Riset: Bisnis Cloud di Asia Tenggara Potensi Besar Kerek Pendapatan
Perusahaan-perusahaan di Asia Tenggara yang menyediakan layanan produk dan layanan digital akan menghasilkan lebih dari 15% pendapatan global pada 2023. IDC (International Data Corporation) memprediksi peluang yang besar pada pertumbuhan bisnis cloud di Asia Tenggara.
"Satu dari tiga perusahaan akan menghasilkan lebih dari 15% pendapatan dari produk dan layanan digital," bunyi siaran pers IDC, dikutip Jumat (26/8).
Persentase pendapatan itu meningkat dari hanya satu dari enam perusahaan di tahun 2020. IDC adalah penyedia global utama intelijen pasar, layanan konsultasi, dan acara untuk teknologi informasi, telekomunikasi, dan pasar teknologi konsumen.
Dalam upaya mendorong ekonomi digital, banyak perusahaan di Asia Tenggara yang mengandalkan data dalam pengambilan keputusan. Selain itu mereka juga gencar melakukan akselerasi layanan digital, beroperasi secara otonom atau tanpa campur tangan manusia, mengutamakan kualitas pada seluruh interaksi dengan pelanggan (omni-experience), dan modernisasi rantai pasokan.
Untuk meningkatkan pendapatan dari produk dan layanan digital ini, perlu meningkatkan peran teknologi cloud bagi kelangsungan dan ketahanan bisnis organisasi-organisasi di Asia Tenggara. Hal ini dilakukan untuk bersaing di dunia yang mengutamakan digital.
Prediksi IDC pada WW Public Cloud Services Tracker 2021 mengenai besarnya pasar layanan publik cloud di seluruh Asia Tenggara diperkirakan akan tumbuh dan mencapai US$ 11 miliar atau Rp 162,6 triliun pada 2025. Dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) lima tahun sebesar 21,5%.
Pandemi Covid-19 juga turut berdampak pada semakin banyaknya perusahaan yang memindahkan beban kerja bisnis (mission-critical workloads) mereka ke publik cloud. Pemerintah di negara-negara Asia Tenggara juga membuka kesempatan bagi para pelaku industri yang sudah teregulasi seperti finansial, asuransi, layanan kesehatan, sektor publik, energi, telekomunikasi, dan manufaktur untuk mengadopsi penggunaan publik cloud.
Proses adopsi hybrid dan multicloud juga semakin cepat karena perusahaan memiliki akses ke produk-produk yang lebih baik untuk melakukan integrasi data dan interoperabilitas aplikasi pada beberapa cloud.
IDC Future Enterprise Resiliency & Spending 2022 Survey – Wave 5 (2022) juga menunjukkan bahwa lebih dari 60% organisasi di Indonesia, Malaysia, dan Singapura telah memprioritaskan program-program yang terkait dengan ketahanan infrastruktur digital. Hal ini dilakukan untuk merespon kondisi yang serba tidak pasti akibat ketegangan geopolitik, inflasi, gangguan rantai pasokan, dan usaha penanggulangan pandemi COVID-19 yang masih berlangsung.
Selanjutnya, menurut IDC Asia/Pacific Cloud Survey 2021, sebanyak 76% organisasi di Asia-Pasifik menunjukkan indikasi akan melakukan peningkatan layanan cloud dalam 12 bulan mendatang.
Peningkatan sebesar 81% ditunjukkan organisasi-organisasi di Indonesia, 86% di Malaysia, 88% di Filipina, dan 92% di Thailand. Angka-angka tersebut menunjukkan peningkatan penggunaan layanan cloud yang lebih tinggi dari angka rata-rata regional.
Research Manager IDC Thailand Prapussorn Pechkaew mengatakan akan ada lebih banyak perusahaan yang akan mencari cara untuk merancang strategi cloud mereka, sekaligus cara untuk menggunakan layanan cloud secara lebih efektif. Hal ini dilakukan “seiring dengan perkembangan layanan cloud pada berbagai sektor industri di kawasan Asia Tenggara,” katanya.
Prapussorn mengungkapkan salah satu perhatian utama di tingkat global dalam pemanfaatan cloud. Ialah “kemampuan untuk memantau biaya penggunaan cloud dan penggunaan metode pengukuran yang tepat untuk mengontrol pengeluaran berlebih,” katanya. “Membangun kemampuan di sekitar area ini akan bermanfaat untuk memajukan layanan cloud dalam aktivitas dan lingkungan yang lebih matang”.
Menurut survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS), baru ada sekitar 30% lembaga publik di Indonesia yang menggunakan teknologi komputasi awan (cloud computing).
Adapun di antara berbagai jenis lembaga publik yang disurvei, pemerintah pusat memiliki tingkat adopsi teknologi cloud tertinggi dibanding pemerintah daerah, universitas, dan rumah sakit.
Survei CSIS juga menemukan penggunaan layanan cloud dapat memberi beragam manfaat bagi lembaga publik, salah satunya efisiensi biaya. Berikut grafik Databoks:
