Kilas Balik Sejarah Letusan Krakatau 1883 yang Merubah Langit Eropa

Izzul Millati
7 September 2026, 09:33
Letusan Krakatau 1883
detik
Letusan Krakatau 1883
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Peristiwa dahsyat dalam sejarah vulkanologi dunia mencatatkan letusan Krakatau di Selat Sunda sebagai salah satu bencana alam terhebat yang pernah terjadi. Puncak bencana letusan Krakatau 1883 terjadi pada 26 hingga 27 Agustus 1883, ketika Gunung Krakatau meletus hebat dan meruntuhkan sebagian besar tubuh gunung ke dalam laut. Suara dentuman dari letusan Krakatau 1883 terdengar sejauh ribuan kilometer hingga ke kawasan Australia dan Samudra Hindia, menjadikannya salah satu suara terkeras dalam sejarah.

Bencana alam yang berpusat di antara Pulau Jawa dan Sumatra ini tidak hanya berdampak pada wilayah Indonesia. Letusan Krakatau 1883 melontarkan jutaan ton abu vulkanik serta gas sulfur dioksida hingga mencapai lapisan stratosfer. Material vulkanik dari letusan Krakatau 1883 menyebar melintasi atmosfer bumi dan menyelimuti benua Eropa, sehingga mengakibatkan perubahan warna langit, suhu bumi mendingin, serta gangguan cuaca ekstrem selama berbulan-bulan.

Dampak letusan Krakatau 1883 menciptakan fenomena perubahan iklim jangka pendek serta memicu gelombang tsunami raksasa yang menewaskan puluhan ribu jiwa. Peristiwa ini sekaligus menjadi titik awal kemunculan pulau vulkanik baru yang kini dikenal sebagai Anak Gunung Krakatau.

Kronologi Letusan Krakatau 1883 dan Dampaknya

Pengamatan aktivitas Gunung Anak Krakatau

Pengamatan aktivitas Gunung Anak Krakatau (ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/bar)

Aktivitas vulkanik Gunung Krakatau sebenarnya telah menunjukkan gejala awal sejak bulan Mei 1883 melalui semburan uap dan gempa-gempa kecil. Namun, eskalasi letusan Krakatau 1883 mencapai puncaknya pada akhir Agustus dengan empat kali ledakan paroksismal yang sangat dahsyat.

Berikut adalah urutan kronologi serta dampak dari letusan Krakatau 1883 bagi dunia internasional:

  • Ledakan dahsyat pada 27 Agustus 1883 meruntuhkan dua pertiga bagian Gunung Krakatau ke dalam Selat Sunda. Keruntuhan massa batuan berukuran raksasa yang jatuh sekaligus ke dalam laut ini mendesak miliaran kubik air secara mendadak, sehingga memicu gelombang tsunami raksasa setinggi lebih dari 30 meter yang menyapu bersih kawasan pesisir Banten dan Lampung.

  • Debu dan material halus hasil letusan Krakatau 1883 terlontar sangat tinggi hingga mencapai lapisan stratosfer sejauh 80 kilometer. Angin kencang di lapisan atmosfer atas kemudian membawa partikel abu ini bergerak cepat mengelilingi bumi, yang menyebabkan pembiasan cahaya matahari secara tidak wajar hingga memunculkan fenomena pemandangan langit dan matahari terbenam berwarna merah cerah misterius di benua Eropa serta Amerika Utara.

  • Gas sulfur dioksida hasil letusan Krakatau 1883 bereaksi dengan uap air di atmosfer dan membentuk awan aerosol asam sulfat yang bertindak seperti cermin raksasa. Lapisan aerosol ini memantulkan sebagian radiasi sinar matahari kembali ke luar angkasa sebelum mencapai permukaan bumi, yang mengakibatkan penurunan suhu rata-rata global sebesar 1,2 derajat Celsius dan memicu pola cuaca kacau selama bertahun-tahun.

  • Sapuan air laut pasca-letusan Krakatau 1883 meratakan ratusan desa pemukiman warga di pesisir Jawa Barat dan Lampung tanpa menyisakan bangunan. Tingginya angka korban jiwa yang diperkirakan mencapai lebih dari 36.000 orang ini sebagian besar disebabkan oleh hantaman gelombang tsunami dahsyat yang datang tiba-tiba setelah ledakan utama runtuh.

Dampak letusan Krakatau 1883 membuktikan betapa besarnya pengaruh aktivitas vulkanik Selat Sunda terhadap sistem atmosfer bumi.

Proses Lahirnya Anak Gunung Krakatau dari Dasar Laut

Runtuhnya kaldera purba akibat letusan Krakatau 1883 tidak mematikan aktivitas magmatis di kawasan Selat Sunda secara permanen. Setelah beberapa dekade berada dalam fase tenang, aktivitas vulkanik di bawah permukaan laut kembali muncul ke permukaan.

Berikut adalah perjalanan sejarah terbentuknya pulau vulkanik baru pasca-letusan Krakatau 1883 hingga munculnya pulau baru di Selat Sunda:

  • Pada bulan Desember 1927, nelayan lokal dan tim peneliti mulai melihat gumpalan asap tebal serta letupan material vulkanik yang timbul di tengah laut tepat di lokasi bekas kaldera letusan Krakatau 1883. Fenomena ini terjadi karena saluran magma di bawah kerak bumi kembali aktif dan terus menerus menyemburkan lava padat hingga tumpukannya perlahan naik melewati permukaan air laut.

  • Tumpukan material endapan lava dan abu yang secara bertahap membesar dan membentuk dataran pulau baru ini secara resmi dinamai Anak Gunung Krakatau pada bulan Agustus 1930. Penamaan ini diberikan oleh para ahli geologi untuk menandai bahwa gundukan tanah baru tersebut merupakan "anak" atau penerus aktivitas vulkanis dari induknya yang telah hancur.

  • Gunung baru ini tumbuh dengan sangat cepat, yakni mencatatkan pertambahan tinggi rata-rata 4 hingga 6 meter setiap tahunnya. Laju pertumbuhan pesat ini disebabkan oleh sifat gunung yang sangat aktif meletus secara berkala, di mana setiap letusan kecil selalu menambah lapisan tumpukan material lava, batu pijar, serta abu baru di atas puncaknya.

  • Anak Gunung Krakatau mengalami erupsi berkelanjutan pada Desember 2018 yang membuat struktur lereng fisiknya menjadi tidak stabil. Beban material yang berat serta getaran letusan menyebabkan sebagian besar lereng tubuh gunung runtuh dan longsor ke dasar laut, yang secara instan memicu tsunami di sepanjang Selat Sunda serta memotong ketinggian fisik gunung dari semula 338 meter menjadi hanya sekitar 110 meter saja.

Kondisi Terkini Erupsi Anak Gunung Krakatau

Aktivitas vulkanik Anak Gunung Krakatau di Selat Sunda kembali menunjukkan peningkatan signifikan berdasarkan laporan resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui situs Magma. Gunung api aktif ini tercatat mengalami erupsi yang berlangsung secara terus-menerus sejak Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB, sehingga otoritas geologi menetapkan status keamanannya pada Level III atau Siaga. 

Petugas pengamat di Pos Pasauran melaporkan terdengarnya suara dentuman dan gemuruh yang diakibatkan oleh pelepasan gas bertekanan tinggi saat magma terdorong keluar dari perut bumi. Kondisi erupsi ini diinterpretasikan sebagai fenomena lava fountain atau air mancur lava, yang menandakan luncuran magma cair bertekanan tinggi secara kontinyu ke udara.

Selama periode pengamatan, puncak Anak Gunung Krakatau tertutup kabut tebal hingga skala 0–III di tengah cuaca berawan hingga mendung dengan suhu udara berkisar antara 27,2 hingga 27,8 derajat Celsius. Perekaman instrumen seismograf mencatatkan terjadinya gempa letusan dengan amplitudo maksimum mencapai 70 milimeter, yang menunjukkan tingginya energi getaran vulkanik dari dalam kantong magma. Guna mengantisipasi bahaya lontaran batu pijar dan paparan abu vulkanik, otoritas mengimbau masyarakat, nelayan, serta wisatawan untuk tidak mendekati atau beraktivitas dalam radius aman minimal 3 kilometer dari kawah aktif.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Editor: Safrezi

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan