Profil Nurhayati Subakat dan 40 Tahun Kisahnya Merawat Paragon Corp
Di balik pesatnya pertumbuhan industri kosmetik nasional, terdapat sosok pengusaha yang konsisten membangun bisnis berbasis nilai dan inovasi, yakni Nurhayati Subakat. Pendiri Paragon Technology and Innovation ini dikenal sebagai tokoh kunci di balik kesuksesan berbagai merek kecantikan halal lokal seperti Wardah, Make Over, dan Emina.
Nurhayati Subakat dijadwalkan menjadi pembicara dalam forum Katadata Indonesia Data and Economic (IDE), sebuah ajang strategis yang mempertemukan pelaku industri, pemerintah, dan pemimpin bisnis untuk membahas isu ekonomi, inovasi, dan keberlanjutan. Dalam forum tersebut, Nurhayati Subakat akan mengisi sesi Innovate or Evaporate, yang mengangkat pentingnya inovasi dalam menjaga daya saing bisnis di tengah perubahan.
Selama lebih dari empat dekade, Nurhayati Subakat membangun Paragon Corp dari usaha kecil hingga menjadi salah satu perusahaan kosmetik terbesar di Indonesia.
Profil dan Latar Belakang Nurhayati Subakat
Nurhayati Subakat lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, pada 27 Juli 1950, sebagai anak keempat dari delapan bersaudara dalam keluarga Minangkabau.
Ayahnya, Abdul Muin Saidi, merupakan tokoh Muhammadiyah, sedangkan ibunya, Nurjanah, berperan besar dalam membesarkan keluarga. Lingkungan ini membentuk karakter disiplin, religius, dan mandiri sejak dini.
Masa kecilnya tidak lepas dari tantangan, terutama setelah ayahnya meninggal dunia. Ia tetap melanjutkan pendidikan sambil membantu ibunya berdagang. Prestasi akademiknya tetap menonjol hingga diterima di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Di kampus tersebut, Nurhayati Subakat mengambil jurusan Farmasi dan lulus sebagai mahasiswa terbaik pada 1975. Ia kemudian menyelesaikan pendidikan profesi apoteker dengan predikat terbaik serta meraih penghargaan Kalbe Farma Award.
Tidak semua pengusaha memulai perjalanan dari dunia bisnis. Nurhayati Subakat mengawali karier sebagai apoteker di Rumah Sakit Umum Pusat M. Djamil di Padang.
Setelah menikah dengan Subakat Hadi pada 1978, ia sempat bekerja di Bandung sebelum pindah ke Jakarta. Di ibu kota, ia bekerja di perusahaan kosmetik Wella sebagai staf pengendalian mutu selama beberapa tahun.
Pengalaman tersebut menjadi awal mula terbangunnya motivasi Nurhayati Subakat untuk berwirausaha. Keinginannya untuk mengaplikasikan ilmu farmasi secara langsung melahirkan PT Pusaka Tradisi Ibu, yang menjadi cikal bakal Paragon.
Awal Lahirnya PT Paragon
Perjalanan bisnis Paragon dimulai dari langkah sederhana. Nurhayati Subakat bersama suaminya memulai usaha rumahan dengan memproduksi produk perawatan rambut seperti shampo dan obat keriting dengan merek Putri.
Produk tersebut dipasarkan secara langsung ke salon, bahkan dilakukan secara door to door. Dalam kurun waktu sekitar lima tahun, usaha tersebut berkembang pesat dan mampu mempekerjakan sekitar 25 karyawan. Namun, perjalanan bisnis tersebut sempat mengalami kemunduran akibat kebakaran pabrik yang menyebabkan kerugian besar.
Kondisi tersebut tidak menghentikan langkahnya. Ia kembali membangun usaha dari awal dengan semangat belajar dan konsistensi yang tinggi.
Seiring perkembangan bisnis, perusahaan mengalami transformasi menjadi entitas yang lebih modern. PT Pusaka Tradisi Ibu kemudian berkembang menjadi PT Paragon Technology and Innovation.
Saat ini, Paragon menaungi sekitar 14 merek kecantikan, termasuk Wardah, Make Over, Emina, Kahf, Putri, Laboré, Biodef, Instaperfect, Crystallure, Tavi, dan Wonderly. Wardah menjadi penyumbang utama dengan kontribusi sekitar 70 persen terhadap pendapatan perusahaan.
Paragon juga dikenal sebagai pelopor kosmetik halal di Indonesia dan diperkirakan menguasai sekitar 30 persen pangsa pasar kosmetik nasional. Jaringan distribusinya telah menjangkau berbagai wilayah di Indonesia dan Malaysia.
Keberhasilan Paragon tidak terlepas dari nilai yang dijalankan secara konsisten. Nurhayati Subakat menekankan pentingnya misi sosial sebagai inti bisnis, serta pemberdayaan perempuan sebagai pilar utama.
Paragon juga aktif dalam program pelatihan keterampilan, edukasi kewirausahaan, serta pembinaan pelaku usaha kecil. Kampanye seperti “Wardah Inspiring Movement” menjadi salah satu contoh nyata dalam mendorong perempuan untuk berdaya dan berkontribusi.
Jadi Wanita Paling Berpengaruh di ASEAN
Kontribusi dalam industri membuat Nurhayati Subakat memperoleh berbagai penghargaan. Ia pernah masuk dalam daftar wanita paling berpengaruh di Indonesia dan Asia, serta menerima gelar doktor kehormatan (honoris causa) dari ITB.
Selain itu, ia juga meraih ASEAN Business Award kategori Women Entrepreneur dan dinobatkan sebagai salah satu wanita paling berpengaruh oleh Fortune Indonesia pada 2022.
Lewat kiprahnya yang luar biasa, Nurhayati Subakat akan berbagi insight Dalam Forum Katadata Indonesia Data and Economic (IDE) 2026. Dalam sesi Innovate or Evaporate, ia akan membahas bagaimana inovasi menjadi faktor kunci dalam menjaga keberlanjutan bisnis di tengah dinamika pasar yang terus berubah.


