Dihadiri 1.000 Perusahaan, Trade Expo Indonesia Bidik Transaksi Rp21 T

Transaksi pada Trade Expo Indonesia pada tahun 2020 mencapai US$1,3 miliar.
Image title
27 September 2021, 16:28
industri halal
Kemenparekraf
Potensi industri halal sangat besar tetapi belum dimaksimalkan oleh pengusaha Indonesia.

Trade Expo Indonesia (TEI) ke-36 akan digelar secara virtual pada 21 Oktober hingga 4 November 2021 mendatang. Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mentargetkan pameran tahunan tersebut bisa mendatangkan transaksi  sebesar US$1,5 miliar atau Rp 21,45 triliun.

Setidaknya akan ada 1.000 perusahaan serta 500.000 visitor dan  pembeli dari mancanegara yang terlibat dalam TEI ke-36. Sejumlah acara akan digelar sepanjang pameran mulai dari trade forum,  matching forum, bisnis konseling, hingga fashion week.

Dalam rangkaian TEI-36 ini , Indonesia juga akan mengundang menteri perdagangan dari negara sahabat seperti Singapura dan Filipina, serta World Bank.  Tahun lalu, TEI mampu mendulang transaksi sebesar US$1,3 miliar. Padahal, acara tersebut dilakukan secara virtual untuk pertama kalinya. 

Tahun ini, TEI ke-36 masih digelar secara virtua tetapi Kementerian Perdagangan sudah menyiapkan e-catalog untuk memudahkan pengunjung dan peserta bertransaksi atau melihat produk yang dipamerkan.

"Kami berharap penyelenggaraan TEI akan selalu menjadi agenda utama bagi seluruh buyer di mancanegara dalam mencari produk serta mitra bisnis yang tepat dan mampu berkontribusi secara langsung terhadap peningkatan ekspor Indonesia, baik jangka pendek maupun jangka panjang," tutur Lutfi dalam acara 'Launching TEI : Talkshow' pada Senin (27/9).

 Kiblat Fashion Muslim Dunia
Lutfi mengatakan Indonesia secara khusus akan menjadikan TEI ke-36 sebagai ajang untuk memposisikan Indonesia sebagai  pusat industri halal dan kiblat industri fashion muslim dunia.
Melalui TEI, Indonesia akan mengadakan industri halal forum serta menggelar fashlion show busana muslim.

"Kalau kita lihat merk-merk dari Prancis itu kan sudah menjadi kiblat fashion dunia. Untuk industri fashion muslim kan sekarang masih nobody kasarnya lah. Namun demand sangat luar biasa. Fashion muslim masih menjadi komoditas makanya kita akan buat standarnya untuk menjadi premium,"tutur Mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) tersebut.

Indonesia akan membuat panel khusus yang terdiri dari fashion expert lokal dan dunia untuk menentukan standar fashion muslim buatan Indonesia.

"Standar ini akan membedakan (kita) bukan lagi menjadi komoditas standar (tapi) yang dihargai dimana-mana," katanya.

 Besarnya pasar industri fashion muslim bisa dilihat dari jumlah penduduk yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Ada 58 negara yang tergabung dalam OKI dengan jumlah penduduk mencapai 1,8 miliar. 

"Dari 1,8 miliar itu 53% adalah orang muda. Jadi ini adalah market yang luar biasa. Dari  270 juta penduduk Indonesia, 85% nya kan muslim. Jadi secara natural Indonesia bisa menjadi basis produksi (fashion muslim),"ujar Mantan Duta Besar RI untuk Jepang tersebut.

Di luar fashion, Indonesia juga memiliki keuanggulan produk kecantikan dan kosmetik halal. Lutfi bahkan menyebut produk perawatan kecantikan halal Indonesia sudah menjadi tuan rumah di negera sendiri.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait