4 Potensi Bahaya Gas Metana yang Dihasilkan TPST Bantargebang
Bahaya gas metana tengah menjadi sorotan usai Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang tercatat sebagai lokasi pembuangan sampah yang menghasilkan gas terbesar kedua di dunia. Hal ini berdasarkan laporan tim riset dari Emmett Institute di University of California Los Angeles (UCLA), merujuk pada data Carbon Mapper yang berasal dari satelit milik Planet Labs dan stasiun ruang angkasa NASA.
Data tersebut mengungkap besarnya emisi gas metana yang dilepaskan dari timbunan sampah di kawasan tersebut ke atmosfer. Gas metana merupakan salah satu gas rumah kaca yang memiliki dampak pemanasan jauh lebih kuat dibandingkan karbon dioksida dalam jangka pendek.
Gas metana atau yang juga disebut CH4 tidak memiliki bau, tidak berwarna dan bersifat mudah terbakar. Pada kadar yang tinggi, gas ini dapat mengurangi kadar oksigen di atmosfer bumi.
Berikut beragam potensi bahaya gas metana yang dihasilkan TPST Bantargebang.
Bahaya Gas Metana
Gas metana merupakan senyawa hidrokarbon fraksi ringan yang mempunyai karakteristik mudah terbakar. Gas metana ini biasa digunakan dalam pembuatan gas alam atau LNG (Liquid Natural Gas) dan bisa difungsikan sebagai pembangkit listrik.
Metana dalam jumlah yang sedikit juga tidak menimbulkan potensi bahaya apapun selain bau busuk. Namun jika mengalami tekanan dengan konsentrasi yang tinggi akan menimbulkan ledakan yang besar.
Gas metana juga dapat mengurangi kadar oksigen hingga 19.5 persen bahkan dengan kadar yang lebih tinggi lagi. Berikut beragam bahaya gas metana:
1. Beracun Bagi Manusia
Paparan gas metana dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan gangguan kesehatan serius, seperti pusing, mual, gangguan penglihatan, hingga kehilangan kesadaran. Dalam paparan ekstrem, kekurangan oksigen akibat metana bahkan dapat berujung pada kematian.
Selain itu, metana juga berkontribusi dalam pembentukan ozon troposfer (ozon permukaan tanah) yang bersifat beracun dan dapat memicu gangguan pernapasan serta memperburuk penyakit paru-paru.
2. Rentan Memicu Kebakaran
Gas metana memiliki sifat sangat mudah terbakar (highly flammable). Ketika terakumulasi di ruang tertutup atau area tertentu, gas ini dapat memicu ledakan jika terkena percikan api, panas, atau sumber listrik.
Di lokasi seperti TPST Bantargebang, metana yang dihasilkan dari pembusukan bahan organik sering kali terperangkap di dalam tanah atau rongga, sehingga meningkatkan risiko kebakaran dan ledakan sewaktu-waktu.
3. Polusi Udara
Metana berperan dalam pembentukan ozon troposfer, yaitu jenis polutan udara berbahaya yang berada di permukaan bumi. Ozon ini dapat merusak kualitas udara, mengganggu sistem pernapasan manusia, serta berdampak buruk pada tanaman dan ekosistem.
Selain itu, emisi metana dari sampah, industri, dan aktivitas manusia lainnya turut memperburuk pencemaran udara secara keseluruhan, terutama di wilayah perkotaan dan sekitar tempat pembuangan akhir.
4. Pemanasan Global
Metana merupakan salah satu gas rumah kaca paling kuat yang berkontribusi besar terhadap pemanasan global. Dalam periode 20 tahun, daya pemanasan metana bahkan bisa mencapai sekitar 80 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida.
Gas ini bekerja dengan cara menjebak panas di atmosfer, sehingga meningkatkan suhu bumi secara signifikan. Emisi metana dari sampah, pertanian, dan industri diketahui menyumbang sekitar 30 persen pemanasan global sejak era pra-industri.
Dampaknya tidak hanya pada kenaikan suhu, tetapi juga memicu perubahan iklim ekstrem, seperti cuaca tidak menentu, kekeringan, banjir, hingga meningkatnya risiko bencana lingkungan.

