Gunung Bromo Kebakaran, Area Terdampak Capai 520 Hektare
Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, dilanda kebakaran hutan dan lahan yang meluas dalam beberapa hari terakhir. Gunung Bromo kebakaran sejak Senin, 3 Agustus 2026, dan kobaran api kembali membesar pada Sabtu malam, 8 Agustus 2026.
Balai Besar TNBTS mencatat area yang terdampak kebakaran mencapai sekitar 520 hektare berdasarkan pendataan hingga Minggu, 9 Agustus 2026. Luas area terdampak meningkat cukup signifikan dibandingkan data sebelumnya yang mencapai sekitar 176 hektare. Pendataan kawasan terdampak masih terus dilakukan.
Kebakaran terjadi di sejumlah kawasan TNBTS dan merambat hingga area savana. Kondisi angin yang cukup kencang membuat api lebih cepat menjalar, sehingga proses pemadaman menjadi tantangan bagi petugas di lapangan.
Sumber Api Kebakaran Gunung Bromo
Gunung Bromo kebakaran, Pranata Humas Balai Besar TNBTS, Endrip Wahyutama, menjelaskan bahwa kebakaran pertama kali terdeteksi di Blok Bantengan, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Lokasi tersebut bukan merupakan kawasan wisata. Seiring waktu, api terus meluas dan menjangkau sejumlah wilayah hingga Kabupaten Malang.
"Ini hari keempat, masih nyala (terbakar). Luas wilayah yang paling besar di wilayah Watugede, Kabupaten Probolingo," ungkap Endrip, Kamis (6/8/2026).
Endrip menambahkan, lokasi yang menjadi titik awal kebakaran di Blok Bantengan tidak termasuk dalam area wisata Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Menurutnya, kawasan tersebut merupakan akses tidak resmi yang biasa digunakan warga untuk menuju Desa Argosari dari arah Jemplang, Kabupaten Lumajang.
"Sumbernya di atas (Blok Bantengan), bukan lokasi wisata, bukan jalur umum juga. Itu jalur terabasan (jalur tikus) warga," bebernya.
Gunung Bromo Kebakaran, Api Meluas ke Kawasan Savana
Peristiwa Gunung Bromo kebakaran pertama kali dilaporkan pada Senin, 3 Agustus 2026. Api saat itu muncul di kawasan Blok Bantengan. Petugas kemudian melakukan penanganan agar kobaran tidak meluas ke kawasan lainnya.
Namun, api kembali membesar pada Sabtu malam, 8 Agustus 2026. Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha menyebut kobaran api merambat dari kawasan tebing menuju area yang lebih rendah dan meluas hingga savana Bromo.
Angin kencang menjadi salah satu faktor yang menyulitkan upaya pengendalian kebakaran. Kondisi vegetasi yang kering selama musim kemarau juga membuat api lebih mudah menyebar.
TNBTS sebelumnya menduga kebakaran tersebut kemungkinan berkaitan dengan aktivitas manusia. Meski demikian, penyebab pasti kebakaran masih dalam proses penyelidikan.
Mengutip Antara pada Senin, 10 Agustus 2026, luas kawasan yang terdampak telah mencapai sekitar 520 hektare. Tim gabungan terus melakukan pemantauan dan pemadaman dari jalur darat maupun udara.
Seluruh Akses Wisata Ditutup
Meluasnya kebakaran membuat Balai Besar TNBTS mengambil langkah untuk menutup seluruh akses wisata Gunung Bromo. Penutupan diberlakukan mulai Sabtu, 8 Agustus 2026 pukul 22.00 WIB dan belum ditentukan kapan akan berakhir. Pembukaan kembali kawasan wisata akan menunggu perkembangan kondisi kebakaran dan hasil penanganan di lapangan.
Penutupan dilakukan untuk menjaga keselamatan wisatawan, sekaligus memberikan ruang kepada petugas gabungan dalam menangani kebakaran. Masyarakat maupun wisatawan diimbau tidak memasuki kawasan yang telah ditutup.
Upaya pemadaman dilakukan melalui jalur darat dan udara. Berdasarkan laporan Antara, petugas mengerahkan tiga helikopter, tujuh mobil pemadam kebakaran, serta drone untuk membantu memantau titik api dan melakukan penanganan.
Laporan terbaru juga menyebutkan bahwa meskipun kebakaran utama telah berhasil dikendalikan di sejumlah area, masih terdapat titik panas yang perlu dipantau. Reuters melaporkan kebakaran yang sebelumnya menghanguskan sekitar 550 hektare telah dipadamkan, tetapi kemunculan titik panas baru di sekitar kaldera membuat petugas tetap melakukan pemantauan.
Kondisi tersebut membuat penanganan belum sepenuhnya selesai. Petugas perlu memastikan tidak ada titik api yang kembali membesar, terutama karena kondisi kering dan angin dapat meningkatkan risiko penyebaran api.
Bagi wisatawan yang telah merencanakan kunjungan ke Bromo, penutupan kawasan berarti seluruh aktivitas wisata di area yang terdampak harus ditunda sampai ada pengumuman resmi dari pengelola TNBTS.
Pemerintah dan tim gabungan saat ini masih memprioritaskan pemadaman, pendinginan, pemantauan titik panas, serta pencegahan agar api tidak kembali meluas ke kawasan konservasi lainnya.
Kabar Gunung Bromo kebakaran menjadi perhatian karena luas area terdampak telah mencapai sekitar 520 hektare, dan seluruh kawasan wisata Bromo ditutup sementara hingga kondisi dinyatakan aman oleh pihak berwenang.

