadap negara. Banyak netizen yang menyayangkan dan mengkritik Tyas terkait keputusannya tersebut, sementara tidak sedikit juga yang mendukung keputusannya atas kepindahan kewarganegaraan sang anak.
Siapa Dwi Sasetyaningtyas?
Pembahasan soal profil Dwi Sasetyaningtyas tidak dapat dilepaskan dari latar belakang akademiknya. Ia memulai pendidikan tinggi di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2009 dengan mengambil jurusan Teknik Kimia, salah satu program studi yang dikenal memiliki standar akademik ketat dan menuntut ketelitian tinggi.
Tyas menyelesaikan studinya pada 2013 dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,34. Selama menjalani perkuliahan, ia aktif sebagai asisten laboratorium. Keterlibatan tersebut menunjukkan partisipasinya dalam kegiatan akademik di luar kelas sekaligus memperkuat pemahamannya di bidang teknik kimia. Ketertarikannya pada isu energi dan keberlanjutan juga mulai terbentuk pada masa ini, yang kemudian memengaruhi pilihan studi lanjutannya.
Lolos Beasiswa LPDP dan Studi ke Belanda

Perjalanan akademiknya berlanjut ketika ia berhasil lolos seleksi LPDP pada 2015 sebagai awardee angkatan PK-35. Program beasiswa ini dikenal memiliki proses seleksi ketat karena dibiayai melalui dana abadi pendidikan yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Melalui beasiswa tersebut, Tyas menempuh studi magister di Delft University of Technology, Belanda, dengan mengambil program Sustainable Energy Technology. Program ini berfokus pada pengembangan teknologi energi berkelanjutan dan strategi transisi menuju sistem energi rendah emisi.
Dalam risetnya, Tyas meneliti model bisnis panel surya atau Solar PV sebagai solusi penyediaan listrik di desa-desa terpencil, khususnya di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Penelitian tersebut menitikberatkan pada pendekatan bisnis yang memungkinkan keberlanjutan proyek elektrifikasi di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).
Perjalanan Karir, Bisnis dan Kegiatan Sosial
Sebelum melanjutkan studi ke luar negeri, Tyas sempat meniti karier di sektor swasta. Ia bekerja sebagai Customer Business Development Manager di Procter & Gamble (P&G), perusahaan multinasional yang memiliki jaringan bisnis global.
Selama bermukim di Belanda, Tyas mendirikan Sustaination, sebuah bisnis berbasis produk ramah lingkungan yang mendorong gaya hidup zero waste sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pengelolaan sampah. Melalui inisiatif tersebut, Tyas berupaya membangun kesadaran publik mengenai pentingnya pengurangan limbah rumah tangga.
Selain itu, Tyas juga terlibat dalam inisiasi penanaman 10.000 mangrove di sejumlah wilayah pesisir sebagai bagian dari upaya mitigasi krisis iklim. Kegiatan tersebut bertujuan membantu menjaga ekosistem pesisir sekaligus mengurangi dampak abrasi dan perubahan iklim.
Dalam bidang pemberdayaan sosial, ia disebut membantu ibu rumah tangga memperoleh penghasilan dari rumah melalui pendekatan kewirausahaan berbasis komunitas. Ia juga terlibat dalam pembangunan sekolah di Nusa Tenggara Timur serta kegiatan tanggap bencana di Sumatera.
Di ranah digital, Tyas membangun komunitas edukasi melalui akun seperti @sustaination, @ceritakompos, dan @bisnisbaikclub. Melalui platform tersebut, ia mengembangkan ekosistem diskusi mengenai bisnis berkelanjutan dan gaya hidup ramah lingkungan.
Viral Berkat Unggahan Video Kewarganegaraan Sang Anak
Kontroversi soal Dwi Sasetyaningtyas bermula dari unggahan video di akun Instagram pribadinya, @sasetyaningtyas. Dalam video tersebut, Tyas membuka paket berisi surat resmi dari Home Office Inggris yang menyatakan anak keduanya resmi menjadi warga negara Inggris. Ia juga memperlihatkan paspor Inggris yang diterbitkan bersamaan dengan surat tersebut.
Dalam pernyataannya, Tyas menyebut dokumen tersebut sebagai sesuatu yang akan mengubah masa depan anaknya. Ia kemudian menyampaikan kalimat yang kontroversial bagi sebagian besar netizen Indonesia, yakni bahwa cukup dirinya saja yang menjadi Warga Negara Indonesia (WNI), sementara anak-anaknya diupayakan memiliki paspor yang lebih kuat sebagai warga negara asing.
Ucapan tersebut segera memicu reaksi pro dan kontra di kalangan warganet. Kritik menguat setelah diketahui bahwa Tyas merupakan alumni LPDP, program beasiswa yang dibiayai melalui dana abadi pendidikan yang bersumber dari pajak rakyat. Bagi sebagian pihak, pernyataan tersebut dianggap tidak sejalan dengan semangat nasionalisme dan pengabdian yang melekat pada penerima beasiswa negara.
Setelah gelombang kritik semakin luas, Tyas menyampaikan klarifikasi dan permohonan maaf melalui unggahan pada 20 Februari 2026. Dalam pernyataannya, ia mengakui bahwa kalimat yang disampaikan kurang tepat dan dapat dimaknai sebagai bentuk perendahan terhadap identitas sebagai warga negara Indonesia.
Kontroversi ini juga menyeret nama sang suami, Arya Iwantoro (AP), yang diketahui juga merupakan alumni LPDP. LPDP menyatakan tengah melakukan pendalaman terhadap Arya terkait dugaan belum diselesaikannya kewajiban kontribusinya di Indonesia.

