Menlu Retno: Nuklir Hanya untuk Tujuan Damai

Ketegangan soal senjata nuklir di regional meningkat seiring rencana Australia mengoperasikan kapal selam bertenaga nuklir dari Amerika Serikat.
Image title
21 September 2021, 13:52
Nuklir, retno marsudi
ANTARA FOTO/REUTERS/Courtesy of Indonesia's Ministry of Foreign Affairs/Handout /WSJ/dj
T. . . S./WSJ/ Menlu Indonesia Retno Marsudi berbicara pada rapat tak resmi secara virtual dengan sejumlah menteri luar negeri dan perwakilan Perbara (ASEAN), di Jakarta, Indonesia, Selasa (2/3/2021).

​Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyerukan penggunaan nuklir untuk tujuan damai dalam pertemuan General Conference ke-65 International Atomic Energy Agency (IAEA) yang dilangsungkan secara virtual pada Senin (20/9).

Retno menegaskan nuklir memang dapat menjadi senjata yang mengerikan. Saat ini perlombaan senjata nuklir masih terus terjadi sehingga dunia masih belum sepenuhnya terbebas dari ancaman senjata nuklir. Kendati demikian, nuklir juga dapat digunakan untuk tujuan-tujuan yang bermanfaat bagi umat manusia. Untuk itu, tiga aspek penting harus dipastikan, yaitu keselamatan, keamanan, dan perlindungan nuklir.

“Kita harus terus mendorong penggunaan nuklir untuk tujuan damai,” kata Menlu RI dalam pernyataannya, Selasa (21/9).

Salah satu aplikasi teknologi nuklir adalah untuk mengembangkan varietas padi yang unggul. Sejak 2013, Indonesia yang diwakili oleh Kelompok Peneliti Pemuliaan Tanaman Pangan (PAIR) bekerja sama dengan IAEA dan Food and Agriculture Organization (FAO) telah mengembangkan 23 varietas padi baru.

Kiprah Indonesia tersebut diapresiasi oleh dunia internasional sehingga mendapatkan penghargaan FAO/IAEA Outstanding Achievement Award sebanyak dua kali, yaitu di 2014 dan 2021.

“Kami merasa terhormat memperoleh FAO/IAEA Outstanding Achievement Award. Penghargaan ini merupakan bentuk pengakuan terhadap dampak sosial ekonomi dari kolaborasi yang kami lakukan dan bukti kontribusi nuklir terhadap pembangunan berkelanjutan” kata Menlu.

Selain itu, teknologi nuklir juga dapat berperan dalam upaya mengatasi pandemi, yaitu untuk mendeteksi varian virus baru dan mencegah terjadinya pandemi di masa depan.
Indonesia berkomitmen untuk terus mendukung IAEA dalam meningkatkan kapasitas ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir negara-negara berkembang melalui kerja sama teknis yang inklusif, termasuk melalui Kerja Sama Selatan-Selatan.

“Mari kita lanjutkan kerja kolektif untuk ‘mempercepat dan memperluas kontribusi energi atom bagi perdamaian, kesehatan, dan kemakmuran’ sebagaimana yang tercantum dalam Piagam IAEA,” kata Menlu.

General Conference (GC) ke-65 IAEA berlangsung tanggal 20-24 September 2021. GC merupakan Konferensi tahunan di Markas PBB Wina sejak tahun 1956 yang diselenggarakan bagi negara-negara anggota IAEA untuk menentukan arah kebijakan IAEA dalam menjamin penggunaan energi dan teknologi nuklir semata-mata untuk tujuan damai.

Kekhawatiran soal penggunaan tenaga nuklir di kawasan Indo-Pasifik meningkat seiring dengan pembentukan Pakta AUKUS oleh Amerika Serikat, Australia, dan Inggris. Salah satu implikasinya adalah Australia akan memiliki kapal selam bertenaga nuklir yang punya daya jelajah lebih jauh.

Kementerian Luar Negeri Indonesia merespons perkembangan tersebut dengan hati-hati. Dalam keterangan resminya, Kemenlu menegaskan akan mencermati keputusan Australia untuk memiliki kapal selam bertenaga nuklir dengan penuh kehati-hatian. Indonesia juga menekankan pentingnya komitmen Australia untuk terus memenuhi kewajibannya mengenai non-proliferasi nuklir.

“Indonesia sangat prihatin atas terus berlanjutnya perlombaan senjata dan proyeksi kekuatan militer di kawasan,” tulis Kemenlu dalam keterangan resmi.

Di sisi lain, Indonesia juga mendorong Australia untuk terus memenuhi kewajibannya dalam menjaga perdamaian, stabilitas, dan keamanan di Kawasan sesuai dengan Treaty of Amity and Cooperation. RI berharap Australia dan pihak-pihak terkait lainnya mengedepankan dialog dalam menyelesaikan perbedaan secara damai.

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait