4 Potensi Bahaya Gas Metana yang Dihasilkan TPST Bantargebang

Tifani
Oleh Tifani
6 Mei 2026, 13:58
Bahaya Gas Metana
ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/rwa.
Foto udara antrean truk di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi Jawa Barat, Rabu (15/10/2025). Presiden Prabowo Subianto menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2025 tentang penanganan sampah perkotaan melalui pengolahan sampah menjadi energi terbarukan berbasis teknologi ramah lingkungan untuk mengatasi timbunan sampah hingga puluhan juta ton per tahun.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bahaya gas metana tengah menjadi sorotan usai Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang tercatat sebagai lokasi pembuangan sampah yang menghasilkan gas terbesar kedua di dunia. Hal ini berdasarkan laporan tim riset dari Emmett Institute di University of California Los Angeles (UCLA), merujuk pada data Carbon Mapper yang berasal dari satelit milik Planet Labs dan stasiun ruang angkasa NASA.

Data tersebut mengungkap besarnya emisi gas metana yang dilepaskan dari timbunan sampah di kawasan tersebut ke atmosfer. Gas metana merupakan salah satu gas rumah kaca yang memiliki dampak pemanasan jauh lebih kuat dibandingkan karbon dioksida dalam jangka pendek.

Gas metana atau yang juga disebut CH4 tidak memiliki bau, tidak berwarna dan bersifat mudah terbakar. Pada kadar yang tinggi, gas ini dapat mengurangi kadar oksigen di atmosfer bumi.

Berikut beragam potensi bahaya gas metana yang dihasilkan TPST Bantargebang.

Bahaya Gas Metana

Target emisi dari sampah
Target emisi dari sampah (ANTARA FOTO/Muhammad Izfaldi/aww.)

Gas metana merupakan senyawa hidrokarbon fraksi ringan yang mempunyai karakteristik mudah terbakar. Gas metana ini biasa digunakan dalam pembuatan gas alam atau LNG (Liquid Natural Gas) dan bisa difungsikan sebagai pembangkit listrik.

Metana dalam jumlah yang sedikit juga tidak menimbulkan potensi bahaya apapun selain bau busuk. Namun jika mengalami tekanan dengan konsentrasi yang tinggi akan menimbulkan ledakan yang besar.

Gas metana juga dapat mengurangi kadar oksigen hingga 19.5 persen bahkan dengan kadar yang lebih tinggi lagi. Berikut beragam bahaya gas metana:

1. Beracun Bagi Manusia

Paparan gas metana dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan gangguan kesehatan serius, seperti pusing, mual, gangguan penglihatan, hingga kehilangan kesadaran. Dalam paparan ekstrem, kekurangan oksigen akibat metana bahkan dapat berujung pada kematian.

Selain itu, metana juga berkontribusi dalam pembentukan ozon troposfer (ozon permukaan tanah) yang bersifat beracun dan dapat memicu gangguan pernapasan serta memperburuk penyakit paru-paru.

2. Rentan Memicu Kebakaran

Gas metana memiliki sifat sangat mudah terbakar (highly flammable). Ketika terakumulasi di ruang tertutup atau area tertentu, gas ini dapat memicu ledakan jika terkena percikan api, panas, atau sumber listrik.

Di lokasi seperti TPST Bantargebang, metana yang dihasilkan dari pembusukan bahan organik sering kali terperangkap di dalam tanah atau rongga, sehingga meningkatkan risiko kebakaran dan ledakan sewaktu-waktu.

3. Polusi Udara

Metana berperan dalam pembentukan ozon troposfer, yaitu jenis polutan udara berbahaya yang berada di permukaan bumi. Ozon ini dapat merusak kualitas udara, mengganggu sistem pernapasan manusia, serta berdampak buruk pada tanaman dan ekosistem.

Selain itu, emisi metana dari sampah, industri, dan aktivitas manusia lainnya turut memperburuk pencemaran udara secara keseluruhan, terutama di wilayah perkotaan dan sekitar tempat pembuangan akhir.

4. Pemanasan Global

Metana merupakan salah satu gas rumah kaca paling kuat yang berkontribusi besar terhadap pemanasan global. Dalam periode 20 tahun, daya pemanasan metana bahkan bisa mencapai sekitar 80 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida.

Gas ini bekerja dengan cara menjebak panas di atmosfer, sehingga meningkatkan suhu bumi secara signifikan. Emisi metana dari sampah, pertanian, dan industri diketahui menyumbang sekitar 30 persen pemanasan global sejak era pra-industri.

Dampaknya tidak hanya pada kenaikan suhu, tetapi juga memicu perubahan iklim ekstrem, seperti cuaca tidak menentu, kekeringan, banjir, hingga meningkatnya risiko bencana lingkungan.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Editor: Safrezi

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan