Peneliti Inggris Temukan Kerusakan Otak pada Pasien Covid-19

Kerusakan otak seperti stroke paling banyak dialami pada pasien berusia di atas 60 tahun.
Yuliawati
26 Juni 2020, 16:51
peneliti inggris, covid-19, stroke
ANTARA FOTO/REUTERS/Anushree Fadnavis/aww/cf
Tenaga kesehatan membawa jenazah seorang warga yang meninggal dunia akibat virus Covid-19 di sebuah krematorium di New Delhi, India, Rabu (24/6/2020).

Sebuah penelitian awal terhadap pasien virus corona atau Covid-19 yang dirawat di rumah sakit menunjukkan penyakit ini merusak otak yang menyebabkan komplikasi seperti stroke, peradangan, psikosis dan gejala mirip demensia. Temuan ini memberikan gambaran penting mengenai komplikasi pada otak pasien Covid-19.

Peneliti menekankan perlunya penelitian yang lebih luas demi mengetahui cara kerja komplikasi serta membantu menemukan pengobatan yang tepat.

"Temuan ini penting karena kami terus mengumpulkan informasi semacam ini demi memahami sepenuhnya cara kerja virus," kata salah satu ketua riset, Sarah Pett, seorang profesor di University College London dikutip dari Reuters, Jumat (26/6).

(Baca: Menelusuri Asal Teori Konspirasi 5G dan Corona, Serta Kebenarannya)

Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Lancet Psychiatry, Kamis (25/6), dengan meneliti terhadap 125 pasien kasus Covid-19 di Inggris. Ketua peneliti lainnya, Benedict Michael dari Liverpool University mengatakan mereka memfokuskan penelitian terhadap penderita Covid-19 dengan gejala sakit parah.

Peneliti mengumpulkan data antara 2 April dan 26 April 2020 ketika kasus Covid-19 meningkat secara eksponensial di Inggris.

Para pasien paling banyak mengalami stroke yakni sebanyak 77 orang yang sebagian besar berusia di atas 60 tahun. Sebagian besar stroke disebabkan oleh penyumbatan darah di otak, dikenal dengan stroke iskemik.

Kajian itu juga menemukan 39 pasien menunjukkan tanda-tanda linglung atau perubahan tingkah laku yang mencerminkan perubahan kondisi mental atau pikiran seseorang. Dari 39 orang itu, sembilan di antaranya mengalami disfungsi atau kegagalan fungsi otak yang tidak spesifik atau dikenal dengan istilah ensefalopati. Sementara itu, tujuh di antaranya mengalami peradangan otak atau ensefalitis.

(Baca: Peneliti Inggris: Penggunaan Masker dapat Cegah Gelombang Kedua Corona)

Advertisement
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait