Ahli Epidemiologi Sebut Efikasi Vaksin Sinovac Masih Bisa Berubah

Meski dapat berubah, efikasi Sinovac tidak akan turun di bawah 50%.
Image title
19 Januari 2021, 14:20
vaksin covid-19, vaksinasi, pandemi corona, virus corona
ANTARA FOTO/Rony Muharrman/wsj.
Vaksinator bersiap untuk menyuntikkan vaksin COVID-19 Sinovac ke tenaga kesehatan di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik (RSUP HAM) Medan di Kota Medan, Sumatera Utara, Selasa (19/1/2021).

Tingkat efikasi vaksin virus corona buatan Sinovac diperkirakan masih bisa berubah. Namun, perubahan vaksin Covid-19 tersebut tidak akan berbeda jauh dibandingkan efikasi sebelumnya.

Berdasarkan hasil uji klinis di Indonesia, efikasi vaksin Sinovac sebesar 65,35%. Sedangkan Brasil sempat menyatakan efikasi Sinovac sebesar 78%, kemudian berubah menjadi 50,4%. Kemudian, efikasi Sinovac di Turki mencapai 91,25%.

"Kalau ada perubahan, angkanya tidak signifikan. Bisa meningkat menjadi 70%, bisa kembali ke 65%," kata ahli epidemiologi dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman dalam sebuah webinar, Selasa (9/1).

Hingga saat ini proses uji klinis fase tiga vaksin Sinovac belum selesai di Indonesia. Namun, vaksin asal Tiongkok itu sudah melewati proses pengamatan selama tiga bulan sehingga bisa mendapatkan izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Meski dapat berubah, Dicky memastikan efikasi Sinovac tidak akan turun di bawah 50%. Dari uji klinis di tiga negara yakni Indonesia, Brasil, dan Turki, efikasi di atas 50% sesuai dengan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Ia pun meminta masyarakat untuk tidak mengkhawatirkan perbedaan efikasi vaksin di tiga negara. Apalagi, vaksin Sinovac telah melalui uji klinis fase 1 dan fase 2 yang menunjukkan tidak ada isu keamanan serius. "Jadi ini sama-sama punya manfaat, tak ada yang di bawah 50%," ujar dia.

Namun, Dicky mengingatkan bahwa uji klinis Sinovac belum membuktikan pencegahan penularan Covid-19. Sebab, pembuktian hal tersebut membutuhkan riset dalam jangka waktu serta lebih kompleks.



Oleh karenanya, ia mengingatkan agar vaksin Covidd-19 tidak menjadi ujung tombak dalam memutus rantai pandemi. Penerapan protokol kesehatan tetap harus dilakukan meski telah mendapatkan vaksin virus corona.

"Tempatkan vaksin sesuai porsi karena dengan adanya vaksin, kita bisa mencegah sebagian kasus saja. Kemudian mecegah kesakitan dan kematian," katanya.

Sebelumnya, farmakolog dari Universitas Gadjah Mada Zullies Ikawati mengatakan, dengan efikasi 65% secara populasi akan sangat bermakna dan memiliki dampak berantai yang panjang.

Jika diasumsikan 270 juta populasi Indonesia dan tingkat risiko terinfeksi sebesar 7,2%, maka bakal ada 19,4 juta penduduk terinfeksi. Dengan efikasi sebesar 65,3% maka vaksinasi dapat mencegah 12,7 juta kasus positif. Hal ini dapat menghindari makin meluasnya pandemi serta mengurangi beban fasilitas kesehatan.

Meski sudah ada program vaksinasi, masih ada risiko penularan. Perlu diketahui pula bahwa tingkat efikasi tidak serta merta menunjukkan tingkat efektivitas vaksin.

Persoalannya, efikasi diperoleh dari hasil uji klinik, sedangkan efektivitas berasal dari kegiatan di dunia nyata. Efektivitas pun dipengaruhi banyak hal, seperti kondisi penyakit penerima vaksin, obat-obatan yang diminum, dan lain-lain.

 

Reporter: Rizky Alika
Editor: Yuliawati

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait