Huawei Sasar Startup untuk Kembangkan Bisnis Cloud di RI

Huawei masuk ke bisnis cloud karena bisnis ponsel pintar tertekan akibat kebijakan Amerika.
Image title
8 September 2021, 12:02
Huawei, startup, cloud
123RF.com
Huawei membuat beberapa program untuk startup dalam memperkenalkan layanan cloud mereka.

Raksasa teknologi asal Tiongkok Huawei tahun ini gencar mengembangkan bisnis komputasi awan (cloud) seiring dengan anjloknya bisnis ponsel pintar atau smartphone. Di Indonesia, Huawei tengah menyiapkan sejumlah strategi, seperti menyasar pasar startup dan kolaborasi.

Chief Digital Officer, Cloud APAC Huawei Leo Jiang mengatakan, rencana Huawei masuk ke bisnis cloud tujuannya untuk memperluas ekosistem. "Cloud dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) adalah fokus baru kami," kata Leo dalam acara Wild Digital Indonesia, pada Rabu (8/9).

Dikutip dari South China Morning Post, pendiri Huawei Ren Zhengfei juga sempat mengatakan kepada para stafnya bahwa cloud akan menjadi prioritas perusahaaan pada 2021. Namun, ia menegaskan bahwa langkah ini bukan untuk menyaingi Alibaba, Microsoft maupun Amazon. Ini untuk mengurangi skala tekanan pada lini bisnis smartphone oleh Amerika Serikat (AS).

Akibat tekanan itu, bisnis smartphone Huawei memang anjlok. Canalys mencatat, Huawei terlempar dari posisi lima besar pangsa pasar ponsel global pada kuartal I 2021. Perusahaan hanya mengirimkan 18,6 juta unit pada kuartal pertama tahun ini.

Padahal, selama kuartal III tahun lalu, Huawei menempati pangsa pasar terbesar kedua mengalahkan Apple. Huawei berhasil mengirim 51,7 juta ponsel, dengan 14,9% pangsa pasar saat itu.

Leo mengatakan, Huawei juga akan memperluas pangsa pasar cloud di sejumlah negara, termasuk Indonesia. Ada sejumlah strategi yang disiapkan Huawei untuk merambah pasar cloud tersebut.

Pertama, Huawei menyasar segmen startup. "Mitra kami di Asia Tenggara adalah startup," kata Leo.

Huawei menyasar startup karena potensinya besar. Transaksi startup melonjak saat pandemi Covid-19 seiring masyarakat yang beralih ke layanan digital guna menghindari penularan virus corona. Startup juga banyak yang beradaptasi dengan cepat didukung teknologi komputasi awan atau cloud.

Untuk menyasar pasar startup, Huawei misalnya membuat program akselerasi Huawei Spark. "Ini untuk up scale startup. Kami juga berikan pendanaan," ujarnya.

Huawei mencatat 100 startup di dunia mengikuti program tersebut. Kemudian, 1.000 startup yang diinkubasi.

Kedua, peningkatan kemampuan talenta digital di bidang cloud. Raksasa teknologi Tiongkok itu misalnya, bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melatih 400 lebih pegawai dengan materi AI, cloud, 5G, dan maha data (big data) pada akhir tahun lalu.

Pada tahun lalu, Huawei juga menyediakan 1.000 akun Huawei Cloud E-Learning Service bagi 500 perguruan tinggi Indonesia.



Strategi ketiga, kolaborasi dengan berbagai ekosistem. "Dalam ekonomi digital, kolaborasi sangat penting," katanya. Leo mengatakan, sejumlah kolaborasi yang ingin terus dijajal Huawei, seperti dengan pemerintah, perguruan tinggi, hingga perusahaan di berbagai sektor.

Namun, di pasar Indonesia, Huawei mesti bersaing dengan raksasa teknologi global yang juga gencar mengembangkan cloud. Anak usaha Amazon, Amazon Web Service (AWS) misalnya, berencana membangun tiga pusat data (data center) di Indonesia pada akhir tahun atau awal 2022 untuk mengembangkan bisnis cloud.

Advertisement

Kemudian, Microsoft Corporation. Raksasa teknologi ini juga berencana menanamkan modal US$ 1 miliar atau setara hampir Rp 13,6 triliun untuk membangun pusat data di Indonesia.

Alibaba Cloud bahkan telah membangun dua pusat data di Tanah Air pada 2018 dan 2019. Country Manager Alibaba Cloud Indonesia Leon Chen mengatakan, permintaan layanan cloud di Tanah Air terus meningkat. Alibaba pun berkomitmen menginvestasikan US$ 28 miliar atau sekitar Rp 435 triliun untuk pengembangan layanan cloud selama tiga tahun.

Perusahaan Indonesia juga turut serta dalam persaingan bisnis cloud. PT DCI Indonesia Tbk meresmikan pusat data (data center) keempat di Cibitung pada Mei lalu (27/5). Fasilitas DCI yang diberi nama Gedung JK5 itu memiliki kapasitas listrik 15 MW. Total, DCI mempunyai kapasitas 37 MW untuk keempat pusat data.

 

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait