Wapres Soroti Surplus Beras yang Turun Setiap Tahunnya

Wapres Ma'ruf Amin menyoroti suprlus beras yang turun setiap tahunnya. Dia berharap Kementerian Pertanian bisa fokus meningkatkan produksi beras.
Tia Dwitiani Komalasari
25 Januari 2023, 13:59
Wakil Presiden Ma'ruf Amin membuka Rapat Kerja Kementerian Pertanian di Jakarta, Rabu (25/1).
Dokumentasi Kementerian Pertanian
Wakil Presiden Ma'ruf Amin membuka Rapat Kerja Kementerian Pertanian di Jakarta, Rabu (25/1).

Wakil Presiden Ma'ruf Amin menyoroti surplus beras yang turun setiap tahunnya. Oleh sebab itu, Kementerian Pertanian perlu fokus pada peningkatan produksi setiap tahunnya.

"Saya minta fokus kita agar jangan hanya pada surplus-nya saja, tetapi juga pada besaran angkanya. Harapannya jumlah surplus terus meningkat dari tahun ke tahun, artinya produksi beras juga meningkat dari tahun ke tahun," kata Wapres Ma'ruf Amin saat membuka Rapat Kerja Nasional di Jakarta, Rabu (25/1).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik atau BPS, Ma'ruf mengatakan, produksi beras selalu surplus setiap tahun. Namun demikian, jumlah surplus beras cenderung menurun dari tahun ke tahun.

"Dari 4,37 juta ton pada 2018 menjadi 1,74 juta ton pada 2022," ujarnya.

Menghadapi kondisi tersebut, Ma'ruf meminta agar Kementerian Pertanian mengidentifikasi komoditas pangan yang tepat dalam menghadapi krisis pangan dunia serta fokus mendorong pengembangannya. Hal itu termasuk penetapan target produksi dan lokasinya.

Tantangan Makin Berat

Dia mengatakan, beban sektor pertanian cukup berat. Sektor ini harus mampu menyediakan pangan bagi lebih dari 275 juta jiwa di Indonesia.

"Ketersediaan pangan dan stabilitas harga pangan menjadi persoalan kritikal yang harus senantiasa dikelola dengan baik, seiring meningkatnya tren pertumbuhan penduduk," ujar Ma'ruf.

Ma'ruf mengatakan, tantangan pangan ke depan semakin berat meskipun inflasi di Indonesia dalam batas terkendali yaitu sebesar 5,51 persen pada Desember 2022. Apalagi belum semua sektor pulih dari pandemi, termasuk produksi dan distribusi pangan global.

"Dampak perubahan iklim dan iklim ekstrem yang sangat sulit diprediksi. Begitu pula tekanan geopolitik dunia yang menyebabkan harga pangan melambung, serta memicu krisis pangan global," kata Ma'ruf.

Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan sektor pertanian menjadi salah satu sektor utama tumpuan ekonomi Indonesia pada 2022. BPS menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2022 mencapai 5,72 persen dengan didukung tiga sektor utama yaitu industri, pertambangan, pertanian yang berkontribusi terhadap PDB mencapai 66,54 persen.

Pertumbuhan PDB menurut lapangan usaha pada sektor pertanian di triwulan 3-2022 tumbuh meyakinkan dengan nilai 1,65 persen (y-on-y), dengan andil kontribusi PDB sektor pertanian mencapai 12,91 persen. Pertanian sejauh ini juga menjadi sektor paling banyak menyerap tenaga kerja yaitu sebesar 28,61 persen.

United States Department of Agriculture (USDA) memproyeksikan produksi beras global mencapai 503,27 juta metrik ton (MT) pada musim 2022/2023, turun 11,78 juta MT (2,29%) dari musim 2021/2022.

Pada musim ini Tiongkok menjadi negara penghasil beras terbesar, yaitu 147 juta MT. Wilayah penghasil beras utama Tiongkok adalah Hunan (13%), Jiangxi (10%), Juangsu (9%), Anhui (8%), dan Hubei (8%).

Adapun Indonesia menjadi produsen beras terbesar keempat di dunia, sekaligus nomor satu di Asia Tenggara dengan estimasi produksi 34,6 juta MT pad musim 2022/2023.

 

Reporter: Antara
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait