Budaya Kerja Inklusif, Kunci Menarik Talenta Masa Depan

Try Surya Anditya
Oleh Try Surya Anditya - Tim Publikasi Katadata
8 Juli 2026, 18:07
budaya kerja
Ilustrasi/AI
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Di tengah persaingan mendapatkan talenta terbaik, perusahaan tidak lagi cukup menawarkan gaji yang kompetitif dan prospek jenjang karier. Budaya kerja yang positif, kesempatan untuk berkembang, serta kelesaran nilai menjadi pertimbangan bagi calon karyawan.

Bagi generasi muda, terutama Gen Z dan milenial, lingkungan kerja yang memberi ruang untuk berkembang seperti nilai tersebut menjadi faktor yang semakin menentukan dalam memilih tempat untuk bekerja.

Perubahan preferensi ini tercatat dalam Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey 2026. Melibatkan lebih dari 22.500 responden dari 44 negara, hasil survei menunjukkan sebanyak 44% Gen Z dan 45% milenial lebih memilih pertumbuhan karier yang bertahap dibandingkan promosi yang terlalu cepat.

Mereka juga menilai, selain menawarkan kompensasi menarik, tempat kerja ideal juga memberikan rasa memiliki, kesempatan belajar, serta dukungan teknologi yang memudahkan pekerjaan sehari-hari.

Pemanfaatan teknologi pun, telah menjadi bagian dari pengalaman kerja yang menentukan efektivitas kolaborasi hingga peluang pengembangan kompetensi karyawan. Para pekerja semakin mempertimbangkan adaptivitas perusahaan dalam mengadopsi teknologi.

Laporan McKinsey Global Institute pada 2023 bertajuk ”The Productivity Imperative for Growth” menegaskan, perusahaan yang berhasil mengintegrasikan teknologi digital dengan pengelolaan SDM yang adaptif, mencatat produktivitas hingga 25% lebih tinggi ketimbang konvensional.

Pandangan lain juga senada dengan hasil ManpowerGroup Employment Outlook Survey Q3 2026. Dalam survei tersebut, perusahaan mengidentifikasi sejumlah faktor yang dinilai mampu mendorong produktivitas tenaga kerja sepanjang setahun terakhir.

Sebanyak 54% responden menempatkan peningkatan keterampilan (upskilling) sebagai faktor utama yang berkontribusi terhadap produktivitas organisasi.

Di sisi lain, 46% responden menilai fleksibilitas jadwal kerja turut meningkatkan produktivitas karyawan. Sementara 45% lainnya, menyebut peluang mentoring sebagai faktor penting dalam mendukung kinerja.

Adapun 35% responden mengidentifikasi lingkungan kerja yang mendukung keberagaman, kesetaraan, inklusi, dan rasa memiliki (diversity, equity, inclusion, and belonging - DEIB) turut memberikan dampak positif terhadap produktivitas.

Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan perlu menciptakan lingkungan kerja yang bermakna melalui investasi pengembangan talenta, fleksibilitas, dan budaya kerja inklusif. Sehingga, karyawan memiliki ruang untuk berkembang dan berkontribusi sekaligus memperkuat daya saing perusahaan.

Budaya Kerja Inklusif Jadi Fondasi Pengembangan Karier

Penerapan prinsip tersebut dapat dilihat pada praktik yang dijalankan oleh Unilever Indonesia. Perusahaan yang baru saja kembali meraih penghargaan HR Asia Awards Best Companies to Work For in Asia ini menempatkan pengembangan talenta, inovasi digital dan teknologi, serta budaya kerja inklusif sebagai fondasi dalam membangun lingkungan kerja. Ini menjadi tahun ketiga Unilever Indonesia mendapatkan penghargaan dari ajang bergengsi yang diadakan pada Juni 2026.

Strategi tersebut dirancang untuk mendukung pertumbuhan karyawan dalam jangka Panjang, sekaligus membuka kesempatan bagi seluruh talenta untuk berkarier hingga level global.

Senior Global Brand Manager Rexona Asia, Priyo Ajie, mengatakan lingkungan kerja yang ideal dimulai dari visi perusahaan yang jelas sehingga setiap karyawan memahami tujuan dari pekerjaan yang dilakukan.

Ajie melanjutkan, kepemimpinan yang mampu menjadi mentor juga menjadi faktor penting dalam mendukung pengembangan karier.

"Pertama, arah dan tujuan perusahaan harus jelas. Ini sangat penting agar setiap karyawan merasa termotivasi, karena mereka jadi tahu persis bahwa pekerjaan sehari-hari mereka itu bermakna dan punya dampak nyata," ujarnya.

Menurut Ajie, kepemimpinan yang berperan sebagai mentor juga menjadi faktor penting dalam mendukung pertumbuhan karier. Selain transfer pengetahuan dari para pemimpin, perusahaan perlu menyediakan learning plan yang jelas, mulai dari pelatihan formal hingga kesempatan belajar lintas fungsi maupun lintas negara.

Selain kepemimpinan, Ajie menilai perusahaan perlu memiliki rencana pembelajaran yang jelas. Di samping pelatihan formal, kesempatan tersebut juga terbuka dari kesempatan belajar lintas fungsi maupun lintas negara.

Pengalaman tersebut, imbuhnya, menjadi salah satu nilai yang paling dirasakan selama berkarier di Unilever Indonesia.

“Yang paling saya rasakan berbeda dari perusahaan lainnya adalah learning plan dan fasilitas pembelajaran yang jelas. Bukan hanya training formal aja, tapi juga kesempatan seperti cross-market exchange. Kita bisa belajar lintas negara atau lintas fungsi, dan memperkaya perspektif," katanya.

Saat ini, Ajie merupakan bagian dari tim global yang berbasis di Indonesia dan bekerja bersama dengan berbagai negara di Asia. Baginya, pengalaman tersebut memberikan perspektif baru yang dapat diterapkan kembali di pasar Indonesia.

Kesempatan tersebut, turut menunjukkan Unilever Indonesia membuka peluang bagi talenta lokal untuk berkontribusi di level global tanpa harus berpindah negara.

Kolaborasi Lintas Generasi & Fleksibilitas, Perkuat Produktivitas

Lebih jauh Ajie memaparkan bahwa peluang berkembang di Unilever Indonesia turut didorong oleh ekosistem kolaboratif yang memfasilitasi pertukaran pengalaman. Perusahaan secara sadar membangun budaya bimbingan (mentoring) yang membuka akses bagi karyawan untuk berdiskusi dengan para pemimpin, baik secara lintas level (skip-level) maupun lintas generasi.

Ia mencontohkan bahwa perbincangan mengenai karier, pekerjaan, hingga kehidupan berkeluarga bukanlah hal yang asing dilakukan di lingkungan kantor.

Melalui interaksi keseharian tersebut, ide-ide segar dari para pekerja muda dapat dipadukan dengan kematangan para pemimpin senior, sehingga senantiasa menghasilkan perspektif kerja yang lebih relevan dan komprehensif.

Fleksibilitas kerja juga menjadi faktor yang membantunya menjaga keseimbangan antara kehidupan profesional dan personal. Kebijakan sistem kerja hibrida atau fleksibilitas lokasi bekerja, misalnya, membuatnya tetap menjalankan tanggung jawab sebagai seorang ayah tanpa menghambat perkembangan karier.

Ajie berpandangan, seluruh pengalaman tersebut bermuara pada satu nilai yang paling ia rasakan selama bekerja di Unilever Indonesia, yakni growth mindset. Menurutnya, budaya ini terwakili dari dorongan perusahaan untuk terus berinovasi, belajar, dan memberikan kesempatan bagi setiap karyawan untuk berkembang.

Seiring bergesernya ekspektasi generasi muda terhadap dunia kerja, perusahaan yang mampu membangun budaya kerja inklusif, menyediakan kesempatan belajar yang berkelanjutan, serta memberikan ruang bagi setiap individu untuk berkembang memiliki peluang lebih besar dalam menarik sekaligus mempertahankan talenta terbaik. 

Pengalaman bekerja di Unilever Indonesia menunjukkan bahwa investasi pada aspek tersebut bukan hanya menciptakan pengalaman kerja yang lebih bermakna. Namun, juga memperkuat produktivitas sekaligus menyiapkan talenta yang mampu bersaing hingga di tingkat global.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan