Kontainer Berpendingin Buatan INKA Sudah Masuk Tahap Uji Coba

Kontainer berpendingin tersebut merupakan hasil kerja sama antara INKA dan PT Kelola Mina Laut (PT KML).
Image title
24 September 2021, 11:26
Luhut, kontainer, perdagangan
Kemenko Marves
Reefer container hasil kerja sama antara PT Industri Kereta Api (PT INKA) dan PT Kelola Mina Laut (PT KML).

Guna semakin mendorong peningkatan hasil produk kelautan dan perikanan, perusahaan dalam negeri diminta terus mengembangkan bisnis reefer container. PT Industri Kereta Api (PT INKA) bekerja sama dengan PT Kelola Mina Laut (PT KML) menjawab tantangan itu dengan memproduksi refeer container. Mereka sudah melakukan uji coba prototipe produknya,  di Madiun.

Prototipe reefer container buatan  INKA dan KML memiliki tiga kapasitas yakni kapasitas 1 ton dan 2 ton, serta 5 ton.
Selain membantu industri perikanan, pembuatan refeer container merupakan salah satu upaya pemerintah untuk membentuk industri berbasis sistem rantai dingin atau cold chain system bagi produk kelautan dan perikanan Indonesia.

Reefer container merupakan jenis peti kemas yang dilengkapi dengan sistem pendingin. Fungsinya adalah untuk mengawetkan atau mendinginkan suhu produk di dalamnya, seperti ikan.

 “Reefer container ini sudah diujicobakan dan sudah dapat berfungsi dengan baik. Dengan adanya keberhasilan ini, maka kita perlu terus mengawal dan mendorong scale up nya menuju produksi massal,” kata Amalyos Chan, Asisten Deputi (Asdep) Hilirisasi Sumber Daya Maritim Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) , saat melakukan uji coba, seperti dikutip dari siaran pers, Kamis (23/9).

 Sementara itu, General Manager dari PT INKA Junaidi menyatakan bahwa, pembuatan reefer container mengandung konten lokal yang telah disesuaikan juga dengan ketentuan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) dari Kementerian Perindustrian.

“Reefer container ini mengandung lokal content sebesar 71%. Dengan adanya hal ini, produksi reefer container ini mampu berkontribusi terhadap gencarnya gerakan bangga buatan Indonesia,” kata Junaidi.

Reefer container menjadi salah satu cara peningkatan produksi hasil produk perikanan dan kelautan. Dengan adanya reefer container, produk-produk sektor kelautan perikanan tangkap segar, mampu terus terjaga kualitasnya sampai ke negara tujuan saat ekspor atau saat dikirim ke tiap daerah di Indonesia.

 Adapun, penggunaan reefer container karya dalam negeri mendapat dukungan dari berbagai asosiasi yang bergerak di bidang kelautam dan perikanan di Indonesia, dan salah satunya dari Ketua Umum Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI) Hasanuddin Yasni.

“Tempat penyimpanan untuk produk kelautan dan perikanan berupa reefer container akan sangat membantu peningkatan hilirisasi industri kelautan dan perikanan Indonesia. Kita aplikasikan reefer container ini nantinya bagi para nelayan kita, sehingga mutu dan kualitas produk tangkapan mereka makin bisa bersaing,” katanya.

Sebagaimana diketahui, kontainer berperan penting bagi kinerja ekspor Indonesia. Namun, saat ini kinerja ekspor Indonesia masih dibayang-bayangi oleh adanya kelangkaan kontainer.

Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Mahendra Rianto mengatakan, kelangkaan kontainer dipicu oleh kebijakan lockdown yang diterapkan banyak negara terutama negara tujuan ekspor.

Arus pergerakan kontainer mengalami penurunan bahkan terhenti karena banyak kontainer yang menumpuk di negara tujuan dan tidak bisa kembali karena tidak ada produk yang dibawa.

Negara-negara produsen dari Asia seperti Cina, Jepang dan Korea Selatan mengirim produk untuk diekspor ke berbagai negara seperti di Amerika Serikat, Eropa, dan Australia.

Begitu sampai di negara tujuan, arus kontainer terhenti atau berjalan lamban karena tidak banyak produk yang bisa kembali diangkut ke negara asal.

“Sehingga terjadi ketidakseimbangan volume kontainer, sementara kapal itu kalau mau bergerak harus ada muatan kan, kalau nggak ya tidak ada yang bayar,” kata Mahendra kepada Katadata, Kamis (2/9).

Berkurangnya lalu lintas kontainer menyebabkan turunnya jumlah kapal yang beredar di lautan dan juga di hub perdagangan seperti Singapura, Tanjung Pelepas, Cina dan Korea Selatan.

Kekurangan jumlah kapal besar di hub tersebut juga menyebabkan barang dari Indonesia tidak bisa diekspor karena tidak ada pergerakan kontainer masuk ke Indonesia.


Reporter: Cahya Puteri Abdi Rabbi
Editor: Maesaroh
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait