Wawancara

Chili Punya Perjanjian Dagang Bebas Terluas, Peluang bagi Indonesia

IC-CEPA menjadi momentum Indonesia dan Chili untuk meningkatkan perdagangan. Kedua negara terimbas perang dagang karena bergantung pada ekspor komoditas

Tim Redaksi

Wakil Menteri Luar Negeri Bidang Perdagangan Chili Rodrigo Yáñez Benítez
Ilustrator Katadata/Betaria Sarulina
Wakil Menteri Luar Negeri Bidang Perdagangan Chili Rodrigo Yáñez Benítez

Wakil Menteri Luar Negeri Bidang Perdagangan Chili Rodrigo Yáñez Benítez hanya punya waktu semalam berada di Jakarta. Kehadirannya, untuk pertama kali ke Indonesia, dalam rangka pertukaran instrumen ratifikasi dengan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita.

Pada Agustus nanti kedua negara akan menerapkan perjanjian dagang Indonesia-Chile Comprehensive Economic Partnership Agreement (IC-CEPA). Benítez menganggap kesepakatan ini menjadi momen penting bagi kedua negara. Indonesia butuh masuk ke pasar Amerika Latin, begitu pula Chili dengan pasar Asia Tenggara. Banyak hal, menurut dia, bisa menjadi peluang besar.

Ia pun tak menampik jika kesepakatan itu bisa membuat defisit dagang Chili dengan Indonesia melebar. "Kami memiliki defisit perdagangan hampir US $ 20 juta, tetapi potensi perdagangan kami jauh dari itu," katanya kepada Tim Katadata di rumah Duta Besar Chili untuk Indonesia, Jalan Widya Chandra V, Jakarta, Senin (10/6).

Pada 2018, total perdagangan Indonesia-Chili mencapai US$ 274 juta. Sementara pada Januari-Maret 2019, total perdagangan kedua negara mencapai US$ 56,1 juta dengan nilai ekspor Indonesia sebesar US$ 34,9 juta dan impor sebesar US$ 21,2 juta.

Di sela kesibukannya, ia menyempatkan diri memberikan wawancara tatap muka dengan beberapa media, termasuk Katadata.co.id. "Semoga saya tidak terlihat kelelahan di depan kamera," katanya tersenyum.

Ia berbicara soal pertemuan kerja sama Asia Pasifik (APEC) yang sedang berlangsung di negaranya, dampak perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok ke negara berkembang serta potensi produk ekspor yang perlu ditingkatkan dengan Indonesia. Berikut petikan wawancaranya.

Rodrigo Yanez
Rodrigo Yanez (Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA)

 

Jelang pertemuan puncak para pemimpin APEC pada November nanti di Chili, pembahasan apa yang penting disepakati oleh para anggota, terutama di tengah memanasnya perang dagang AS-Tiongkok?

Saya pikir, topik perdagangan internasional sangat penting karena hal itu dapat menciptakan pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja semua negara, bahkan Indonesia.

Apa yang kami lihat pada pertemuan menteri perdagangan minggu lalu merupakan pernyataan yang kuat tentang dukungan APEC terhadap WTO (Organisasi Perdagangan Dunia). APEC mengakui peran WTO terhadap perdagangan internasional. APEC juga mengarahkan peran WTO ke arah yang tidak diskriminatif dan transparan. Kami juga membahas bagaimana dampak pasar, prediktabilitas pasar, dan fokus meningkatkan fungsi WTO.

Ini merupakan hal penting dan kami harus tetap memperhatikan peningkatan tensi perdagangan yang berdampak ke berbagai negara. Kami harus fokus kepada konsensus bersama dan memastikan setiap topik aman untuk dibahas dalam APEC.

Konsumsi menjadi pendorong ekonomi negara APEC saat ini. Bagaimana masa depan hubungan perdagangan internasional di tengah perang dagang, khususnya bagi negara berkembang?

Sayangnya, memang benar perdagangan menjadi kurang penting dalam pertumbuhan ekonomi saat ini. Kami harus mengubah kondisi itu.

Sebagai bagian dari MRT (Menteri yang Bertanggung Jawab atas Perdagangan) serta Komite Perdagangan dan Investasi, kami sepakat untuk mendorong perdagangan sebagai motor utama pertumbuhan. Dan APEC memiliki peran penting untuk tujuan itu. 

Dengan kondisi tersebut, bagaimana Chili melakukan substitusi permintaan Tiongkok yang melemah? 

Bagi Chili, Tiongkok merupakan mitra dagang utama. Di saat perang dagang, kami berusaha meningkatkan hubungan perdagangan dengan mitra dagang lainnya, seperti dengan negara-negara ASEAN, khususnya Indonesia melalui  perjanjian dagang komprehensif (Comprehensive Economic Partnership Agreement/CEPA). 

(Baca: Perjanjian Dagang RI-Chili Segera Berlaku, Pos Tarif Berkurang 89,6%)

Dengan negara lainnya?

Kami juga mendorong perjanjian dengan mitra di wilayah Afrika Utara, India, dan Komisi Ekonomi Eropa. Kami perlu memperluas perdagangan untuk menambah mitra dagang.

Bagaimana dengan CPTPP (kesepakatan dagang Trans-Pasifik)? Apakah memberi manfaat peningkatan ekspor-impor Chili di tengah memanasnya perang dagang?

Itu pertanyaan yang sangat penting.  AS merupakan pasar dari 500 juta konsumen dari 13% PDB dunia. Jadi, bagi kami ini juga sangat penting. FTA (kerja sama perdagangan bebas) sangat penting di Asia Pasifik. Bahkan kami memiliki (kerja sama) dengan 11 negara TPP (Kerjasama Trans Pasifik). CPTPP memiliki pasar yang sama pentingnya dengan Jepang, yang merupakan tujuan ekspor keempat kami. Juga dengan Vietnam, Malaysia yang masih harus diratifikasi kerja samanya.

Potensi produk ekspornya?

Jadi, kami melihat tiga ribu produk berbeda yang bisa ditransaksikan (melalui CPTPP). Produk tersebut merupakan produk pertanian atau agrofood yang sangat kompetitif di Chili. Jadi, kami mengharapkan manfaat dari kerja sama ini untuk meningkatkan pasar yang berbeda dengan mitra dagang utama kami. Terlebih lagi, ada perluasan perang dagang Tiongkok dan AS. Jadi pasar ini sangat penting bagi kami.

Chili berharap akan lebih banyak negara yang bergabung dengan TPP. Inggris telah menyatakan minatnya untuk bergabung (Perjanjian Komprehensif dan Progresif untuk Kemitraan Trans-Pasifik, atau dikenal sebagai TPP11).  Negara-negara seperti Korea Selatan atau Thailand juga menyatakan minatnya.

Kami pikir CPTPP juga mencerminkan arsitektur perdagangan di masa depan. Sebab, masalah generasi selanjutnya mencakup perjanjian inklusif, perempuan, hingga masyarakat adat. Kami berharap dapat mengukur dampak positif perjanjian tersebut. Itu sebabnya kami bersemangat.

Nomura (bank investasi Jepang) menyebut Chili sebagai salah satu dari lima negara yang mendapatkan dampak positif dari perang dagang AS-Tiongkok. Apa pendapat Anda soal itu?

Sesungguhnya, kami merupakan salah satu negara yang paling rentan terhadap perang dagang  karena bergantung pada ekspor komoditas. Tensi perdagangan AS-Tiongkok sangat berdampak pada ekspor Chili yang menurun dibandingkan tahun lalu.  

Penurunan harga komoditas juga memengaruhi Chili. Karena itu, kami sangat fokus untuk memperluas perdagangan dengan negara lain karena tekanan dari tensi perdagangan. Laju pertumbuhan juga telah mengalami penyesuaian akibat perang dagang.  Kami telah melihat peluang perang dagang, tetapi ada juga risiko tambahan yang mengancam pertumbuhan Chili.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Opini dan Wawancara Terpopuler