Kasus di Kalimantan Timur Naik 523%, Varian Delta Kini Capai 1.331

Kemampuan pemerintah dalam menangani kasus Covid-19 varian Delta akan menentukan momentum pertumbuhan ekonomi.
Image title
7 Agustus 2021, 12:38
Personel Korps Brimob berbaju hazmat mengikuti apel gelar pasukan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (2/7/2021). Apel gabungan antara Polri, TNI dan unsur Pemprov DKI Jakarta itu dalam rangka Operasi Kontijensi Aman Nusa-II Penanganan COVID-19 tahun 2021
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/wsj.
Personel Korps Brimob berbaju hazmat mengikuti apel gelar pasukan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (2/7/2021). Apel gabungan antara Polri, TNI dan unsur Pemprov DKI Jakarta itu dalam rangka Operasi Kontijensi Aman Nusa-II Penanganan COVID-19 tahun 2021. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/wsj.

Kasus positif Covid-19 dari varian Delta di Indonesia bertambah sebanyak 262 dalam lima hari. Provinsi Kalimantan Timur dan DKI Jakarta melaporkan penambahan kasus yang sangat signifikan.

Berdasarkan data Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan, total kasus positif Covid-19 dari varian Delta kini mencapai 1.331 kasus di 25 provinsi, hingga Rabu (4/8). Riau dan Kalimantan Selatan adalah dua provinsi baru yang melaporkan adanya kasus di wilayah mereka. Riau melaporkan adanya enam kasus dari varian Delta sementara Kalimantan Selatan satu kasus.

Enam provinsi di Pulau Jawa merupakan penyumbang kasus terbanyak dari varian Delta. Hingga Rabu (4/8), jumlah kasus varian Delta yang tersebar di Pulau Jawa mencapai 919 kasus, atau 69% dari total kasus nasional. DKI Jakarta menyumbang kasus terbanyak dengan total jumlahnya mencapai 390 kasus, angka ini naik 21% bila dibandingkan yang dilaporkan pada Kamis (30/7). Selama rentang waktu lima hari, hanya tiga provinsi di Pulau Jawa yang melaporkan adanya penambahan kasus varian Delta yakni Jakarta dengan 67 kasus, Jawa Tengah 19 kasus, dan Jawa Barat dengan empat kasus.

Jumlah kasus baru dari varian Delta yang dilaporkan wilayah Luar Jawa bertambah 172 kasus atau melonjak % 72% hanya dalam waktu lima hari. 

Advertisement

Penambahan terbanyak ada di Provinsi Kalimantan Timur yakni sebanyak 157 kasus dalam rentang waktu lima hari, atau naik 523%. Kalimantan Timur menjadi satu-satunya provinsi di luar Jawa yang mencatat kasus varian Delta di atas level 100.  Provinsi lain yang melaporkan kenaikan signifikan varian Delta adalah Nusa Tenggara Barat dengan tambahan kasus baru mencapai delapan atau naik 50%.

Berikut sebaran kasus Varian Delta di setiap provinsi hingga Rabu (4/8)
1. DKI Jakarta : 390
2. Jawa Barat :281
3. Jawa Tengah : 191
4. Daerah Istimewa Yogyakarta : 20
5. Banten: 20
6. Jawa Tmur : 17
7. Sumatera Utara : 29
8. Sumatera Selatan: 9
9. Bengkulu: 3
10. Lampung: 3
11. Kepulauan Riau: 2
12. Riau: 6
13. Bali: 25
14. Nusa Tenggara Timur: 51
15. Nusa Tenggara Barat: 24
16. Kalimantan Timur: 187
17. Kalimantan Utara: 16
18. Kalimantan Tengah: 3
19. Kalimantan Selatan: 1
20. Sulawesi Selatan: 14
21. Sualwesi Utara: 7
22. Gorontalo: 1
23. Maluku: 9
24. Papua Barat: 12
25. Papua: 10

Penentu Momentum Pertumbuhan

Menteri Keuangan Sri Mulyani, Kamis (5/8), mengatakan varian Delta akan mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi ke depan karena ganasnya varian tersebut bisa kembali menaikkan kasus dengan cepat.

"Down side risk untuk kuartal III terutama adalah varian Delta  karena ini nantinya yang mempengaruhi dari sisi demand. Konsumsi sangat tergantung kepada mobilitas dan aktivitas masyarakat dan juga akan mempengaruhi ekspor kita," tutur Sri Mulyani.

Sejumlah negara kini tengah bergulat untuk memerangi lonjakan kasus varian Delta, seperti Cina dan Amerika Serikat. Dua negara ini merupakan mitra perdagangan Indonesia.  Indonesia mencatatkan pertumbuhan sebesar 7,07% secara tahunan pada kuartal II tahun 2021, ini adalah pertumbuhan positif sejak kuartal I/2020. 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto juga mengatakan pertumbuhan ekonomi kuarta III akan sangat ditentukan oleh pergerakan varian Delta.

"Di kuartal III, dengan adanya varian Delta jumlah kasus aktif meningkat. Saat kasus naik kita melihat ada tekanan pada pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait