Soal Tiket ‘Mahal’ dan Nasib Maskapai Nasional

Metta
Oleh Metta Dharmasaputra.
12 Juni 2019, 09:35
Metta
Ilustrator: Betaria Sarulina
Pesawat Garuda di Hangar GMF,  Tanggerang,  Banten (2/3). Saat ini Garuda Indonesia mengoperasi 24 pesawat berbadan lebar Aibus A330 sementara unit biaya rendahnya Citilink mengoperasikan 51 unit A320. 

Jalur udara, tak lagi menjadi primadona arus mudik Lebaran tahun ini. Tiket pesawat yang naik sejak kuartal keempat tahun lalu, dirasa mahal.

Untuk mengakomodasi keluhan publik, pemerintah sesungguhnya telah ‘memaksa’ perusahaan maskapai menurunkan tarif. Caranya, tarif batas atas (TBA) tiket diturunkan 12%-16% untuk jenis penerbangan ekonomi yang menggunakan pesawat jet.

Penurunan itu diatur dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 106 Tahun 2019 yang dikeluarkan pada 15 Mei lalu. Aturan baru ini menggantikan Kepmenhub 72/2019 yang diterbitkan sekitar satu setengah bulan sebelumnya (29 Maret 2019).

Dibandingkan kuartal empat 2018, harga tiket domestik untuk Garuda dan Citilink pada kuartal pertama 2019 memang naik signifikan, masing-masing sebesar 15% dan 23%. Begitu pula Sriwijaya Group, yang kini di bawah pengelolaan Garuda. Harga tiket Sriwijaya Air naik 43% dan NAM Air 81%.

Kenaikan itu terlihat jauh lebih tinggi lagi jika dibandingkan dengan kuartal pertama tahun sebelumnya. Garuda naik 46%, Citilink 64%, Sriwijaya Air 97%, dan NAM Air 149%. 

Dengan kenaikan setinggi itu, penurunan TBA yang rata-rata sebesar 15% dirasa tak cukup. Banyak tuntutan menginginkan agar harga tiket kembali ke tarif awal, sebelum ada kenaikan. Pertanyaannya, seberapa realistis tuntutan ini?

Suara di kabinet pun terbelah. Menteri Pariwisata Arief Yahya sempat berpendapat, idealnya tarif pesawat Low Cost Carrier (LCC), seperti Citilink dan Lion Air, diturunkan hingga 40%. Alasannya, kenaikan harga tiket telah membuat sejumlah tujuan pariwisata sepi pengunjung.

(Baca: Tiket Pesawat Mahal, Kunjungan Wisatawan Turun Hingga 30%)

Setelah melalui tarik-ulur yang cukup alot, akhirnya dalam rapat koordinasi di Kementerian Perekonomian disepakati penurunan TBA rata-rata 15%. 

Pemicu Kenaikan Harga

Harus diakui, kenaikan harga tiket yang cukup drastis dalam periode yang relatif pendek memang menyentak publik. Namun, ada berbagai faktor yang perlu dilihat secara proporsional di balik kebijakan para maskapai ini.

Pertama, stagnasi harga tiket. Perlu diingat bahwa sudah cukup lama harga tiket tidak naik. Seperti dituturkan Direktur Utama Garuda, Arie Askhara, di Komisi VI DPR, TBA tidak pernah dinaikkan sejak 2016. Penyesuaian TBA terakhir dilakukan berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan No. 14 Tahun 2016.

Kedua, faktor kenaikan biaya. Di tengah stagnasi harga tiket, berbagai elemen yang mempengaruhi biaya operasi maskapai sudah berubah.

Tiga komponen terbesar biaya operasi maskapai adalah bahan bakar avtur (38%), biaya sewa pesawat (26%) dan biaya perawatan atau overhaul (7%). Di luar itu masih ada biaya kebandaraan, seperti airport tax dan sewa hanggar. Lalu faktor kurs rupiah dan suku bunga pinjaman juga berpengaruh.

Dalam kurun tiga tahun (2016-2018) harga minyak dunia berdasarkan harga patokan rata-rata di Singapura  atau Mid Oil Plat’s Singapore (MOPS) mengalami kenaikan 63%. Bahkan jika dilihat dari harga terendah (US$ 38 per barel) dan tertinggi (US$ 95 per barel) rentangnya mencapai 151%.

Kurs rupiah juga berpengaruh besar karena terkait impor pengadaan BBM, peralatan, suku cadang maupun sewa pesawat. Dalam kurun 2016-2018, kurs rupiah rata-rata melemah sekitar 9%. Bahkan kurs sempat melejit dari kisaran Rp 13 ribu per dolar AS hingga ke level Rp 15.227 per dolar pada Oktober 2018, yang berarti melemah 17%. 

Fenomena serupa terjadi pada suku bunga pinjaman yang membuat beban pembiayaan kian berat. Kenaikannya bisa dilihat dari tiga suku bunga acuan, yakni BI Rate naik 47%, Jakarta Interbank Offered Rate (JIBOR) 8,6% dan London Interbank Offered Rate (LIBOR) 266%.

Ketiga, penyelamatan keuangan perusahaan. Kenaikan harga bahan bakar dan gejolak kurs membuat kondisi keuangan semua maskapai tidak dalam kondisi yang prima. Untuk tahun buku 2018, semua maskapai LCC di Indonesia bahkan menderita kerugian. Termasuk PT AirAsia Indonesia Tbk. yang membukukan kerugian sebelum pajak sekitar Rp 1 triliun.

Dalam situasi serba sulit ini, manajemen Garuda pun dituntut untuk bisa menekan kerugian yang terus terjadi. Selain itu, maskapai ini dihadapkan pada kebutuhan pembayaran utang yang  jatuh tempo pada kuartal I 2019 senilai US$ 125 juta (sekitar Rp 1,8 triliun).

Dengan adanya kenaikan harga tiket, utang itu akhirnya bisa terbayar. Ditambah dengan berbagai efisiensi, pada kuartal I 2019 lalu Garuda bahkan bisa mengantongi laba sekitar US$ 20 juta (sekitar Rp 290 miliar). Ini tentu saja kabar menggembirakan, setelah bertahun-tahun terus merugi.

Penting juga dicatat bahwa kenaikan harga tiket yang dilakukan oleh Garuda masih di bawah batas maksimum yang ditetapkan pemerintah. Harga tiket yang sebelumnya dipatok di kisaran 70% dari TBA, dinaikkan sekitar 20%-25% menjadi 95%. Jadi, jelas tidak menyalahi aturan.

Keempat, perbandingan dengan moda transportasi lainnya. Harga tiket pesawat jika diperbandingkan dengan tiket kereta api tak jauh berbeda. Padahal, komponen biaya dan tuntutan tingkat keselamatannya jauh lebih tinggi.

Halaman:
Metta
Metta Dharmasaputra.
Pendiri Katadata Insight Center
Editor: Redaksi

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke [email protected] disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...