6 Film Indonesia yang Ikut Busan International Film Festival
Perfilman Indonesia kembali mencatatkan prestasi gemilang di kancah internasional. Pada penyelenggaraan Busan International Film Festival (BIFF) ke-31 yang dijadwalkan berlangsung pada 7 hingga 16 Oktober 2026 di Busan, Korea Selatan, sebanyak enam karya sinema nasional resmi terpilih untuk ditayangkan. Ajang tahunan yang berpusat di Busan Cinema Center ini merupakan festival film terbesar di Asia.
Keikutsertaan film Indonesia di Busan International Film Festival mencakup berbagai kategori penting. Kehadiran delegasi Indonesia ini dipimpin oleh jajaran karya film panjang hingga film pendek yang bersaing di program kompetisi resmi maupun penayangan non-kompetisi. Berikut adalah ulasan mengenai enam judul film nasional yang turut berpartisipasi di ajang ini.
Siapa Saja Sineas dan Karya yang Masuk Kompetisi Utama?
Kategori kompetisi utama di Festival Film Busan menjadi panggung paling bergengsi bagi para pembuat film untuk merebut penghargaan tertinggi Jiseok dan New Currents. Pada edisi 2026, Indonesia berhasil mengirimkan dua karya film panjang untuk bersaing secara langsung dalam program tersebut. Kedua karya sineas tanah air yang berhasil menembus kompetisi utama festival film Busan adalah sebagai berikut:
Ibuku (My Mother): Film karya sutradara Eddie Cahyono ini bersaing di kompetisi Jiseok. Berdurasi 105 menit, film ini menceritakan perjuangan Sumiati (Christine Hakim) yang bertolak ke Arab Saudi demi menyelamatkan putrinya, Sri (Ayushita), dari ancaman hukuman mati akibat tuduhan kasus pembunuhan.
Laut Bercerita (The Sea Speaks His Name): Disutradarai oleh Yosep Anggi Noen, film adaptasi novel karya Leila S. Chudori ini masuk dalam kompetisi Jiseok. Film ini mengisahkan perjalanan hidup Biru Laut (Reza Rahadian), seorang mahasiswa aktivis yang diculik dan dihilangkan secara paksa pada masa Orde Baru tahun 1998, serta dampak trauma berkepanjangan yang dialami keluarga korban.
Film Pendek Indonesia yang Berhasil Menembus Kompetisi Wide Angle
Persaingan di Festival Film Busan tidak hanya diperuntukkan bagi karya berdurasi panjang. Program Wide Angle - Asian Short Film Competition menjadi ajang pembuktian bagi sutradara muda Asia dalam mengeksplorasi bahasa visual secara efektif dan tajam. Satu film pendek perwakilan tanah air yang berhasil lolos seleksi ketat kompetisi ini adalah:
αLPα: Film pendek berdurasi 19 menit karya sutradara Dhiwangkara Seta ini dibintangi oleh Elang El Gibran dan Whani Darmawan. Alur cerita mengisahkan fenomena krisis identitas anak muda melalui kisah Banyu, seorang vokalis musik punk yang dipaksa masuk ke lembaga rehabilitasi moral dan harus berhadapan dengan dogma pendisiplinan yang represif.
Kategori A Window on Asian Cinema
Program A Window on Asian Cinema dijadwalkan tayang sepanjang pekan festival di Busan Cinema Center. Kategori ini diselenggarakan khusus untuk menampilkan karya-karya terpilih yang mencerminkan gaya penceritaan unik serta gambaran dinamika sosial dari berbagai negara Asia. Satu film karya sineas tanah air terpilih untuk mengisi program penayangan khusus tersebut, yaitu:
Empat Musim Pertiwi (Four Seasons in Java): Sutradara Kamila Andini menghadirkan drama puitis yang berfokus pada sosok Pertiwi (Putri Marino). Kisah berlatar pedesaan Jawa ini menyoroti kepulangan Pertiwi setelah 20 tahun merantau, yang memicu konflik keluarga terkait hak atas tanah, ingatan kolektif masyarakat, serta rekonsiliasi masa lalu.
Keterlibatan Indonesia dalam Proyek Ko-Produksi Internasional
Bentuk keterlibatan film Indonesia di Busan International Film Festival tidak hanya terbatas pada produksi mandiri, melainkan juga melalui kolaborasi lintas negara. Sineas dan rumah produksi lokal memegang peranan dalam aspek pendanaan, pemikiran kreatif, hingga eksekusi teknis dua proyek internasional. Dua proyek kolaborasi internasional yang melibatkan sineas Indonesia meliputi:
9 Temples to Heaven: Film fiksi garapan sutradara asal Thailand, Sompot Chidgasornpongse, ini merupakan hasil ko-produksi sembilan negara yang melibatkan produser Indonesia. Kisahnya menceritakan perjalanan spiritual seorang anak yang mengantar ibunya yang sakit parah mengunjungi sembilan kuil suci di Thailand demi mengubah takdir kematian.
Hearing: Disutradarai oleh Le Bao (Vietnam), proyek film ini dikerjakan melalui kolaborasi rumah produksi Asia-Eropa yang melibatkan produser lokal Yulia Evina Bhara. Film yang menelusuri kehidupan kelompok marginal di Hanoi ini ditayangkan pada program A Window on Asian Cinema.
Pencapaian enam film Indonesia di Busan International Film Festival 2026 membuktikan kematangan industri sinema tanah air dalam menghadirkan narasi yang relevan secara global. Keikutsertaan dalam festival kelas dunia ini memberikan ruang bagi isu-isu sosial, sejarah, dan budaya Indonesia untuk disaksikan oleh ribuan penonton, jurnalis internasional, serta pembeli hak siar global.
Keberhasilan ini diharapkan dapat membuka akses distribusi internasional yang lebih luas bagi film Indonesia di pasar global. Dukungan dari pemerintah dan penikmat film dalam negeri menjadi kunci utama agar ekosistem perfilman nasional terus berkembang secara berkelanjutan.

