Bajaj Oranye Show
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Image title
Oleh Ajeng Dinar Ulfiana
13 Januari 2019, 05:00

Bajaj Oranye, Riwayatmu Kini

Tidak genap rasanya bila datang ke Jakarta tak menaiki moda transportasi umum ini: Bajaj. Kendaraan roda tiga tersebut salah satu ikon Ibu Kota. Sejak pertama kali beroperasi pada pertengahan 1970, warnanya beberapa kali berganti. Pernah kuning dan hijau. Lalu oranye yang legendaris itu.

Karena berangsur mesti bermutasi kembali mulai lima tahun lalu –seiring perubahan bahan bakarnya- bajaj-bajaj oranye pun usang. Seperti yang terlihat di sebuah ruas jalan di kawasan Cideng, Jakarta Pusat (7/1), rusak dan tak terawat.

(Baca: Integrasi Tiket Transportasi Antarmoda Diterapkan Akhir 2018)

Gang Makmur Raya itu tampak seperti kuburan bagi bajaj-bajaj tersebut. Hampir semua bajaj rusak berat. Seluruh bagian karatan serta bolong di mana-mana hingga ditumbuhi tanaman jalar serta banyak sampah di dalamnya.

Keadaan tersebut menggerakkan Wahyudin, warga gang itu, untuk mengubah belasan bajaj yang usang menjadi lebih baik. Bisnisnya bermula ketika para pemilik bajaj oranye kesulitan mencari onderdil hingga membuang kendaraan itu begitu saja, setidaknya dijual sebagai besi tua.

Dia pun mempermaknya menjadi tampak baru. Selain dijual, bajaj tersebut disewakan untuk sejumlah kegiatan, seperti festival kebudayaan hingga stan bazar. Harga bajaj baru bervariasi, dari Rp 6 hingga 12 juta.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.