Apakah Hantavirus Mematikan? Ini Upaya Pencegahan yang Bisa Dilakukan
Apakah Hantavirus mematikan? Di tengah besarnya perhatian masyarakat terhadap pandemi maupun penyakit yang lebih dikenal seperti dengue dan COVID-19, terdapat ancaman kesehatan lain yang jarang disadari namun memiliki risiko mematikan, yaitu Hantavirus.
Hantavirus tidak menular antarmanusia, namun dengan pergerakannya yang cenderung tidak mencolok, virus ini dianggap sebagai ancaman tersembunyi atau silent threat yang dapat berkembang diam-diam di sekitar lingkungan manusia.
Apakah Hantavirus Mematikan?
Hantavirus dapat menyebabkan kematian. Tingkat fatalitas virus ini berbeda-beda tergantung jenis Hantavirus dan wilayah penyebarannya, dengan angka kematian global diperkirakan berada di kisaran 5 hingga 50 persen. Sementara itu, data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa tingkat kematian akibat Hantavirus di Indonesia mencapai sekitar 13 persen.
Hantavirus bukan hanya terdiri dari satu jenis penyakit, melainkan memiliki dua bentuk utama yang sama-sama berbahaya. Pertama adalah Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yang banyak ditemukan di kawasan Asia dan Eropa. Penyakit ini menyerang ginjal, serta pembuluh darah dengan gejala seperti demam, perdarahan, hingga gagal ginjal.
Bentuk kedua adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yang lebih sering terjadi di wilayah Amerika. Jenis ini menyerang paru-paru dan dapat menyebabkan sesak napas akut hingga gagal napas. Tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) Hantavirus juga tergolong tinggi, bahkan pada beberapa tipe virus dapat mencapai sekitar 50 persen.
Di Indonesia, jenis virus yang paling sering ditemukan adalah Seoul virus (SEOV) yang ditularkan melalui tikus rumah seperti Rattus rattus dan Rattus norvegicus. Karena hewan pengerat tersebut hidup sangat dekat dengan lingkungan manusia, potensi penularannya dinilai lebih tinggi dibandingkan penyakit zoonosis lain yang umumnya terbatas di kawasan hutan atau satwa liar.
Hantavirus Ada di Indonesia Sejak Tahun 1980 an
Melansir Badankebijakan.kemkes.go.id, banyak masyarakat menganggap Hantavirus sebagai penyakit langka yang hanya ditemukan di luar negeri. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa virus ini sudah lama ada di Indonesia, bahkan terdeteksi sejak era 1980-an.
Sejumlah studi di berbagai kota besar mencatat seroprevalensi Hantavirus pada manusia mencapai sekitar 11,6 persen. Angka tersebut mengindikasikan bahwa setidaknya satu dari 10 orang pernah terpapar virus ini, meski sebagian besar kemungkinan tidak pernah terdiagnosis.
Pada populasi tikus yang menjadi reservoir utama Hantavirus, tingkat infeksinya bahkan dilaporkan berkisar antara 0 hingga 34 persen. Hal ini menunjukkan bahwa virus masih aktif beredar di lingkungan, khususnya di daerah dengan populasi rodensia yang tinggi.
Dalam dokumen resmi Kementerian Kesehatan, Hantavirus dikategorikan sebagai zoonosis emerging, yaitu penyakit baru yang berpotensi berkembang menjadi ancaman kesehatan masyarakat. Persoalannya bukan hanya soal keberadaan virus tersebut, melainkan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap ancaman yang sebenarnya sudah ada di sekitar lingkungan mereka.
Upaya Pencegahan Hantavirus
Masyarakat dianjurkan untuk menghindari kontak langsung dengan urine, kotoran, air liur, maupun sarang hewan pengerat karena dapat menjadi sumber penularan Hantavirus. Apabila terdapat tikus atau curut di dalam maupun sekitar rumah, proses pembersihan perlu dilakukan dengan cara yang aman agar tidak meningkatkan risiko paparan virus.
Pengendalian populasi tikus menjadi langkah utama dalam mencegah hantavirus pulmonary syndrome (HPS), yaitu penyakit yang muncul akibat infeksi jenis Hantavirus tertentu. Hewan pengerat liar yang berada di sekitar permukiman manusia sebaiknya dikendalikan dan dijauhkan dari lingkungan rumah.
Selain itu, perawatan tikus peliharaan yang dilakukan dengan benar juga penting untuk mencegah hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS), penyakit lain yang berkaitan dengan infeksi Hantavirus. Pemilik hewan peliharaan disarankan berkonsultasi dengan dokter hewan terkait pemeriksaan Hantavirus pada tikus baru sebelum dipelihara bersama tikus lain di rumah atau tempat penangkaran.
Tikus liar yang secara alami dapat membawa Hantavirus juga perlu dijauhkan dari tikus peliharaan dengan menerapkan langkah-langkah pencegahan infestasi hewan pengerat di lingkungan sekitar.
Apakah Hantavirus mematikan? Jawabannya iya, virus ini memang dapat menjadi ancaman serius karena mampu menyebabkan gangguan berat pada paru-paru, ginjal, hingga pembuluh darah dengan tingkat kematian yang cukup tinggi pada beberapa kasus. Meski tergolong jarang dan tidak mudah menular antarmanusia, Hantavirus tetap perlu diwaspadai karena penyebarannya berkaitan erat dengan lingkungan yang terpapar tikus pembawa virus.

