Indonesia Ternyata Pernah Jadi Eksportir Cip Semikonduktur

Tia Dwitiani Komalasari
8 Desember 2022, 17:18
Indonesia Ternyata Pernah Jadi Eksportir Cip Semikonduktur
Dokumentasi Kementerian Perindustrian
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, Taufiek Bawazier.

Indonesia saat ini bergantung pada impor cip semikonduktor untuk memenuhi permintaan industri dalam negeri yang melonjak. Padahal, sebelumnya Indonesia merupakan negara produsen semikonduktor yang bahkan melakukan ekspor.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, Taufiek Bawazier mengatakan, Indonesia pernah memiliki pabrik semikonduktor pada 1986 silam. Sebagaian produknya diekspor dalam bentuk cip semikonduktor yang nilainya mencapai Rp 135 juta pada masa itu.

Kini, Indonesia tengah berupaya membangun kembali industri semikonduktor. Apalagi saat ini masuk era kecerdasan buatan atau artificial intelligence yang membutuhkan bahan semikonduktor semakin besar.

"Butuh peta jalan 10-20 tahun ke depan tentang industri semikonduktor yang bisa mengisi kebutuhan dalam negeri,” kata Taufiek di Jakarta, Kamis (8/12).

Menurut dia, Kemenperin sedang menyiapkan pusat desain semikonduktor di Bandung, Jawa Barat. “Seluruh universitas dan akademisi akan masuk dalam skema ekosistem tersebut,” ujarnya.

Plt. Direktur Jenderal Industri Kimia Farmasi dan Tekstil Kemenperin, Ignatius Warsito, mengatakan bahwa industri semikonduktor menghasilkan komponen vital dari teknologi di tengah megatrend seperti remote working, kecerdasan buatan atau artificial intelligence dan kendaraan listrik atau electric vehicle.

“Semikonduktor diproduksi sebagai komponen peralatan listrik atau elektronik seperti dioda, integrated circuit (IC) dan transistor,” ujarnya.

Berdampak pada Industri Otomotif

Presiden Direktur PT Astra Visteon Indonesia, Prihantanto Agung, mengatakan rantai pasok semikonduktor global terputus selama pandemi. Hal ini berdampak bagi sektor otomotif di Indonesia. “Ini memukul industri kami,” tuturnya.

Dia mengatakan, harga semikonduktor yang semula sekitar US$ 0,1 melonjak berkali lipat hingga menyentuh US$ 9-25. Di industri ini, produk otomotif tidak akan jalan tanpa semikonduktor. "Terpaksa kami beli. Kalau tidak, industri mobil bisa mati,” ujarya.

Menurut Statistik Perdagangan Semikonduktor Dunia (WSTS) dan Semiconductor Industry Association, penjualan semikonduktor pada 2019 sebesar US$412,3 miliar secara global. Kemudian, pertumbuhan tahunan gabungannya atau compound annual growth rate (CAGR) meningkat pada tahun 2020 sebesar 6,8 persen menjadi US$440,4 miliar pada 2020. 

Penjualan semikonduktor di seluruh dunia kembali meningkat menjadi US$555,9 miliar pada tahun 2021 dengan CAGR sebesar 7,18 persen. WSTS memperkirakan penjualan industri semikonduktor mencapai US$601 miliar pada tahun 2022 dan US$633 miliar pada tahun 2023.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait