Menyikapi Pakta AUKUS, Indonesia Harus Segera Berpihak

Pembentukan Pakta AUKUS membuat Indonesia di persimpangan ketegangan politik kawasan. Sinyal-sinyal diplomatik mengindikasikan Indonesia lebih condong ke Aliansi Barat ketimbang Tiongkok
Image title
17 September 2021, 16:38
ketegangan politik, aukus,
Kementerian Luar Negeri
Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi, Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto, Menteri Luar Negeri Australia Marise Payne serta Menteri Pertahanan Australia Peter Dutton saat menggelar pertemuan 2+2 Meeting antara Australia dan Indonesia, Kamis (9/9).

Indonesia diperkirakan harus segera memilih antara Cina atau aliansi kekuatan Barat seiring dengan meningkatkan tensi ketegangan politik di kawasan Indo-Pasifik. 

Pembentukan pakta AUKUS yang diinisiasi oleh Amerika Serikat, Inggris, dan Australia membuat Indonesia berada di persimpangan dua kekuatan besar. Pengamat Militer Ade Muhammad mengatakan Inggris sudah menegaskan tidak akan menerima posisi netral. Artinya, negara-negara terkait termasuk Indonesia harus mendukung atau menentang karena sikap non-blok justru akan dianggap sebagai lawan. 

“Indonesia memang sudah saatnya mengakhiri politik non-blok yang utopis dan tidak realistis dalam kondisi dunia yang semakin kompleks serta dinamis,” ujarnya kepada Katadata, Jumat (17/9).

Ade melanjutkan pada saatnya Indonesia harus memilih apakah beraliansi dengan kekuatan AUKUS atau bergabung dengan Tiongkok dan Rusia. Hal ini tentu membutuhkan perhitungan politik strategis yang matang.

Kendati demikian, Ade melihat Indonesia mulai lebih condong kepada kekuatan Barat. Salah satu gestur diplomatiknya adalah dengan latihan perang Garuda Shield besar-besaran yang digelar oleh TNI Angkatan Darat beberapa waktu lalu. Indonesia juga baru saja memperluas kerjasama pertahanan dan keamanan dengan Australia, di mana salah satu hasilnya berupa hibah kendaraan taktis ke TNI AD.

“Ini semacam sinyal diplomatik ke Beijing bahwa Jakarta bersama kami [aliansi Barat] sekarang,” tegas Ade.

Keputusan Australia membentuk aliansi pertahanan dengan Inggris dan Amerika Serikat membuat telah membuat Beijing murka. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina Zhao Lijian menyebut perjanjian itu merusak perdamaian dan stabilitas regional serta mengintensifkan perlombaan senjata. 

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Indonesia merespons pakta AUKUS masih dengan sangat hati-hati. Dalam keterangan resminya, Kemenlu menegaskan akan mencermati keputusan Australia untuk memiliki kapal selam bertenaga nuklir dengan penuh kehati-hatian. Indonesia juga menekankan pentingnya komitmen Australia untuk terus memenuhi kewajibannya mengenai non-proliferasi nuklir.

“Indonesia sangat prihatin atas terus berlanjutnya perlombaan senjata dan proyeksi kekuatan militer di kawasan,” tulis Kemenlu dalam keterangan resmi. 

Di sisi lain, Indonesia juga mendorong Australia untuk terus memenuhi kewajibannya dalam menjaga perdamaian, stabilitas, dan keamanan di Kawasan sesuai dengan Treaty of Amity and Cooperation. RI berharap Australia dan pihak-pihak terkait lainnya mengedepankan dialog dalam menyelesaikan perbedaan secara damai. 



News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait