Penggunaan Energi Fosil Naik, Bauran EBT Susut 0,3% pada Kuartal III

Kementerian ESDM menyebutkan realisasi dari bauran EBT turun bukan karena pembangkit EBT yang berkurang.
Image title
22 Oktober 2021, 15:50
EBT, energi fosil
ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/foc.
Kendaraan melintas dengan latar gedung bertingkat di kawasan Mampang, Jakarta, Jumat (4/6/2021).

Upaya pemerintah untuk mengejar target bauran energi baru dan terbarukan (EBT) sebesar 23% pada 2025 tidaklah mudah. Porsi bauran dari EBT setahun belakangan bukannya bertambah malah justru menyusut.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan realisasi dari bauran EBT pada 2020 mencapai 11,2%. Namun, hingga kuartal ketiga 2021 realisasinya justru turun menjadi 10,9%.

Dadan menjelaskan kondisi ini bukan lantaran pembangkit EBT yang berkurang. Namun, karena terjadi kenaikan penggunaan energi fosil. "Ada kenaikan dari sisi pembangkit listrik basis fosil, bukan karena EBT berkurang," kata Dadan dalam Konferensi Pers Capaian Kinerja Triwulan III 2021 dan Isu-Isu Terkini Subsektor EBTKE, Jumat (22/10).

Adapun dalam kurun waktu lima tahun terakhir, penambahan kapasitas pembangkit EBT sebesar 1469 megawatt (MW) dengan kenaikan rata-rata 4% per tahun. Sedangkan tambahan kapasitas pembangkit listrik EBT dari Januari hingga September 2021 realisasinya telah mencapai 386 MW. "Target tahun ini 855 MW. Akan ada pembangkit di akhir tahun ini 11,3 GW basis EBT," ujarnya.

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, bauran energi untuk pembangkit listrik hingga Juni 2021 masih didominasi oleh batu bara yakni 65,30%, kemudian gas (17,86%), air (7,05%), panas bumi (5,61%), BBM dan BBN (3,81%), biomassa (0,18%), dan sisanya EBT lain 0,18%.

"Ini besaran bauran energi di sektor pembangkit listrik hingga Juni 2021. Bukan kapasitas terpasang, tapi realisasi produksi listriknya," ujar Direktur Pembinaan Pengusahaan Ketenagalistrikan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Ida Nuryatin Finahari.



Sebelumnya, Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan potensi energi terbarukan di Indonesia masih cukup besar. Namun kontribusi EBT dalam bauran energi nasional masih belum termanfaatkan secara optimal

"Pada 2020 kontribusi EBT kita mencapai 11% dan kita punya target 2025 bisa capai 23%. Target ini cukup berat karena saat ini kita mengalami dampak dari pandemi Covid-19," ujar dia beberapa waktu lalu.

Apalagi dari tahun ke tahun persentase bauran EBT tidak mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Hal tersebut tercermin dari besarnya potensi EBT yang mencapai total 417,8 gigawatt (GW), tapi kapasitas terpasangnya pada tahun lalu baru mencapai 10,4 GW.

Reporter: Verda Nano Setiawan
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait