Lari Bonus Liburan, Resep Mangkunegaran Run 2026 Sumbang Miliaran untuk Solo
Perhelatan Mangkunegaran Run 2026 tidak hanya menjadi ajang olahraga lari, tetapi juga sarana untuk mendongkrak sektor ekonomi dan pariwisata lokal.
Berlokasi di kawasan kota Solo, Jawa Tengah, tahun ini menjadi kali keempat bagi Mangkunegaran Run 2026 menghadirkan kombinasi antara olahraga, budaya, dan partisipasi masyarakat termasuk UMKM dalam satu hajatan kolaboratif.
Bagi pariwisata, Mangkunegaran Run 2026 memiliki daya tarik tersendiri yang mendatangkan wisatawan dengan rata-rata masa tinggal 1–2 hari. Acara ini juga menjadi etalase untuk menonjolkan citra Solo sebagai kota yang ramah wisata.
"Acara ini (Mangkunegaran Run 2026) bukan sebatas untuk olahraga saja, tapi juga menjadi magnet wisata bagi kota penyelenggara dalam hal ini Solo," ujar Manager Research and Analytics Katadata Insight Center, Satria Triputra (23/5).
Dampak terhadap pariwisata lokal ini tercermin melalui survei Katadata Insight Center (KIC) yang dilakukan baru-baru ini. Berdasarkan hasil survei, 9 dari 10 peserta mengaku puas terhadap wisata di kota Solo dan akan berkunjung kembali ke kota tersebut. Sementara itu, 10 dari 10 peserta mengaku merekomendasikan kota Solo ke orang lain.
Dalam persentase, tingkat kepuasan terhadap kota Solo mencapai 99,1 persen menurut survei KIC. Angka ini, imbuh Satria, memperlihatkan bahwa Solo memiliki ekosistem pariwisata yang mampu menghadirkan pengalaman positif secara konsisten.
“Ketika wisatawan ingin kembali dan bersedia merekomendasikan destinasi kepada orang lain, hal tersebut berpotensi menciptakan efek berantai terhadap pertumbuhan pariwisata lokal dan ekonomi daerah,” ujarnya.
Daya tarik wisata menjadi motivasi tersendiri bagi para peserta untuk mengikuti acara Mangkunegaran Run 2026. Survei yang sama menemukan, dua alasan teratas para peserta mengikuti acara lari ini adalah untuk mendapatkan pengalaman unik dengan berlari di lokasi ikonik (49 persen), serta karena Mangkunegaran Run 2026 menggabungkan kegiatan olahraga dengan kesempatan liburan (48 persen).
Motivasi lain yang dikemukakan para peserta adalah untuk mengunjungi destinasi wisata baru sambil mengikuti marathon (19 persen). Sebagian lagi menyatakan, ingin mendapatkan pengalaman budaya lokal di tempat marathon berlangsung (18 persen).
Dari sisi preferensi, wisata budaya seperti cagar, candi, museum, dan situs bersejarah menjadi pilihan teratas para peserta dengan persentase 60 persen. Pilihan teratas kedua adalah situs rekreasional seperti kebun binatang dengan persentase 41 persen, diikuti wisata alam (pantai, gunung, taman nasional), dan wisata kebugaran (spa dan yoga) dengan persentase 16 persen
Pilihan kunjungan meliputi bar dan klub malam serta wisata petualangan seperti rafting dan menyelam dengan persentase masing-masing 2 persen.
Wisata hiburan sendiri menjadi pengeluaran terbesar kedua para peserta. Survei KIC mengungkapkan bahwa para peserta merogoh kocek rata-rata sebesar Rp620.000 untuk wisata hiburan. Sementara itu, pengeluaran terbesar untuk wisata yang dikeluarkan peserta mencapai Rp5.000.000.
Angka ini bahkan mengalahkan rata-rata pengeluaran untuk makan-minum (Rp330.000 – Rp2.000.0000) dan penginapan (Rp420.000 – Rp2.000.000).
KIC menggarisbawahi, temuan menarik bahwa pengeluaran untuk wisata hiburan justru melampaui belanja makan-minum dan penginapan. Hal ini menandakan adanya kecenderungan peserta untuk memperpanjang pengalaman mereka di kota penyelenggara.
“Hal itu pada akhirnya berkontribusi terhadap peningkatan dampak ekonomi secara signifikan dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Satria.
Secara umum, Mangkunegaran Run 2026 menghasilkan dampak ekonomi langsung Rp33,4 miliar dan multiplier effect Rp87,9 miliar. Dampak ekonomi total yang dihasilkan tahun ini meningkat 119 persen secara year on year. Tahun lalu, terealisasi dampak ekonomi sebesar Rp15,2 miliar dan efek berganda senilai Rp40 miliar.
Seluruh temuan ini menunjukkan bahwa Mangkunegaran Run 2026 tidak hanya menempatkan Solo sebagai destinasi sport tourism. Ajang ini juga menjadi pendongkrak bagi sektor wisata dan ekonomi lokal.
Temuan KIC menunjukkan bahwa Mangkunegaran Run 2026 tidak hanya memperkuat posisi Solo sebagai destinasi sport tourism, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi daerah melalui sektor wisata, hiburan, kuliner, hingga akomodasi. Laporan lengkap mengenai dampak ekonomi, perilaku wisata peserta, serta kontribusi Mangkunegaran Run 2026 terhadap pariwisata lokal dapat dibaca lebih lanjut melalui tautan berikut.
