Apa Itu HantaVirus? Kenapa Muncul di Kapal Pesiar?

Izzul Millati
8 Mei 2026, 11:12
Apa Itu HantaVirus
unsplash.com
Apa Itu HantaVirus
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kasus wabah Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius menjadi perhatian internasional setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melakukan investigasi terhadap kematian tiga penumpang pada awal Mei 2026. Kapal yang membawa 149 penumpang dan kru dari 23 negara itu dilaporkan sedang beroperasi di sekitar perairan Tanjung Verde, Afrika Barat, ketika sejumlah penumpang mulai mengalami gejala penyakit serius.

Peristiwa ini memicu kekhawatiran karena menjadi salah satu kasus pertama yang mengaitkan penyebaran Hantavirus dengan kapal pesiar internasional. WHO kini menyelidiki kemungkinan pola penularan virus yang tidak biasa setelah beberapa penumpang diketahui jatuh sakit dalam waktu berdekatan selama perjalanan berlangsung.

Kasus tersebut membuat masyarakat kembali mempertanyakan apa Itu HantaVirus, bagaimana cara penularannya, siapa yang paling berisiko terinfeksi, hingga mengapa virus ini bisa muncul di lingkungan kapal pesiar yang tertutup.

Apa Itu HantaVirus?

Apa Itu HantaVirus
Apa Itu HantaVirus (unsplash.com)

 

Pembahasan mengenai apa itu HantaVirus menjadi penting karena virus ini tergolong penyakit zoonosis yang dapat menyebabkan gangguan serius pada organ vital manusia.

Menurut WHO dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Hantavirus merupakan kelompok virus dari genus Orthohantavirus yang secara alami hidup pada hewan pengerat seperti tikus. Virus ini dapat menular kepada manusia melalui paparan urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi.

Ketika kotoran atau urine tikus mengering, partikel virus dapat bercampur dengan udara dan terhirup manusia. Selain melalui udara, penularan juga dapat terjadi ketika seseorang menyentuh permukaan yang terkontaminasi lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut.

Infeksi Hantavirus diketahui dapat menyebabkan dua sindrom utama. Di kawasan Asia dan Eropa, virus ini lebih sering memicu Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yaitu penyakit yang menyerang ginjal dan pembuluh darah. Sementara di wilayah Amerika, infeksi lebih banyak menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS) yang menyerang paru-paru dan jantung.

Meski tergolong penyakit langka, Hantavirus memiliki tingkat fatalitas yang cukup tinggi apabila terlambat ditangani.

Kenapa HantaVirus Muncul di Kapal Pesiar?

Kemunculan Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius menjadi perhatian karena kapal umumnya dianggap memiliki standar sanitasi tinggi. Namun, WHO menduga sumber paparan kemungkinan berasal dari area penyimpanan makanan, gudang logistik, atau ruang tertutup lain yang memungkinkan tikus berkembang biak.

Kapal pesiar memiliki banyak area penyimpanan bahan makanan yang dapat menarik hewan pengerat. Jika pengendalian hama tidak optimal, tikus dapat meninggalkan urine dan kotoran yang mengandung virus.

Dalam kondisi ruang tertutup seperti kapal, partikel kecil dari kotoran tikus yang mengering dapat menyebar melalui ventilasi udara dan terhirup penumpang maupun kru kapal. Situasi tersebut meningkatkan risiko penyebaran penyakit di lingkungan dengan mobilitas tinggi dan kontak dekat antar penghuni kapal.

WHO juga tengah menyelidiki kemungkinan adanya penularan antar manusia di kapal pesiar tersebut, meski sebagian besar jenis Hantavirus selama ini diketahui tidak mudah menular antar manusia.

Kronologi Kasus HantaVirus di MV Hondius

WHO awalnya menerima laporan adanya wabah penyakit misterius di kapal pesiar MV Hondius pada awal Mei 2026.

Kapal yang membawa 149 penumpang dan kru dari 23 negara itu diketahui sedang berada di wilayah perairan Tanjung Verde, Afrika Barat. Dalam beberapa hari perjalanan, sejumlah penumpang mengalami gejala seperti demam tinggi, gangguan pernapasan, hingga kondisi kritis.

Tiga penumpang kemudian dilaporkan meninggal dunia. Otoritas kesehatan internasional menduga kasus tersebut berkaitan dengan Hantavirus setelah ditemukan pola gejala yang mengarah pada infeksi virus zoonosis tersebut.

WHO melalui pejabat teknisnya, Dr Maria Van Kerkhove, menyatakan investigasi masih berlangsung untuk memastikan sumber utama penularan dan kemungkinan adanya transmisi antarmanusia di lingkungan kapal pesiar.

Bagaimana Cara Penularan HantaVirus?

HantaVirus memiliki pola penyebaran berbeda dibanding penyakit pernapasan biasa seperti influenza atau COVID-19.

Penularan utama terjadi melalui paparan hewan pengerat yang terinfeksi. Virus dapat masuk ke tubuh manusia ketika partikel dari urine, air liur, atau kotoran tikus terhirup bersama udara.

Selain itu, gigitan tikus juga dapat menjadi jalur penularan meski kasusnya lebih jarang ditemukan. Risiko infeksi meningkat pada aktivitas yang melibatkan ruang tertutup atau lingkungan dengan populasi tikus tinggi, seperti gudang, area pertanian, tempat penyimpanan makanan, hingga kapal pesiar.

Gejala HantaVirus yang Perlu Diwaspadai

Gejala awal Hantavirus sering kali menyerupai flu biasa sehingga banyak kasus terlambat dikenali.

  • Menurut CDC, gejala biasanya muncul satu hingga delapan minggu setelah seseorang terpapar virus. Pada tahap awal, penderita umumnya mengalami demam, nyeri otot, sakit kepala, kelelahan ekstrim, mual, muntah, dan sakit perut.
  • Pada kasus HPS atau HCPS, kondisi dapat berkembang cepat menjadi batuk berat, sesak napas, penumpukan cairan di paru-paru, hingga gagal napas dan syok akibat tubuh kekurangan oksigen.
  • Sementara pada HFRS, stadium lanjut dapat menyebabkan tekanan darah rendah, gangguan pembekuan darah, perdarahan internal, hingga gagal ginjal akut.

Karena gejalanya mirip influenza, COVID-19, leptospirosis, hingga pneumonia virus, diagnosis dini sering menjadi tantangan bagi tenaga medis.

Seberapa Bahaya HantaVirus?

Hantavirus tergolong penyakit berbahaya karena dapat menyebabkan komplikasi serius pada paru-paru, jantung, dan ginjal.

Pada jenis HPS, virus menyebabkan paru-paru terisi cairan sehingga pasien mengalami kesulitan bernapas dalam waktu singkat. Kondisi ini dapat berkembang menjadi gagal napas akut yang berisiko fatal. Sementara pada HFRS, infeksi dapat memicu kerusakan pembuluh darah, perdarahan internal, hingga gagal ginjal.

WHO menyebut hingga saat ini belum tersedia obat khusus yang dapat menyembuhkan Hantavirus. Penanganan medis lebih berfokus pada terapi suportif, pemantauan intensif, serta penanganan komplikasi organ vital.

Karena itu, keterlambatan diagnosis menjadi salah satu faktor utama yang meningkatkan risiko kematian pasien.

Apakah HantaVirus Bisa Menular Antar Manusia?

Sebagian besar jenis Hantavirus diketahui tidak mudah menular dari manusia ke manusia.

WHO dan CDC menjelaskan bahwa penularan utama tetap berasal dari hewan pengerat yang terinfeksi. Namun, pada strain tertentu seperti virus Andes di Amerika Selatan, kasus penularan antar manusia pernah tercatat meski sangat jarang.

Dugaan adanya transmisi antarmanusia di kapal pesiar MV Hondius kini menjadi fokus penelitian WHO karena jika terbukti, kasus ini dapat memberikan temuan baru dalam studi epidemiologi global.

Cara Mencegah Infeksi HantaVirus

Karena belum tersedia vaksin Hantavirus yang digunakan secara luas, pencegahan menjadi langkah perlindungan paling efektif.

  • Pencegahan dilakukan dengan mengurangi kontak manusia dengan hewan pengerat. Kebersihan rumah, tempat kerja, gudang, dan area penyimpanan makanan perlu dijaga agar tidak menjadi sarang tikus.
  • Area yang diduga terkontaminasi sebaiknya dibersihkan menggunakan disinfektan sambil memakai masker dan sarung tangan. 
  • Kotoran tikus juga tidak disarankan dibersihkan dengan cara disapu dalam kondisi kering karena dapat membuat partikel virus beterbangan di udara.
  • Selain itu, penyimpanan makanan secara tertutup dan pengendalian hama secara rutin menjadi langkah penting untuk menurunkan risiko penyebaran virus.

Seberapa Besar Risiko HantaVirus di Indonesia?

Di Indonesia, reservoir utama Hantavirus berasal dari tikus got (Rattus norvegicus) dan tikus rumah (Rattus tanezumi). Meski kasusnya tergolong jarang, risiko paparan tetap ada terutama di wilayah padat penduduk dengan sanitasi buruk dan populasi tikus tinggi.

Kementerian Kesehatan RI sebelumnya pernah melaporkan kasus Hantavirus pada 2025 yang kemudian berhasil ditangani hingga pasien dinyatakan sembuh.

Karena itu, menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi kontak dengan area yang berpotensi menjadi sarang tikus menjadi langkah paling efektif untuk mencegah infeksi

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Editor: Safrezi

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan